Tanjungpandan (WP),  Di Bangka, harga pasir/bijih timah basah di tingkat penambang kini hanya mencapai Rp25 ribu/kg dari sebelum terjadi krisis global harganya mencapai Rp90 ribu/kg. Pedagang minyak eceran solar di Pangkalpinang, Sabtu (25/10), mengatakan, harga solar turun menjadi Rp 225 per jerigen (satuan isi 20 liter), jika dibandingkan harga solar sebelum turunnya harga bijih timah Rp 280 ribu per jerigen (Repulika, 26/10)

 

Dampak penurunan harga timah di Bangka tidak berbeda jauh dengan kondisi di Belitung. Penurunan ini praktis membuat aktivitas masyarakat tambang ikut menurun Cafe “semak” tempat hiburan favorit penambang mulai sepi begitupun antrian mobil yang mengantri sejak malam hari sudah tidak terlihat, praktis lebar jalan pun digunakan dengan leluasa. Tidak adanya antrian kendaraan yang memakan badan jalan, lumrah dan memang semestinya menurut orang luar Belitung. Tapi masyarakat Belitung ini pemandangan yang  langka terutama sejak timah-solar saling melengkapi tindakan ambil untung.

 

Dari kekuasaan korporat hingga geliat tambang rakyat, timah menjadi icon ekonomi pulau Belitung, sekaligus menekan aspek kehidupan lain masyarakat ditengah upaya mencari komoditas alternatif pasca tambang. Saat Masyarakat Belitung mengadakan Halal Bihalal di Jakarta (26/10), keluarga (crew dan pemain) Laskar Pelangi justru berada di Belitung memenuhi rasa penasaran warga dan anak Belitong yang mendadak jadi bintang.

 

Saat film Laskar pelangi di putar (26/10) di ballroom hotel Billiton Tanjungpandan, “keluarga” Laskar Pelangi  tengah bernyanyi bersama.  ke Pice…ke Pice ade jeramba gede aik gemuro gemuro bebue-bue...” yang diikuti  goyang “ serampang” para artis pendukung. Riri Reza, Mira Lesmana, Cut Mini, Andrea Herata menyatu dengan 12 anak pameran Laskar Pelangi. Sementara Lukman Sardi, Mathius Muchus memperhatikan sambil senyam senyum. Usai keluarga Laskar Pelangi menjalin ikatan kekeluargaan, Mira Lesmana berbicara dengan para orangtua dari 12 anak pemain film Laskar Pelangi termasuk menyampaikan informasi beasiswa laskar pelangi kepada para orang tua dari Miles Film dan Mizan Production.

 

Kedatangan crew Laskar Pelangi di Belitung ini memenuhi keinginan masyarakat Belitong untuk menonton film yang menurut BY layak ditonton menyusul larisnya film Naga Bonar II dan Ayat-Ayat Cinta. Menurut Presiden film ini telah membangkitkan kecintaan masyarakat terhadap produksi dalam negeri dan memicu ekonomi kreatif tanah air.

 

Rabu malam (8/10) Presiden sempat menonton film ini Auditorium I Blitz Megaplex. “Saya ingin memberi komentar dan catatan yang tulus dan jujur. Pertama dari sisi estetika film ini luar biasa, saya harus memberi apresiasi yang tinggi, aktingnya para aktornya begitu natural menggambarkan betul situasi di banyak tempat dinegeri kita ini (waktu itu bukan sekarang). Cerminan kehidupan yang serba sulit, apa adanya . Saya anggap ini karya seni yang sangat indah berkualitas tinggi.  Oleh karena itu saya ikut mengiklankan agar banyak lagi saudara-saudara kita yang bisa menonton film Laskar Pelangi . Kedua, catatan saya adalah sangat jelas bagi siapapun, bagi ortua , bagi anak kita (bahwa) pendidikan adalah masa depan. Kita diingatkan oleh anak-anak dengan kondisi yang serba minim, dia sangat gigih, pesan-pesan yang disampaikan guru juga jelas. “ jelas SBY usai menonton film Laskar Pelangi.

 

Membangun ekonomi Kreatif

Jika dilihat dari kondisi pantai Tanjung Tinggi. Ada kesan koordinasi dan komunikasi antara pemda, dan swasta tidak berjalan mulus (dalam pengembangan pariwisata). Inilah yang menyebabkan sektor pariwisata di Belitung agar terlambat. Padahal potensi nya tidak kalah bagus dibandingkan daerah wisata lain di Indonesia. “Permasalahan terletak komunikasi dan hubungan baik (masyarakat-swasta-pemerintah). Bagaimana menumbuhkan  kerjasama berbagai pihak terutama dengan pihak swasta sehingga chemistry-nya berjalan baik ” ujar Mathias Muchus yang sejenak meluangkan waktu mengamati kondisi pusat kota Tanjungpandan.

 

Sebagai orang luar Belitung, Mathias Muchus melihat masyarakat Belitung terkesan agak “tertekan”  baik ekonomi, sosial  maupun kehidupan politiknya. Munculnya film ini, membuat atmosphere masyarakat berbeda, lebih terbuka dan lega. Pada akhirnya ini (film Laskar Pelangi) mengugah berbagai kalangan untuk peduli. Karena semua tahu termasuk pemda (realitas pendidikan dan  dunia pariwisata di Belitung).

 

Saya melihat film ini relevan dan memiliki timing yang sangat pas kondisi ambruknya mental bangsa saat ini. Film in menjadi semacam oase, penyemangat (kondisi sosial ekonomi masyarakat)“, ujar Mathius Muchus kepada Warta Praja di emperen toko Kota Tanjungpandan.

 

Dalam dunia film sudah terbiasa ada loncatan-loncatan (adegan di Gantung pindah ke Tanjung Tinggi) namun adegan yang ada pada film Laskar Pelangi tidak merubah tema utama, tetap dibuatkan utuh. “Di film ini Ikal , Mahar dan Lintang menjadi tokoh sentral sedangkan  adegan yang lain berjalan paralel (beriringan dan saling mendukung)” kata Mathis Muchus.

 

Karakter Belitong yang kuat perlu diangkat (untuk pengembangan pariwisata). “ Untuk menemukan karakteristik dari daerah ini saya pikir perdulu studi, memperhatikan unsur fundamental budaya setempat. Sedangkan pembangunan infrastuktur seperti hotel harus berjalan paralel dengan penguatan budaya setempat. Menurut Mathias Muchus budaya melayu yang cukup kuat membuat Belitung lebih mampu beradaptasi dengan perubahan (sosial ekonomi)

 

Dalam dua hari, tim Laskar Pelangi The Movie menayangkan  film Laskar Pelangi masing-masing dua kali tayang pada setiap titik. Pada tanggal 25 serentak di putar dengan layar Tancap di Gantung dan Manggar. Kemudian pada tanggal 26, ditayangkan di bioskop eks Wisma Ria dari jam 9:00 pagi (untuk guru) dan jam 13:00 (untuk anak-anak pesantren). “ Aku la dua kali nonton film ini “ kata Subastiar yang juga menonton film Laskar Pelangi  di Gantung (25/10). Ruangan di Ballroom Hotel Billiton tampak lengang bahkan beberapa kursi plastik dibiarkan kosong.

Susasana ini berbeda ketika diputar terbuka.” Rasanya tidak ada bioskop yang bisa menyaingi bioskop di halaman Gedung Nasional ini. Aspal menjadi tikar, ada jagung rebus, balon, bakso yang siap saji “ kelakar canda  seorang warga Tanjungpandan. Bioskop Misbar (gerimis bubar) istilah lain dari film  layar tancap dipadati penonton mulai halaman, panggung terbuka hingga balkon  Gedung Nasional. Kepadatan penonton film laskar pelangi ini tidak tidak pernah terlihat dalam berbagai pertunjukan apapun yang pernah digelar di halaman Gedung Nasional.. Film ini  diputar di dua tempat yakni Gedung Nasional dan Padang Bula, Kelurahan Parit, masing-masing  dengan dua kali tayang.

 

Setelah sukses dengan mengangkat novel Laskar Pelangi ke layar lebar. Mira Lesmana berniat mengangkat karya lain Andrea Herata, Tetralogi ke layar lebar.  “ nantinya kami akan melihat lokasi yang sesuai dengan setting dalam novel tersebut..termasuk akan melibatkan lokasi di (pulau) Bangka”  ujar Mira Lesmana  (fithrorozi)