Tanjungpandan (WP), Kalau teman teman mengikuti berita di Kompas atau di TV, jelas kami sudah berencana memutar layar tancap di kampung Gantong-Belitung, bahkan daerah lainnya di Babel. Saya bukan produser yang berorientasi bisnis belaka. Lagi lagi, kalau teman-teman di marketing melihat perjalanan karir saya di perfilman nasional, pasti tahu itu.

Yang juga harus disadari, memutar layar tancap tidak semudah memutar DVD.Jadi butuh waktu dan persiapan tehnis. Kalau para tehnisinya harus pulang kampung dulu menjelang lebaran, ya kami harus menunggu. Jadi jangan curiga dulu. Tanggal 25, kalau tidak ada aral melintang tim proyektor 35mm seluloid beserta pembuat film akan hadir dan memutar film ini, dengan mendahulukan kampung Gantong, tempat film ini dibuat. Mereka akan menyaksikan film Laskar Pelangi sesuai dengan format aslinya, yaitu film layar lebar, Salam Mira lesmana, tulis sang produser pada hari Sabtu, (11/10) dalam diskusi internet.

 

Penantian masyarakat (Belitong) untuk menonton film Laskar Pelangi menimbulkan seribu sangka. Tidak terkecuali terhadap integritas produser film. Disisi lain gencarnya blocking tokoh-tokoh dan informasi yang terkait dengan novel di berbagai media meningkatkan keingin tahuan orang terhadap film. Integritas prosedur melatarbelakangi Andrea Herata memilih Mira Lesmana (produser) dan Riri Reza (Sutradara). Meski tidak ingin mengintervensi wilayah film, penulis berharap citra yang digambar orang film bisa lebih baik dari tulisannya. Dan film Laskar Pelangi bisa jadi berhasil membangun keindahan pantai Belitung. Citra atau nuansa alam Belitong bahkan lebih baik dibandingkan dengan nuansa pelangi yang digambarkan dalam novel. Film ini telah mengangkat citra Belitong dari pulau “penuh lobang “ menjadi pulau penuh kasih sayang dan keindahan. Laskar Pelangi mampu memobilisasi masyarakat kota-kota besar, jangan kan jumlah mata pilih Pemilu Bupati dan Wakil Bupati Belitung yang hanya 103 ribu mata pilih, 153 ribu penduduk Kabupaten Belitung pun terlampaui dengan penonton yang mencapai lebih dari 1,5 juta penonton. Potensi mobilisasi masa Laskar Pelangi menggiurkan tokoh politik lokal.

 

Dan seperti janji Mira, film akhirnya dipastikan akan diputar di Belitong, mulai dari Gantong (25 Oktober), Manggar, Tanjungpandan (26 Oktober) hingga Pangkalpinang (1 November). Menurut Taufik Gunawan Pos Belitung Event Organizer, ketika menghadap Penjabat Bupati Belitung, Pos Belitung Event Organizer berencana menambah titik tayang film berdurasi 2 jam di Kabupaten Belitung untuk mengantisipasi membludaknya penonton yang membawa pesan kepariwisatan dan pendidikan ini. Dari proposal Pos Belitung Event Organizer, biaya operasional satu kali tayangan tambahan sebesar Rp.20 juta.

 

“Di Gantong, film ini akan diputar di halaman bekas Em-Pe-Be, Canggu Gantong, sedangkan di Manggar rencananya akan diputar di Lapangan Bola Jagor. Pemutaran film ini didukung oleh Miles Film dan PT.Timah Tbk“ kata Taufik.

 

Bioskop Kicong dan Panggong Hasan Aban di Gantong sudah lama ditutup. Begitupun Bioskop Mega di Manggar. Di Tanjungpandan sendiri, bioskop lebih banyak dibandingkan di dua kecamatan diatas, mulai dari Bioskop Billiton, Bioskop Gunung Tajam (Minerva), Bioskop Garuda, Bioskop Mega dan Bioskop Helly. Sayangnya seluruh bioskop di Pulau Belitung akhirnya tutup seiring kemudahan masyarakat menonton film melalui VCD Player.

 

Setelah sekian lama masyarakat penonton Belitung merubah media tontonan dari bioskop ke VCD tiba-tiba perfilman nasional mengangkat citra masyarakat Belitong kedalam media tontonan yang sudah lama ditinggalkan. Mungkin ini bersifat temporal tetapi jika orang diluar Belitung bisa mengapreasikan buku dan film tentang Belitong, rasanya tidak terlambat berapreasiasi. Konon Bupati Kabupaten Liwa (Lampung) mengeluarkan himbauan untuk menonton film pendidikan ini dan Andrea Herata berharap film ini bisa ditonton setiap peringatan hari Pendidikan Nasional. Bukan soal kelucuan dan kesedihan Laskar Pelangi tetapi soal peradaban, soal pendidikan dan soal mengangkat dunia kepariwisataan sebagai alternatif ekonomi tambang (fithrorozi)