dscn8788Perkembangan teknologi percetakan membuat ongkos cetak menjadi murah. Untuk menghasilkan 200 eksplembar dengan 8 halaman cukup mengeluarkan dana Rp. 2 juta. Umumnya koran didistribusikan untuk dua kabupaten, Belitung Timur dan Kabupaten Belitung.

Hal ini menyebabkan koran terbit silih berganti “membuatnya itu mudah, tetapi susah menjualnya” keluh wartawan lokal. Hanya orang yang betekurok besar, yang mampu menggertak pasar. Pasar media cetak suatu daerah tentunya tidak bisa disamakan dengan daerah lain, apalagi antara desa dan ibukota negara. Tim redaksi mudah berganti, seiring mudahnya menerbitkan koran. Kemudahan perizian menjadi surga yang menyuburkan dunia kewartawanan di Belitung. Salah satu fungsi strategis dalam manajemen surat kabar adalah loper. Loper koran atau pengantar media cetak adalah tugas penting untuk mendistribusikan surat kabar. Hal ini terlihat ketika Wakil Presiden Yusuf Kalla menghadiri Loper’s Day di Ancol, Jakarta pada tanggal 30 Juli lalu. Sekitar 52.000 loper koran dari seluruh Indonesia berkumpul untuk memperingati Loper’s Days.

Sebelumnya tanggal 11 Februari 2005 telah dideklarasikan berdirinya Yayasan Loper Indonesia (YLI). YLI dilatarbelakangi perhatian dan kepedulian terhadap nasib dan masa depan para loper yang dianggap strategi bagi perusahaan penerbit namun bertolak belakang dengan kehidupan sehari-hari mereka.

Tidak bisa dipungkiri loper koran memiliki peran yang sangat penting dalam industri pers. Ditangan mereka itulah berita didistribusikan. Meski berperan penting di mata masyarakat, tugas loper kalah gengsi dengan jabatan yang tertulis di kartu pers (baca wartawan). Wartawan jauh lebih punya hak “menakutkan” di masyarakat sedang loper tidak, tidak untuk bertanya dan mempertanyakan. Karena itu banyak loper yang punya kepandaian bertanya ingin sekali menjadi wartawan. Modal bertanya inilah yang tidak dimiliki Pami, Sosok pria lajang bertubuh kecil ini mengalami keterlambatan berbicara, mengeja-ngeja jika bicara. Ini tak lain karena penyakit, orang Belitung menyebutnya sawan yang pernah diderita sejak usia tiga tahun. Seharusnya latar pendidikannya gurunya bukan hanya membuat dia pintar berkomunikasi tetapi merubah sikap dan pengetahuan generasi muda.

Ribuan kilo jalan yang sudah ditempuh Pami bahkan mungkin lebih. Begitulah Pami. Masyarakat Belitung terutama warga Tanjungpandan dan Dendang tentu tak asing dengan dirinya. Wargapun terbiasa melihat Pami berjalan kaki. Kakinya seolah tak seimbang menapak bumi, tetapi Tuhan memberikan kepastian perjalanannya sampai ke tujuan. Bukan tidak ingin membantu, pengendara motor yang memahami kondisi tubuh dan keterbatasan gerak tubuhnya membuat mereka enggan menggandeng Pami di motornya. Begitupun Pami tak ingin menjadi sumber masalah orang lain. Tetapi kemandirian dan langkah kakinya telah menjadi sumber inspirasi. Hidup memang tidak selalu sempurna, tetapi mengandalkan orang lain, dikasihani dan terus membebani orang lain justru akan menyesatkan tujuan kita. Koran-koran yang dibawanya dipastikan sampai ke pembaca, dirinya tidak menyalin berita untuk menambah proganda agar dikasihani. Pria yang pernah mengenyam pendidikan guru agama paham betul mengantar koran itu juga amanah.

Sepeninggalan ibunya, hidup Pami nyaris sebatang kara meski masih ada saudara kandung yang lebih beruntung darinya. Sekali lagi Pami tidak berusaha menuntut hak. Dan suatu ketika Pami kehilangan hak atas rumah yang dulu pernah ditempatinya bersama sang ibu.

Dengan keterbatasan yang ada Pami berjalan mengais rezeki dengan pasti sebagai pengantar koran, majalah anak dan media lain. Biasanya seorang loper koran memberanikan diri menjadi wartawan bahkan ingin lebih dari itu seperti merangkap menjadi pemimpin redaksi, kepala biro, tukang tagih. Kesan “menakutkan” membuat orang leluasa memilih jabatan, dari sekian banyak jabatan dalam industri pers. Bisa jadi jabatan loper koran yang paling rendah. Mereka tetap ingin memegang Kartu Pers. Memang belum ada statistik yang menjelaskan bahwa tugas pers lebih sedikit dibandingkan dengan tugas distribusi. Tetapi jika ingin melihat kerja distribusi atau loper Koran, marilah pahami perjuangan hidup pami.

Pami, lelaki paruh baya ini sudah menempuh jarak cukup jauh. Bujangan ini, tak pernah menghitung waktu apalagi menghitung jarak. Dari kampong ke kampong Pami berjalan, kadang menumpang angkutan antar kecamatan ke Dendang, wilayah distribusi korannya yang sudah menjadi wilayah Kabupaten Belitung Timur kini. Setiap hari Pami terbiasa bekerja untuk dirinya sendiri, dengan berjalan sepanjang 9 km dia mengantar koran-koran pelanggan. Saat ini Pami mampu mendistribusikan kurang lebih 90 ekslemplar koran.

Setiap hari ia mengambil 100 lembar koran. Pelanggan yang bertambah memberi keuntungan dan menjawab tatapan keraguan orang yang melihat fisik tubuh dan cara bicaranya. Dari koran dan majalah Pami bisa menghasilkan pendapatan lebih dari Rp 500 ribu.

Sejak pukul 05.00 pagi, Pami bekerja menyusun dan mengedarkan koran. Karena keuletan dan kejujurannya, agen koran memberi perhatian yang lebih sebagai imbalan kerja kerasnya. Pami tidak mengambil koran di agen tetapi diantar oleh agen ke tempat tinggalnya di Desa Tanjungpandan. Di rumah kakaknya inilah dia tinggal setelah rumah yang ditempati bersama orang tuanya dijual.”….. aaakuu ….ndak…ngelacak…..apppeee….agik ngawas..ek. “ tutur Pami. Begitulah cara bicaranya, mengeja-ngeja dan tak jelas menanggapi banyaknya loper koran yang menjadi wartawan akhir-akhir ini

Pami memiliki nama lengkap Zulfami. Pria yang berumur 54 tahun ini dilahirkan di Dendang, 12 Desember 1954. Selain Pami, Syahbudin dan Hadisah ini memiliki dua anak lagi, seorang perempuan dan seorang lagi guru SMEA yang kini sudah pensiunan. Tahun 1966 Pami menjalani pendidikan dasarnya di SD 7 Air Saga. Seusai menamatkan pendidikan SD, Pami langsung melanjutkan pendidikan guru agama (PGA) di Tanjungpandan dan lulus pada tahun 1975. Kepsek PGA saat itu H.Abdul Aziz. Dulu Pendidikan Guru Agama dijalani selama 6 tahun

Setamat PGA Pami sempat praktek mengajar di SD Arab yang saat itu dikepalai oleh Pak Dahlan Husein. Dulunya pas SD Al Hidayah membaca dan menulis -qur’an, Dulu ngajar Bahasa Indonesia. Mungkin karena pendidikan agamanya Pami tidak ingin mengkaitkan berita (baca koran) dan keterbatasan tubuhnya untuk mencari keuntungan, apalagi minta dikasihani. Begitulah ilmu itu dipahami dan diamalkan, dengan diam dan tak merusak tatanan pun akan jauh lebih baik. Pada tahun 2008, Pami menjuarai kejuaraan Catur tingkat Propinsi (Juara II) yang digelar untuk orang-orang cacat (YPAC).

Silaturahmi

Meski mencari nafkah di Tanjungpandan, Pami tidak melupakan kampung halamannya. Karena pelanggan koran Pami sering mengunjungi Dendang. Dari Kampong Air Nangka, Semalar, Dendang, Bira, hingga ke Balok tidak ada yang tidak mengenalnya. Pami sendiri menganggap mereka adalah keluarganya. Jika lebaran tiba warga kampung Dendang menyajikan makanan bedulang. Sejauh-jauh Pami berjalan dia tidak pernah lupa kampung halamannya (fithrorozi)