Tanjungpandan (WP), Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) Kabupaten Belitung Maiya Hasibiuan,SH menugaskan empat petugas yang tergabung dalam Tim Verifikasi untuk melakukan pengukuran parmeter lingkungan terhadap kualitas air di tempat pemandian umum di Dusun Aik Rembikang, Desa Air Seru.

Ditengarai pencemaran air di pemandaian ini berasal dari erosi akibat pembukaan lahan sawit pada saat hujan turun atau disebut limpasan (run off). Lahan sawit ini sendiri adalah milik perorangan, pengusaha Hendra Wiajaya (Aming).

Setiap aktivitas usaha seperti perkebunan perlu melakukan kajian mengenai dampak lingkungan. Untuk meminimalisir dampak aktivitas perkebunan terhadap air tanah permukaan maka perlu dibangun kolam pengendapan (dipping pond) agar erosi yang dikhawatirkan meluber diluar areal perkebunan dapat dicegah. Pemilik perkebunan sebenarnya sudah membangun kolam pengendapan tetapi tidak permanen dan dangkal. Karena dangkalnya kolam dan tidak adanya drainase (saluran air pengendali) mengakibatkan limpasan pada saat hujan turun hingga mencemari pemandian warga. Sungai Aik Rembikang itu sendiri sudah digunakan sebagai tempat pemandian jauh sebelum adanya pembukaan lahan perkebunan.

Menurut petugas Tim Verifikasi Bapedalda, Mardi Smolik,MSi pada awal pembukaan lahan sawit memang ada pro dan kontra. Pihak Pemerintah Desa Air Seru hingga saat ini belum mengeluarkan rekomendasi terkait dengan perizinan usaha perkebunan sawit . Kasus pencemaran sendiri telah dilaporkan ke Pemerintah Kabupaten Belitung melalui Bapedalda oleh Kadus Air Rembikang.

Berdasarkan Perda Nomor 18 tahun 1995 tentang tata ruang disebutkan sempadan sungai minimal 50 meter untuk sungai kecil. Sedangkan jarak areal perkebunan dengan areal pemandian warga bervariasi antara 5 – 10 meter (fithrorozi)