Tanjungpandan (WP), Pemilih akan meninggalkan Partai Demokrat dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) jika dampak krisis ekonomi global tidak bisa diatasi. Demikian kesimpulan hasil Survei Lembaga Survei Indonesia (LSI), sebagaimana yang dilansir oleh Media Indonesia Senin, 5 Januari 2009.

Menurut Saiful Mujani, Direktur Eksekutif LSI, selama empat tahun terakhir, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja SBY sangat fluktuatif dan hal itu berhubungan erat dengan keterpilihannya. Ketidakpuasan publik terhadap kinerja SBY dapat menjatugkannya untuk tidak dipilih kembali sebagai presiden.

Saat ini pemilih Indonesia didominasi kelompok pemilih rasional yang memilih figur calon presiden atau partai yang berkaitan dengan kepentingan praktis mereka. Rasionalitas pemilih berkaitan erat dengan evaluasi pemilih terhadap kondisi ekonomi nasional secara umum.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Saiful, “Bila pemilih menilai keadaan ekonomi lebih baik, maka pemilih cenderung akan memilih partai yang berkuasa, dan sebaliknya jika tidak membaik, maka akan memilih untuk oposisi”.

Dalam empat tahun menjabat Presiden, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja SBY sangat fluktuatif. Kepuasan tertinggi dicapai pada saat SBY terpilih pada tahun 2004. Penurunan paling tajam ditemukan pada Juni 2008, saat kepuasan kepada SBY dibawah 50%. Namun, menjelang akhir tahun 2008, kepuasan terhadap kinerja SBY mulai naik kembali mencapai angka 69%.

Banyak pengamat politik menilai, kepuasan masyarakat terhadap kinerja SBY yang fluktuatif perlu diwaspadai, terlebih pada 2009 diperkirakan Indonesia akan mengalami dampak krisis global yang terus meningkat hingga 100 hari ke depan. Dengan keadaan ini, bila pemerintahan SBY tidak cukup berhasil dalam program-program sosial untuk membendung dampak krisis, maka SBY dan Partai Demokrat terancam ditinggalkan masyarakat pada Pemilu 2009.

Dengan kata lain, kesimpulan hasil survei ini menegaskan bahwa Partai Demokkrat dan SBY akan gagal bila akibat krisis global itu terjadi, yang ditandai dengan sejumlah permasalahan seperti tingkat pengangguran yang meningkat cukup tajam, daya beli untuk kebutuhan pokok menurun, biaya pendidikan dan biaya kesehatan yang makin tak terjangkau. (Zakina).