Oleh Izza Fitriasari

“Rusni, apa kamu sudah mantap untuk mendampingi Elliana?” pertanyaan Mak Lasmi membuyarkan lamunanku. Sambil menyodorkan secangkir kopi wanita renta yang kubayar untuk merawat dan menjaga Elliana itu memberanikan diri mengusik pendirianku.Aku tidak menyalahkan Mak Lasmi,semua rekan-rekan kerjaku akan menanyakan hal serupa bila mereka tahu Aku akan menikahi seorang gadis yang sedikit tergangu jiwanya.Ya… Aku yang seorang akuntan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang real estate ternama di Jakarta berperawakan tegap hanya bisa medapatkan seorang istri yang tidak bisa apa-apa, jangankan mengurus suami, untuk memoleskan lipstik di bibir saja butuh bantuan orang lain.”Elliana Rosenda”, nama itu begitu mendarah daging bagiku.Aku bersyukur pada Tuhan, dengan petunjuknya sampai saat ini Aku masih sangat mencintai gadis yang tiga tahun lalu kubawa kabur dari sebuah rumah sakit jiwa di kota Ampera.

Perjumpaanku dengan gadis itu terjadi di depan sebuah panti jompo.Aku yang baru beberapa hari bertugas di kota yang terkenal dengan jembatannya itu sedang mencari udara segar. Aku melihat di halaman panti ada seorang gadis cantik sedang bercengkerama dengan seorang kakek,hampir setiap hari gadis itu ada di panti. Belakangan kuketahui dari pengurus panti bahwa kakek itu dulunya adalah seorang arsitek terkenal di Sumatera, namun setelah istrinya meninggal anak tungalnya yang menikah dengan orang Australia menitipkannya di panti jompo milik yayasan keagamaan. Setelah dua bulan baru kuketahui gadis cantik itu adalah seorang mahasiswi jurusan arsitektur sebuah universitas swasta keagamaan. Dia sedang melakukan penelitian dan mengumpulkan informasi untuk bahan skripsinya. Ini cukup unik bagiku,rasa penasaranku selalu ingin tahu apa yang sedang dilakukan gadis cantik dan kakek tua itu.Jadilah kebiasaanku setiap ada kesempatan aku mampir dan bercengkerama,tertawa dan terkadang menitikkan air mata. Betapa tidak wanita-wanita dan laki-laki tua renta menghabiskan sisa hidupnya tanpa canda,tawa,tangisan dan sapaan nenek,kakek,opa,oma dari bibir manis generasi yang mereka perjuangkan dengan keringat,cinta dan air mata.Seiring itu juga keakrabanku dengan gadis itu berjalan bak air mengalir, relung hatiku yang kosong sedikit demi sedikit terisi olehnya.

“Elliana,seandainya Tuhanku mengizinkan suatu saat nanti aku ingin menjadi suamimu,apa kamu bersedia?” pertanyaanku meluncur begitu saja dari mulutku. Bagiku jawabannya adalah syarat untuk bisa mendampinginya wisuda nanti. Pertanyaan itu wajar aku lontarkan, melihat keakrabanku dengan gadis itu dan juga keluarganya selama ini.

Gadis cantik keturunan Belanda dari mamanya itu sudah mulai tergantung padaku. Setiap kali mau pergi dia selalu minta izinku. Aku hampir sama dengannya ,bagiku Dia bukan gadis asing lagi tetapi dia adalah calon istriku. Ya… Elliana telah mengiyakan pertanyaanku beberapa waktu yang lalu saat aku diminta mendampinginya wisuda.
Tuhan menguji cintaku dengan Elliana, menjelang akhir tugasku tepatnya tiga bulan sebelum aku dipindahkan ke Jakarta. Gadis itu meminta aku datang ke rumah orangtuanya, permintaannya kuanggap hal biasa. Toh selama ini aku bisa datang kapan saja ke rumah itu dan disambut hangat oleh papa, mama, oma dan saudara-saudaranya. Namun apa yang terjadi sungguh di luar dugaan, kedatanganku disambut keluarga besarnya dengan segala macam pertanyaan dan tekanan, pilihan-pilihan yang sangat tidak aku sukai diarahkan kepadaku.

Raut kesedihan dan kekhawatiran kutangkap dari wajah cantik gadis beramput pirang itu. Gadis itu terlanjur kukasihi tanpa memandang perbedaan,….ya…perbedaan prinsip hidup yang akan memisahkan kami. Kelelahan mulai aku rasakan,seharian tenaga dan pikiran kuhabiskan di kantor dan kini aku harus memperjuangkan masa depanku.Segala pikiranku tercurah di tengah pengadilan kecil keluarga Elliana. Aku yakinkan mereka takkan kurubah nama Elliana menjadi Fatimah. Aku juga tidak akan menutup seluruh tubuhnya dengan jubah yang hanya menyisakan muka dan aku juga tidak akan melarang Elliana menyentuh makanan, pakaian yang yang ada di rumah keluarga besarnya,tali persaudaraan merekapun tidak akan kuputuskan. Namun semua tidak peduli, jiwa mereka terlalu keras untuk kami sentuh dengan cinta.
Usahaku gagal bahkan apa yang aku takutkan terjadi, gadis itu tak bisa lagi kujumpai. Khabarpun tak lagi kuterima darinya. Doaku hanya satu semoga Elliana tabah. Hari terakhir kudatangi kediaman Elliana, aku harus pamit. Di halaman rumah berlantai dua itu kulihat sebuah mobil ambulan dan diringi sebuah mobil yang sangat aku kenal,” Ada apa gerangan, siapa yang sakit?” tanyaku dalam hati.

Aku mengurungkan niat menemui Elliana, perhatianku tertuju pada iring-iringan mobil ambulan tadi, dari belakang. Akupun mengikuti tepat di depan sebuah rumah sakit jiwa mobilpun berhenti. Astagfirullah jantungku berdegup kencang dan kakiku terasa lemas. Seorang gadis yang sangat kukenal turun dari mobil dengan pakaian lusuh dan berantakan sambil berontak. Gadis riang dan cerdas itu kehilangan jati dirinya, batinku bergejolak, perlakuan petugas dan keluarganya tak bisa kuterima, sangat tidak manusiawi. Dengan sabar aku menunggu sampai keluarga Elliana pulang, sepeninggal mereka aku masuk. Aku berhasil meyakinkan petugas berseragam putih tersebut.

Berat rasanya kakiku melangkah,tetapi demi rasa kemanusiaan aku tidak ingin gadisku menangis kesepian. Perlahan kubuka pintu, hatiku miris melihat keadaan Elliana. Gadis itu hanya diam menatap kosong kearahku. Kugenggam tangannya dengan harapan kehangatan membuatnya tersadar, kubisikkan kata-kata manis ditelinganya.
”Aku akan membawamu ke Jakarta, kita akan tinggal di sana, aku akan membuat rumah yang ada danaunya supaya kamu bisa mendayung sampan bersama anak-anak kita sambil tertawa renyah.”hatiku berkecamuk,Elliana mencoba berteriak. ”Jangan berisik, nanti anak-anakmu bangun……”tak kuat lagi kulanjutkan. Air mataku mengalir deras, Elliana terdiam seakan Ia mengingat sesuatu, kucengkeram erat bahunya. Aku ingin memberikan seluruh kekuatan jiwaku untuknya,walaupun aku sendiri tidak kalah hancur menghadapi kenyataan ini. Sepintas kudengar keributan diluar ruangan. Semua petugas berlarian, tanpa pikir panjang kutarik tangan Elliana keluar dari sarang penderitaan itu. Kesempatanku untuk kabur membawa Elliana terbang jauh ke Jakarta tanpa mengalami banyak rintangan.

Kuakui bukan hal muda menjalani kehidupan dengan Elliana. Dia bukan gadis cantik dan cerdas seperti dulu. Kesulitan dan kesibukan menjadi makananku sehari-hari, mulai dari menyeleksi dokter, pembantu, mengurus rumah serta urusan kantor. Sampai aku menemukan Mak Lasmi. Dengan kelembutan hatinya Elliana cepat akrab dan bisa berkomunikasi dengan baik. Hampir suluruh perhatianku tercurah pada gadis itu. Dengan tabunganku, impian Elliana bisa terwujud. Pekarangan rumah peninggalan orang tua angkatku kusulap menjadi danau kecil lengkap dengan sampannya. Di pinggir danau itulah Elliana menghabiskan hari-harinya, melukis, menggambar dan bernyanyi. Ya…..terkadang aku tidak bisa membedakan antara tawa dan tangisannya,kebiasaan mengurung diri di kamar mandi sudah tidak dilakukannya lagi.

Aku hanya manusia biasa yang tidak luput dari godaan,namun setiap kali aku ingat Elliana hatiku selalu bergetar seakan Tuhan mengingatkanku untuk selalu bersyukur. Semakin hari kejiwaan Elliana semakin stabil, tak pernah lagi kudengar suara tawa dikegelapan malam. Elliana memberikan saputangan disaat ulangtahunku. Senyumannya yang tulus membuatku serasa bermimpi. Bagiku cinta sejati adalah cinta yang tulus tanpa balas kasih, senyum yang tulus dari bibir Elliana setiap kali menyambut kehadiranku melebihi segalanya di dunia ini.

Tiga tahun cukup bagiku untuk menyelami pikiran dan kebiasaan Elliana,akhirnya Aku memutuskan untuk menikahi gadis yang kupisahkan dari keluarganya itu. Diatas sampan di tengah danau kuutarakan maksudku pada Elliana, tangisannya menjadi jawaban buatku. Aku memahami kekhawatirannya padaku. Kusebar sedikit undangan untuk tetangga dan rekan-rekan kerjaku. Sengaja aku tidak menaruh foto Elliana di kartu undangan. Bagiku cukup aku dan Mak Lasmi yang mengagumi kecantikan gadis itu,akad dan resepsi diadakan di rumah. Kupersiapkan segalanya, Elliana minta supaya Mak Lasmi saja yang merias wajahnya….dan saat bersanding aku juga yang menyalami tamu undangan. Elliana akan menggenggam erat tangan kiriku. Ya..begitulah kebiasaannya setiap kali aku mengajaknya ke supermarket. Kehangatan tanganku bisa meredam emosi sang arsitek jiwaku itu.

ELLIANA ROSENDA, dulu kau selalu menanti datangnya bulan purnama dan ketika bulan itu datang kau hanya menangisinya hingga air matamu membasahi bantal. Aku berjanji atas nama Tuhan yang menciptakanku,kedua tanganku akan menyeka air matamu dan kita akan menanti bulan purnama di atas sampan di tengah danau diiringi tawa dan canda bersama.