Oleh H.N.Dewantara Rachim

Siapa yang tidak tahu Laskar Pelangi? Saya rasa semua urang Belitong di Jakarte sudah menonton film ini. Dan sampai sekarang, saya lum juak bace bukunye. Demam buku dan film merebak ke semua hal. Ketenaran buku itu bahkan sampai dicontek desain kover oleh buku ‘Rumah Pelangi’. Semangat buku yang bercerita tentang pendidikan, pun juga menggerakkan kru warnaislam untuk menggelar acara Lebaran Bareng Anak Yatim dengan salah satu acara yaitu nonton Laskar Pelangi, Sabtu 4 Oktober 2008 lalu.

Apa yang awalnya oleh Andrea Hirata ditulis sebagai catatan pribadi, bukan sebuah buku yang mau dipublikasikan, akhirnya menjadi fenomenal. Disebabkan keisengan temannyalah, yang mengirimkan naskah buku itu ke penerbit yang lalu oleh penerbit itu disetujui untuk diterbitkan. Dan yang menakjubkan, baru beberapa minggu sudah cetak ulang dan terus sampai sekarang. Keberkahan buku itu kini tidak saja dituai Andrea Hirata dan penerbit serta penjual buku itu. Kini film yang diproduksi oleh Miles Productions pun sudah menuai keberkahannya. Angka 1,3 juta penonton sudah tembus. Penonton selalu antri, berdasarkan laporan teman-teman yang mau nonton film itu. Dan beruntung saya menonton film itu selang sehari setelah film itu beredar. Itu juga lewat jalur khusus tanpa harus mengantri.

 

Transtivi Mengulas Belitung

Kemarin Ahad 12 Oktober 2008, saya melihat di Transtivi tema Belitung dan Laskar Pelangi diangkat dalam acara Cerita Anak pukul 07.30 WIB. Dalam acara itu dibahas tentang Belitung saat ini, dengan kejayaan masa lampau saat timah masih mahal dan hasil dari pulau Bangka-Belitung itu merajai dunia. Dalam acara yang juga dipandu oleh anak-anak para pemain film Laskar Pelangi, diceritakan juga saat itu dimana kemudahan mendapatkan uang dengan menambang timah, walau secara liar, itu lebih menarik bagi mereka daripada bersekolah. Sampai saat ini pun, anak-anak yang tinggal dekat ‘kolong’, sebutan tempat bekas penambangan, itu masih sering digali anak-anak sepulang sekolah. Dengan mendapatkan 2 kilogram timah, maka uang yang didapat sejumlah 160 ribu rupiah. Sape tak mau?

Saat ini pulau Belitung menuai keberkahan dari buku dan film tersebut. Saya sendiri juga mendapat keberkahan karena tulisan saya tentang Laskar Pelangi sampai saat tulisan ini dipublikasikan, sudah dibaca oleh 500 orang. Ulasan teman-teman penulis lainnya yang mengulas tentang film itu juga banyak dibaca ratusan orang.

Di Belitung Timur, pemda setempat membuat ‘Tur Laskar Pelangi’, dimana tempat-tempat yang disebutkan dalam buku itu dan juga lokasi syuting, replika sekolah, semuanya bisa dilihat dalam satu paket. Saya belum tahu seperti apa, karena saya sendiri belumlah ke sana. Insya Allah jikalau tidak ada halangan, bulan ini saya bisa ke sana atas undangan pengurus situs wartapraja.com yang ingin agar situs mereka bisa tampil lebih baik sebagai portal berita Belitung daripada sekedar blog. Tapi, sebenarnya portal macam warnaislam ini justru saya bangun berdasarkan konsep blog. Jadi mungkin nanti tepatnya saya desain ulang tata letak situs itu agar tampil seperti portal.

 

Halal Bihalal Babel

Sebuah undangan bersampul putih berlogo kepulauan Bangka Belitung datang ke rumah saya. Oh rupanya undangan acara Halal Bihalal. Orang tua saya diundang oleh Pemprov Babel (Bangka Belitung). Hal ini karena bapak saya memang asli urang Belitong dan kontribusinya, menurut saya, cukup besar bagi Belitung. Karena mereka berdua telah tiada, jadilah saya yang menggantikan untuk hadir di sana. Acara ini adalah sebuah acara tahunan yang biasa diselenggarakan beberapa hari setelah lebaran. Dalam acara itu saya sempat foto-foto. Tapi karena saya hanya punya kamera ala kadarnya, jadi hasil yang diharapkan jauh dari memuaskan. Yah, yang penting ada dokumentasi dari kegiatan ini.

Dalam undangan tertera acara dimulai jam 9 pagi. Tapi teknisnya jam 10 lah baru dimulai. Saya datang bersama Nabila, anak saya. Kami berdua naik taksi, karena memang sudah terlambat berangkat dari Rempoa. Sempat saya mengambil dulu topi berlogokan warnaislam. Yah, sekalian mempromosikan bahwa saya punya situs bagus dimana saya jadi penulisnya dan acara ini mau saya ‘liput’ untuk dituliskan di WI.

Foto ini saya ambil dari balkon atas. Anak saya yang mengajak untuk duduk di sana. Tapi begitu tahu bahwa para pemeran Laskar Pelangi duduk di bawah, serta merta dia minta untuk pindah ke bawah. Tapi, menurut dia, kan yang duduk di bawah hanya undangan VIP? Saya bilang bahwa undangan kita kapasitasnya bisa duduk di bawah. Jadilah kami berdua pindah duduk di bawah.

Sebenarnya sih, yang dibilang vip hanyalah tiga deretan terdepan. Itu ditandai dengan ada bangku sofa yang beda dengan bangku biasa di deretan berikutnya. Nah, sementara para pemeran film Laskar Pelangi duduk tidak dideretan VIP. Saat hadirin tahu bahwa mereka juga ada diundang, berduyun orang bergantian mendatangi mereka untuk foto bersama. Saya juga menyuruh Nabila untuk ikut foto bersama. Tapi karena memang dia pemalu, jadilah dia menolak untuk itu. Satu keputusan yang sangat dia sesali, bahkan sampai di rumah pun dia berulang-ulang menyesali kenapa tidak mau foto bersama.

Acara selama satu jam pertama terasa membosankan, karena diisi oleh tiga hal : sambutan, pidato dan ucapan selamat. Dalam sambutan dan pidato, disebutkan tentang apa yang telah dicapai dan apa yang kini dicita-citakan oleh para pemimpin provinsi ini. Silih berganti mereka menyampaikan. Saya agak kurang memperhatikan karena saya malah sibuk bertemu dengan teman dan saudara dari bapak saya. Sembari saya memperkenalkan diri, kalau-kalau mereka lupa. Wajah-wajah mereka tidaklah asing bagi saya, sementara mereka tentu tidak ingat karena dulu mereka datang sewaktu sama masih remaja. Tapi begitu saya sebutkan, ‘Saya Dewan, anak Alex A. Rachim’ langsung mereka ingat dan menyambut hangat salam saya. Enak juga ya jadi anak orang terkenal? Apalagi dikenal orang karena kebaikannya, ciee.

Saya bertemu dengan Marta Sanjaya, sekretaris IKMB (Ikatan Keluarga Masyarakat Belitung) dan bendahara IKMB, ibu Heldi. Ibu Heldi ini ternyata juga pengurus majalah Wartapraja . Dia mengingatkan saya bahwa Ahad, tanggal 26 besok ada acara Halal Bihalal IKMB di Departemen Kehakiman. Lho, apa bedanya dengan yang sekarang? Yang jelas, ini acara dari Pemprov Babel sementara tanggal 26 acara urang Belitong. Dan karena bapak saya juga dulu pengurus IKMB, so pasti diundang juga. Cuma kok sampai hari ini belum sampai ya, undangannya? Last minute mungkin.

Saya dan Marta bicara-bicara tentang masa depan pendidikan Belitung. Saat bulan Agustus lalu, Marta dan beberapa rekan dari Belitung menyelenggarakan beasiswa bagi mahasiswa Belitung yang mana beasiswa itu didapat dari sponsor. Tujuannya agar mahasiswa berbakat dan berprestasi asal Belitung bisa berkuliah dengan nyaman tanpa harus dipusingkan oleh biaya.

Saat bertemu Marta, saya juga bertemu dengan Kepala Diknas Belitung di Tanjung Pandan, pak Marsudi. Kebetulan pula saya sempat melihat pak Marsudi ini di Transtivi. Jadi kloplah pembicaraannya.

Tema pendidikan juga menjadi isi baik novel maupun film Laskar Pelangi. Dan cerita tentang bagaimana anak-anak kurang berada itu berusaha keras untuk bisa menimba ilmu dalam keterbatasan mereka, menjadi menarik. Seandainya Laskar Pelangi melulu isinya tentang cerita cinta-cintaan atau lucu-lucuan atau serem-sereman, saya tidak yakin bahwa Babel terutama Belitung akan menjadi seterkenal sekarang.

 

Laskar Pelangi

Akhirnya tibalah para pemeran film Laskar Pelangi itu dipanggil untuk naik ke panggung. Dengan sigap mereka beramai-ramai menuju panggung. Kesebelas anak-anak ini, dulunya mereka hanyalah anak-anak biasa. Mereka lolos audisi menyisihkan 3500 peserta lainnya. Nabila hanya berkomentar satu, mereka tidak setinggi yang ia bayangkan dalam film. Iya juga sih.

Saat ditanya kepada yang memerankan Ikal, bagaimana rasanya sekarang menjadi orang terkenal, dengan spontan ia menjawab ‘Tidak enak!’ Bisa dimaklumi, karena memang menjadi selebritis berarti hilang segala privasi. Dulu ia bisa berjalan-jalan dengan seenaknya tanpa harus merasa bahwa semua mata tertuju padanya. Tapi kini hal itu tidak lagi dimungkinkan. Kemanapun mereka berjalan, mereka sudah menjadi bagian publik. Mereka harus siap menerima sambutan yang mulai dari sekedar dicolek-colek sampai dimintai tanda tangan dan foto bersama.

Dari Presiden SBY, mereka mendapatkan banyak bingkisan dan juga mendapatkan kompyuter, demikian ‘Ikal’ mengatakannya. Ya, keberkahan atas film ini merambah mereka semua.

Satu hal yang ‘kurang’ mnenurut saya, Andrea Hirata tidak hadir. Bukan karena saya mau minta tanda tangan dia, hehehe.. Hanya, yah.. saya ingin melihat saja, bagaimana tanggapan dia atas ‘ketidaksengajaan’ ini. Memang sih, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua sudah Allah yang mengaturnya. Tapi, sebagai sebuah kebetulan, efek domino dari novel maupun film ini terasa begitu besar. Kegamangan mungkin terjadi, baik dalam diri Andrea maupun anak-anak pemeran film itu.

Yang menjadi ganjalan saya juga, yang hadir ini kan anak-anak pemeran film. Saya justru ingin sekali bertemu dengan Lintang, Mahar, Samson dll yang aslinya. Karena merekalah yang juga menjadi inspirasi bagi Andrea. Juga ibu Muslimah, guru yang sangat dicintai anak-anak itu, motivator belajar mereka untuk mencapai cita-cita setinggi bintang di langit.

Tapi, nggak dapet aslinye, lumayan dapet bajakannye. Ada seorang teman minta sama saya untuk mendapatkan filmnya. Saya tanya, maksudnya apa? Dia bilang ada nggak link untuk mengunduh (download) film itu? Saya jawab, ada sih. Tinggal kirim imel ke Miles untuk minta link-nya. Yah, nanti adalah sejumlah persyaratan yang mesti dipenuhi dan angka-angka yang harus dibicarakan. Lha wong tinggal nonton di bioskop, layar lebar, palingan cuma bayar 15 ribu. Pelit amat sih, buat nonton karya bangsa sendiri. Lagi pula film ini lebih asyik nonton di bioskop daripada cuma melototin layar monitor.

Acara ditutup dengan suguhan tari dan lagu. Lagi-lagi menjadi satu ganjalan. Nabila bilang, kenapa tidak grup band Nidji, yang tampil membawakan soundtrack film itu yang tampil? Malahan yang tampil adalah Andre Hehanusa dan grup musiknya. Tapi penampilan Andre yang satu ini sangat menghibur dan tidak mengecewakan. Berulang kali Andre minta agar bisa diundang ke Belitung. Yah, mungkin Laskar Pelangi jilid 2 nanti, Andre yang membuatkan soundtrack.

Saat menyanyi itu, tiba-tiba Andre memanggil Gaby, salah seorang peserta Indonesian Idol yang rupanya dia adalah anak Bangka. Andre mengajak Gaby ini untuk berduet bersama menyanyikan lagunya Andre. Wah, menjadi makin menarik acara nyanyi. Dan memang Gaby yang lahir di Bangka tahun 89 dan ketika berumur 3 bulan sudah dibawa ke Bandung dan menetap di sana, suaranya lumayan dan pantas untuk ikut acara macam Indonesian Idol itu.

 

Saya sempat foto bersama dengan Wakil Gubernur Babel, Syamsudin Basari yang biasa saya panggil Bang Sam. Beliau ini masih terhitung dua pupu dari pihak keluarga bapak saya. Yah, dengan kamera ala kadarnya, seperti ini fotonya yang bisa didapat.

Di antara tamu-tamu yang hadir, rupanya ada juga seorang pesulap terkenal yang dia ternyata orang Bangka juga. Namanya Adri Manan yang saat itu datang sendiri karena istrinya, penyanyi Rani, sedang berada di tempat lain untuk satu keperluan. Lagi-lagi dengan kamera ala kadarnya, jadilah foto pas-pasan ini.

 

Penutup

Semoga apa yang saat ini tampak sebagai euphoria, kegembiraan sesaat, atau malah culture shock, gegar budaya, yang dialami baik para pemeran maupun kesiapan Bangka Belitung untuk ‘bangkit kembali’ dari sisi budaya dan pariwisatanya, itu bisa ditanggapi dengan sigap oleh pihak pemda terutama dinas pariwisatanya.

Sayang jikalau momentum akibat meledaknya film ini malah tidak bisa dikelola dengan baik oleh pihak-pihak terkait. Saya sedih mendengar cerita dari sepupu saya di Belitung yang mengatakan bahwa justru film Laskar Pelangi ini tidak bisa dinikmati oleh urang Belitong. Kenapa bisa begitu, karena di Belitung sendiri, terutama Tanjung Pandan, itu tidak ada bioskop..! Gedungnya sudah dihancurkan dan sudah diganti dengan gedung lain. Hal itu memang bisa terjadi karena budaya masyarakat Belitung yang mungkin tidak terlalu suka nonton di bioskop.

Melalui sepupu saya yang bekerja di 21, saya coba tanyakan apa ada kemungkinan untuk misalnya seseorang di Belitung menyewa film itu dan diputar di sebuah gedung misalnya, atau malah jadi layar tencep. Karena kemarin ada seorang yang mempunyai posisi cukup di Belitung, berniat untuk menlakukan hal itu. Yah, insya Allah semua niat baik itu bisa terlaksana, sehingga urang Belitong juga bisa menikmati film itu.

Ada yang memberikan komentar bahwa sekarang Belitung sedang menikmati masa ketenaran. Tapi ia juga menyinggung bahwa jangan lupa, DN. Aidit itu juga orang Belitung. Memang benar sih, bahwa Aidit itu orang Belitung. Tapi, sebagaimana Hitler dengan Nazi-nya, kan tidak serta merta orang Jerman itu Nazi, sebagaimana juga kebetulan cuma Aidit yang ikutan PKI. Bukan berarti semua orang Belitung itu PKI dong..

Semoga bermanfaat, apa yang saya tuliskan ini..

 

Sumber http://warnaislam.com, Senin, 13 Oktober 2008 02:41