dscn8792Tanjungpandan (WP), Saeb Kecuai (65) guru TPA Desa Terong mengjahr sejak Tahun 2005. Kakek 14 cucu itu sudah terlalu lama berkecimpung dalam pendidikan keagamaan bahkan sejak masih bekerja sebagai Satpam di PT.Timah “ Sejak tahun 1985 saya mengajar di Madrasah Al-Khairiyah, kalau dibandingkan sekarang sebenarnya saya ini sudah kadaluarsa ” ujar Saeb. Saat itu kondisi madrasah tidak terurus ungkapnya mengenang suka duka mengembangkan pendidikan agama di kampung, Dulu hampir setiap rumah selalu ada kegiatan belajar Al-Qur’an. Tetapi dengan dua TPA disini (Bebute dan Terong) hanya ada 65 murid, 35 anak belajar di TPA Fathul Jannah –Terong dan 30 anak belajar di TPA Miftaus Sa’diah-Bebute. Sekarang dari 7 rumah hanya 1 murid yang belajar di TPA.

Kehidupan agama dan Budaya pada saat itupun saling mendukung. “ Kalok gawai dak ade kembang tule itu gawai kecik, kalok ade kembang teluk pasti ade urang betamat” ujar Saeb. Kembang teluk merupakan rangkaian telur rebus yang dibungkus, dihias digantung dengan lidi pohon kabung. Mereka yang menitip telur berharap lidi gantungan akan menjadi berkah dalam mendidik anak mereka dengan lidi bunge teluk sebagai penunjuk huruf Al-Qur’an.

Ditemui wartapraja saat sedang mengantri di Kantor Bagian Sosial Setda Kabupaten Belitung, sejak dua tahun terakhir Saeb bersama 400 guru TPA lainnya merasa bersyukur, setiap enam bulan mereka menerima Rp 570 ribu per orang setelah dipotong pajak sebesar Rp.30.000. Mungkin karena itu banyak lulusan Sekolah Madrasah Aliyah kurang berminat menjadi guru ngaji, jelas Saeb. Honor ini hanyalah bantuan pemerintah, tapi soal tanggung jawab mendidik sebetulnya tugas kita bersama, ujar kakek Saeb yang tidak terlalu peduli besaran honor . Tentunya penghasiln ini tidak bisa dijadikan patokan, anggap saja ini pengabdian itu yang terpenting. Nurlaila misalnya, selain berfesi sebagai guru SD, dirinya mengajar di TPA ALHijirah namun hingga saat ini belum terdaftar dan mendapat honor dari pemerintah. Pemberitahuan honor biasanya diterima guru TPA melalui pemberitahun telpon atau surat ke TPA masing-masing.

Bulan yang lalu (29/11) pak Ucu Sobimilsi,SAG dari Departemen Agama Kabupaten Belitung pernah menjanjikan jika banyak murid TPA mengikuti ujian, honor gurunya akan dinaikan dari Rp.100 ribu menjadi Rp.125 ribu hingga Rp.150 ribu, ungkap Saeb menirukan janji Pak Ucu. Menurut Saeb wisuda santri beberapa waktu yang lalu hanya 50% dari total murid yang tersebar pada 93 TA di Kabupaten Belitung. Rendahnya peserta ujian ini mungkin karena guru TPA kurang memotivasi siswa. (fithrorozi)