Tanjungpandan (WP), Sejumlah ibu tampak tersenyum mengendong piagam trophy, simbol prestasi dari rangkaan perlombaaan. Prestasi perempuan memang bukan sekedar memenangkan perlombaan yang diselenggarakan PKK saja. Perempuan hendaknya dapat mewujudkan rasa syukur atas potensi yang dimiliki dengan sikap, tindakan dan karya positif untuk membangun setiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, utamanya dalam mengisi pembangunan di Belitung ke arah yang lebih baik dan semakin berkualitas dari waktu ke waktu.

Peningkatan kualitas inilah yang seharusnya dijadikan filosofi dan kerangka pikir dalam menentukan setiap arah kebijakan pada setiap bidang, termasuk bidang sosial kemasyarakatan yang menjadi fokus program Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Hal ini menjadi sangat penting untuk dilakukan, mengingat esensi gerakan PKK sebagai kelompok kerja sekaligus sebagai wadah aktifitas bagi keluarga, utamanya kaum ibu agar dapat mendukung seluruh proses pembangunan.Terkait dengan semangat filosofis tersebut, ada 2 hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu: Peningkatan Kompetensi Diri dan Citra Kaum Ibu yang menjadi motor penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

Tidak dapat dipungkiri bahwa budaya yang terbentuk dan berkembang di masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung telah menempatkan laki-laki pada posisi yang dominan sebagai pencari nafkah dan pemimpin keluarga. Karena itu, tingkat kesejahteraan keluarga sangat ditentukan oleh kaum laki-laki sebagai tulang punggung dari sebagian besar keluarga di Indonesia. Dengan demikian muncul asumsi bahwa dengan adanya nafkah yang banyak dari usaha suami, maka kesejahteraan dapat tercapai.

Asumsi ini tidak sepenuhnya benar, karena kesejahteraan dalam rumah tangga tidak selalu ditentukan oleh jumlah materi yang didapat. Namun, hal yang paling menentukan adalah pengelolaan (manajemen) kehidupan rumah tangga yang baik. Tugas manajerial ini umumnya dilakukan oleh kaum ibu. Karena itulah, seorang ibu dituntut untuk selalu meningkatkan dan mengembangkan kompetensi diri agar dapat menjadi manajer yang baik, dengan senantiasa memperbaharui pengetahuan dan wawasan tentang berbagai hal, termasuk isu-isu yang sedang berkembang di masyarakat.

Contoh kongkrit dari relevansi komponen-komponen ini adalah bagaimana seorang ibu mengatur pengeluaran atau belanja keluarga ditengah krisis yang melanda dunia saat ini, namun tetap mengedepankan gizi dan kesehatan keluarganya.

Faktor kedua yang harus diperhatikan adalah terkait dengan citra ibu dan kelembagaan organisasi Wanita (PKK). Peran wanita, khususnya kaum ibu dalam pembangunan memiliki tempat istimewa. Ibu adalah muara dari segala kebaikan, lambang kasih sayang dan penentu kualitas keluarga melalui bimbingan budi pekerti yang baik kepada putera-puteri. Para generasi penerus bangsa. Ironinya, tak jarang dijumpai pula pencitraan ibu yang sebaliknya, padahal ibu adalah teladan bagi pengembangan konsep diri, karakter dan kepribadian anak yang paling dekat.

Oleh sebab itu, hendaknya secara personal kesadaran terhadap citra diri yang positif ini harus senantiasa dijaga dan dipertahankan. Secara institusional, citra ibu-ibu dalah organisasi PKK juga harus dijaga, karena PKK adalah suatu kelompok kerja bukan kelompok-kelompok lainnya yang bersifat negatif. PKK juga merupakan wadah para ibu beraktifitas dan memberikan karya terbaik untuk mendukung pembangunan. Karena itu, peran dan tugas ini hendaknya kembali didudukkan pada tempat yang sebenar-benarnya. Hal ini disampaikan Bupati Belitung Ir.Darmansyah Husein dalam sambutan peringatan Puncak di Ruang Serbaguna Setda Kabupaten Belitung, Rabu, 28 Januari 2009.

Eksistensi dan citra PKK dengan ibu-ibu penggeraknya dapat dianalogikan atau diibaratkan sebagai vas bunga keramik yang sarat dengan dengan nilai-nilai seni, bercita rasa tinggi, dan penuh nilai estetika. sekaligus memiliki nilai pragmatis untuk menyimpan bunga warna-warni yang indah pula. Bila vas keramik tersebut pecah, maka bunga tersebut juga akan kehilangan keindahannya. Dengan kata lain, bila citra PKK buruk, maka musnahlah harapan yang ditumpukan pada ibu-ibu dalam wadah PKK sebagai pendorong pembangunan.

“Titik ekstrimisme analogi vas bunga keramik tersebut, hanyalah salah satu cara pandang sederhana agar kita senantiasa bersikap bijak dan bekerja dengan keikhlasan serta mawas diri tentang bagaimana menyikapi hidup dan kehidupan di tengah tantangan zaman” ujar Ir.Darmansyah Husein.

Dalam kesempatan ini, Bupati Belitung Ir,Darmansyah Husein menyerahkan sejumlah piagram dan trophy bagi pemenang lomba. Tampak hadir sejumlah unsur Muspida, pejabat dilingkungan pemerintah Kabupaten Belitung , Camat Selat Nasik, Camat Membalong Anas Nasito,SH, Camat Tanjungpandan Azhar,SIP, Camat Badau Aidin Dahri,SIP (Zakina)