Oleh Sadeli Ilyas

Umumnya, orang suka beranggapan bahwa dia cukup mengenal dirinya. Memang, siapakah yang lebih mengenal diri selain diri kita. Karena anggapan inilah, orang selalu tidak mau mempelajari tentang diri alias introspeksi diri.

Dalam sebuah literatur, Imam Al Gazali menulis “Kenalilah dirimu, niscaya engkau akan mengenal Rabb-mu”. Artinya, setelah kita mengenal diri, dalam pengetian dari mana datangnya diri, mau kemana diri, maka dengan begitu kita akan mengenal Rabb (Pencipta) kita, menjalankan perintahNya, lantas kita pun ditetapkan untuk mengenal dan berkomunikasi dengan diri orang lain. Akan tetapi, sebelum kita mengenal diri orang lain wajib kita mengenal diri atau mempelajari tentang diri dengan tujuan memperbaiki diri.

Makna mengenal diri adalah mempelajari tentang kekurangan diri dalam pengertian menyadari eksistensi manusiawi secara holistik, bahwa ia itu hidup dan eksist di tengah-tengah orang lain, dan bahkan hidup dalam alam dan lingkungan makhluk lain. Oleh karena itu, ada yang berpendapat bahwa seseorang baru dikatakan benar-benar hidup setelah ia benar-benar pula mengetahui dan menyadari dan siapa dirinya, dan apa tujuan hidup di tengah alam ini.

Proses pengenalan diri atau introspeksi diri merupakan suatu bimbingan atau pendidikan, dikategorikan sikap yang bertanggung jawab. Hal demikian dapat dirunungkan dalam kehidupan sehari-hari, bekerja atau berinteraksi sosial dengan orang-orang di lingkungan kita dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup. Ternyata, apa yang perbuat tidak selalu dapat diterima orang lain, sementara kita beranggapan sudah bernilai maksimal.

Untuk itu kita seyogianya mempertanyakan apa yang dikatakan orang lain tentang diri kita, baik itu sikap, kemampuan, ideologi, dan bahkan aspirasi kita. Sebab, biasanya kita selalu mempunyai gambaran diri terlalu baik dengan apa saja yang dipunyai orang lain. Bahkan, kita sangat pandai berpura-pura seperti sedang action di depan kamera. Hanya ingin memperlihatkan yang baik-baik saja, pantang memperlihatkan yang buruk. Kekonyolan ini, tentulah sangat bertentangan nurani setiap manusia.

Sikap terpuji
Merenung bukanlah suatu kerugian, karena perilaku tersebut diharapkan membuat kita sadar. Kita diperintahkan menoleh ke belakang, mengoreksi diri secara tuntas. Kepribadian menuntut kita, bahwa tindakan terpuji adalah tiada jeleknya jika kita berterus terang akan kesalahan diri, dengan konsekuensi ingin merubah yang salah menuju kepada yang lebih baik.

Manfaat introspeksi diri akan membawa kita jauh ke suasana baru. Karena spirit perubahan tradisi atau kebiasaan lama yang mungkin bernilai buruk (tercela), lambat laun bisa hilang. Rasanya memang sulit merubah kebiasaan karena pengaruh alamiah kepribadian. Tetapi jika memang itu bernilai buruk, dan dapat kita tinggalkan sebaiuknya kita paksakan juga membuangnya, jika tidak berarti kita tetap saja terbuai dalam arus konservatif alias mempertahankan perilaku buruk kita.

Introspeksilah dirimu, sebelum engkau ekstrospeksi diri orang lain. Makna kata tersebut, sadarkanlah diri, pelajari diri dan binalah diri sebelum engkau mengkritik orang lain. Orang lain akan mengejek diri kita, jika kita menasihati orang lain, sementara diri kita bergelimang keburukan. Artinya, jika pandai berbicara sementara realisasi tidak ada akan menjadi bahan omongan orang yang mendengarnya. Suami/istri merintah anak-anaknya belajar sementara mereka tidak memberi contoh yang baik, misalnya ketika anaknya sedang belajar pesawat TV dimatikan, sementara kedua orang tua ikut membaca majalah atau koran. Selalu seorang ayah memerintahkan agar anaknya melaksanakan sholat, sementara ayahnya sendiri tidak mengerjakan sholat. Padahal mengerjakan perintah tersebut handaknya disertai dengan realisasi nyata.Ini merupakan contoh yang bertangung jawab.
“Mengapa engkau suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedangkan kamu sendiri melupakan kewajiban (dirimu sendiri) yang telah kamu nasihatkan kepada orang lain, ….Apakah kamu tidak punya pikiran” (Al-Baqarah : 42-43).

Dewasa ini tidak sedikit orang atau golongan yang tidak ambil pusing tentang perbuatan koreksi diri ini. Ucapannya berisi untuk memelihara perdamaian, dan persaudaraan tetapi tingkah lakunya selalu membuat tidak amannya suasana. Tampaknya, ada pula kecenderungan di masa sekarang di mana orang selalu ingin melupakan hal-hal yang prinsip dalam kehidupan seperti terabaikannya nilai-nilai moral dan agama karena lebih mengejar dunia dan materi. Padahal unsur keagamaan yang seharusnya dijunjung tinggi dan diamalkan dengan sebaik-baiknya, kini dianggap sebagai suatu hambatan untuk maju.

Maka dari itu, dalam kondisi yang bagaimanapun juga kita mesti pegang teguh prinsip agama “Dinul Islam” dengan pengertian mempelajari dan mengamalkan, lalu menyampaikan kepada orang lain. Jadikan agama sebagai nilai dasar kehidupan agar kita terhindar dari bencana dunia dan akhirat. Melalaikan perintah Allah, berarti kita mengundang murka dan bencana. Kita saksikan tiga tahun terakhi ini banyak sekali bencana di berbagai daerah yang kita dengar dan saksikan melalui media televisi, seperti terjadi gempa bumi, tanah longsor, banjir, gunung meletus, tsunami, dan sebagainya. Sementara rakyat makin tertindas, kesewenangan para pemimpin, hedonisme, dan barbarisme makin diperlihatkan. Semua itu harus segera diakhiri dan tinggalkan dengan berusaha dengan kemampuan yang ada pada diri kita masing-masing.

Kita wajib merubah segala apa yang mencelakakan kita, dan perubahan itu tentu akan mempengaruhi nasib kita sendiri menuju kebaikan yang hakiki. Perubahan merupakan kultur budaya manusia agar mampu meninggalkan kebiasaan yang tidak menguntungkan.

“Dia (Allah) tidak akan merobah nasib sesuatu kaum atau golongan apabila kaum atau golongan itu sendiri tidak berusaha untuk merubahnya” (Ar-Ra’du, 11)

Menyadari akan pentingnya mawas diri dari kekurangan, tentulah memerlukan pengorbanan. Mengamalkan introspeksi diri merupakan langkah revolusioner yang dapat membawa diri kita menuju kesempurnaan. Perbuatan koreksi diri merupakan pengakuan yang paripurna