Tanjungpandan (WP) PT. Pelabuhan Indonesia II bekerja sama dengan Lembaga Teknologi Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Senin, 24 Nopember 2008 bertempat di Ruang Sidang Pemkab Belitung melakukan Paparan Master Plan Pelabuhan Tanjungpandan. Presentasi ini dibuka secara resmi oleh Pejabat Bupati Belitung, Haryono Moelyo, SE.MA.
“Pelabuhan memiliki fungsi strategis dan vital bagi kelancaran sektor tranportasi yang berimplikasi pula terhadap kemajuan sektor lainnya, terutama sektor ekonomi, ” ujar Haryono mengawali sambutannya. Karena itu, selaku Kepala Daerah ia menyambut baik kegiatan ini, agar pemerintah daerah dapat mengetahui berbagai hal yang menyangkut struktur ruang dan rencana tata ruang guna lahan di Kabupaten Belitung, termasuk kondisi perairan Pelabuhan Tanjungpandan dengan segala fasilitas dan utilitasnya.

Lebih lanjut, menurutnya kehadiran pelabuhan dengan standar yang layak adalah prasyarat utama bagi kemajuan suatu daerah. Mengingat, pelabuhan adalah salah satu kunci penunjang keberhasilan pembangunan di berbagai sektor, baik di tingkat nasional maupun daerah. Oleh sebab itu, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan sehubungan dengan akan dibangunnya Pelabuhan Tanjungpandan ini, yaitu: Tatanan kepelabuhan yang hendaknya menerapkan asa efisiensi dan tata ruang yang kondusif. Selain itu, perlu juga pengkajian ulang terhadap pelayanan dan biaya pelabuhan yang kompetitif, pengaturan kelembagaan di pelabuhan, otoritas pelabuhan dan unit penyelenggaraan pelabuhan serta efisiensi dan loyalitas dari para pekerjanya agar tidak terjadi pelanggaran yang merugikan berbagai pihak. Ditegaskan oleh Haryono, faktor-faktor tersebut adalah fokus bersama guna menyeimbangkan kinerja dengan konstruksi fisik yang telah dan akan dibangun, agar hal-hal yang menjadi tujuan melalui dibangunnya pelabuhan ini dapat tercapai.

“Saat ini, Kabupaten Belitung telah memiliki beberapa pelabuhan dengan peran dan fungsinya masing-masing, seperti pelabuhan penumpang dan perikanan. Namun demikian, diharapkan dengan optimalisasi Pelabuhan Tanjungpandan ini ke depan, Kabupaten Belitung sebagai suatu daerah kepulauan dapat lebih menggiatkan pertumbuhan ekonominya melalui arus lalu lintas kapal dengan infrastruktur yang lebih memadai pula”, tegas Haryono.

Pelabuhan Tanjungpandan
Ada beberapa alasan perlunya pelabuhan dengan standar kelayakan yang memadai di Belitung, diantaranya adalah: Pulau Belitung merupakan pulau yang dikelilingi lautan dengan 189 pulau besar dan kecil yang mengelilinginya, aktivitas perekonomian di Kabupaten Belitung ini terus meningkat dan Belitung memiliki potensi sumber daya alam dari berbagai sektor seperti pertanian, pertambangan sebagai komoditas andalan.
Letak pelabuhan Tanjungpandan direncanakan berada pada koordinat 02 04’00” LS dan 107 00″00″ BT. Kondisi perairan Pelabuhan Tanjungpandan terdiri dari: Kawasan Perkantoran, Kawasan Penumpang, Kawasan Bongkar Muat Barang, Kawasan Pergudangan, dan Kawasan Perikanan.

Fasilitas, Peralatan, dan Utilitas Pelabuhan TanjungPandan
Fasilitas Pelabuhan Tanjungpandan dilengkapi dengan alur, kolam, dermaga, dan lapangan penumpukan. Pelabuhan Tanjungpandan mempunyai alur sepanjang 6,8 mil dengan kedalaman alur pelayaran -4,0 m LWS. Sedangkan kolam pelabuhan Tanjungpandan memiliki luas 3,39 Ha dan kedalaman -3 m LWS. Untuk panjang dermaga seluruhnya adalah 317,75 m, dan terbagi ke dalam delapan dermaga. Selanjutnya pelabuhan Tanjungpan mempunyai luas keseluruhan lapangan penumpukan 33.088 m². Akan tetapi Pelabuhan Tanjungpandan tidak akan memiliki gudang karena gudang yang ada dengan luas 400 m².
Utilitas Pelabuhan antara lain fasilitas listrik dan air dengan mesin generator. Seluruh pembangunan Pelabuhan Tanjungpandan ini akan dilakukan dalam tiga tahap rencana pembangunan, yaitu Rencana Pembangunan Jangka Pendek 2008-2012, Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2013-2017, dan Rencana Pembangunan Jangka panjang 2018-2032.

Aspek Kelayakan
Studi kelayakan proyek memiliki tiga aspek manfaat yaitu: Manfaat ekonomi bagi proyek itu sendiri (manfaat finansial) tentang seberapa menguntungkannya proyek tersebut dibandingkan dengan resikonya; Manfaat ekonomi bagi negara/daerah  tempat proyek tersebut dilakukan (manfaat ekonomi nasional) yang menunjukkan manfaat proyek tersebut bagi perekonomian suatu negara secara makro. Terakhir adalah manfaat sosial proyek bagi masyarakat sekitar. Hal ini merupakan studi yang relatif sulit untuk dilakukan, karena proses kwantifikasi manfaat dan pengorbanan sosial merupakan teknik sendiri yang tidak mudah dilakukan.

Indikator kelayakan yang digunakan menyangkut analisis nilai sekarang, analisis laju pengembalian, dan analisis rasio manfaat. Analisis nilai sekarang menunjukkan bahwa nilai uang sekarang dari kemungkinanaliran dana di masa mendatang. Nilai NPV yang dianggap layak pada suatu proyek adalah yang bernilai positif, sedangkan nilai NPV negatif berarti proyek tersebut tidak memenuhi kelayakan.
Analisis laju pengembalian menunjukkan perbandingan antara keuntungan atau pendapatan yang diperoleh terhadap biaya yang telah dikeluarkan sebelumnya. Kelayakan berdasarkan nilai BCR adalah nilai BCR lebih besar dari 1. Hal ini berarti bahwa keuntungan/pendapatan yang diterima lebih besar dari biaya investasi yang dikeluarkan.

Sedangkan analisis rasio manfaat menunjukkan tingkat bunga pengembalian yang bisa diperoleh dari investasi yang telah dikeluarkan. Nilai IRR yang memenuhi kelayakan bagi proyek komersial adalah yang lebih besar daripada tingkat suku bunga bank yang berlaku. Bila demikian keadaannya dapat dikatakan bahwa proyek layak karena pengembaliannya yang lebih tinggi daripada penyimpanan di bank.
Diakhir presentasi, disampaikan kesimpulan berdasarkan analisa ekonomi dan analisa finansial. Secara ekonomi proyek Pelabuhan Tanjungpandan memberikan dampak yang cukup berarti kepada wilayah Kabupaten Belitung maupun secara ekonomi nasional, karena hasil IRR lebih besar dari nilai discount rate yang digunakan. Dengan NPV yang bernilai positif dan BCR >1 akan dapat mengembalikan modal yang telah dikeluarkan. Investasi dalam proyek ini secara ekonomi nasional cukup menarik untuk periode 25 tahun.

Demikian juga dengan analisa finansial, dapat disimpulkan bahwa kajian terhadap aspek finansial sangat penting terutama menyangkut kebijakan perusahaan dan investor untuk menanamkan modalnya pada proyek yang akan berlangsung. Kajian yang dilakukan diharapkan dapat menentukan layak dan tidaknya proyek sehingga dapat mempertimbangkan untung ruginya pelaksanaan proyek tersebut. Kesimpulan ini dibuat berdasarkan berbagai asumsi yang digunakan dalam perhitungan aspek finansial dan data historis untuk memperkirakan keuntungan yang diperoleh.(Zakina).