Sijuk (WP),  Pertanyaan mendasar setelah dua kali penyelenggaran Sail Indonesia adalah mengapa nama wisata bahari ini disebut Sail Indonesia sementara titik keberangkatan dimulai dari  Australia (Darwin).  Karena itu, setelah dua tahun event ini perlu dievaluasi (kemampuan dan kelemahan) terkait dengan penyelenggaraan agenda pariwisata (baik lokal, nasional maupun dunia), lantas bagaimana dampak event ini bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Hal ini diungkapkan Kepala Bappeda Provinsi Babel, Ir.Nazalyus di Pantai Tanjung Kelayang, Senin (13/10). Konsekuensi dari nama Sail Indonesia semestinya mengacu pada titik (teritorial) Indonesia, dengan benefit yang ditimbulkan akan lebih besar terkait dengan proses kemigrasian (customs, imigratiion and quarantine), tambah Nazalyus.

 

Seperti yang dijelaskan peserta Sail Indonesia 2008 dari Eropa kepada Wartapraja, sebelum sampai di titik awal di Darwin Australia dirinya berlayar melewati kepulauan Karibia hingga terusan Panama. Minat, alasan atau motivasi  berlayar mengarungi lautan beragam namun setidaknya para peserta Sail Indonesia 2008 telah menunjukkan kecintaan terhadap dunia bahari diluar dari motif mengeksploitasi sumberdaya perikanan. Lebih dari 50 persen dari 34 yacht yang singgah di Tanjung Kelayang,Belitung  berusia diatas 60 tahun .

 

Beragam alasan dan motivasi peserta Sail Indonesia dari mancanegara terungkap dalam dialog mereka dengan para guide, polisi wisata, pelajar hingga masyarakat.  Cyntia menitipkan   empat anak –laki-laki dan satu anak perempuan dan  bersama suami mengikuti event tahunan ini. “ Bahkan ada yachter yang rela menjual rumah mereka untuk mengikuti Sail Indonesia 2008 ini “ ujar Madi Sungkowo yang sudah dua tahun ditunjuk sebagai guide.

 

Madi mengakui jumlah peserta tahun 2008 ini memang lebih kecil dibandingkan tahun 2007, namun jumlah masyarakat yang datang ke pantai wisata ini jauh lebih besar dibandingkan tahun lalu. Sumber informasi wartapraja  menyebutkan jumlah kunjungan wisatawan lokal berkisar antara 9.000 hingga 10.000 pengunjung terutama pada saat soft launching Babel Archie 2008 kemarin (12/10).

 

Tampilnya dua artis KDI (Moel-KDI dan Mega-KDI) dan beragam atraksi tradisional seperti barongsai, lesong panjang, buang jong, kuda lumping ataupun beripat beregong menjadi daya tarik kunjungan wisata lokal. “Dengan potensi objek dan atraksi wisata yang dikemas sedemikian rupa, saya optimis dunia pariwisata kita bisa berkembang pesat apalagi kita bisa merangkul agent-agent perjalanan wisata luar daerah dan menyuguhkan hal yang sama seperti Sail Indonesia ini “ kata Nazalyus.

 

Peserta Sail Indonesia 2008 juga sempat menari (nidal) diiringi pukulan gong diatas panggung setingi empat meter di Tanjung Pendam, begitupun Aki, yachter asal Jepang menyanyikan Lagu Bengawan Solo diinrigi orkes Keroncong Billiton  yang ditampikan di objek wisata pemandian alam Tirta Marundang. Sementara Teyo (Belanda) dengan memainkan gitar  menyanyikan lagu Yesterday-John Lennon dalam kemasan irama keroncong.

Tak urung wisatawan asing lain mengabadikan kekaguman dua rekan mereka dengan handycam dan camera.

 

Menurut pemilik Tirta Marundang, Hadi Wibowo, jumlah kunjungan  wisata berkisar antara 4000 hingga 5000 wisatawan kokal. “ hari kedua lebaran jumlah kunjungan mencapai 5000 orang dan kemarin (12/10) kurang lebih 4000 yang berkunjung kesini” jelas Aing panggilan Hadi Wibowo.

 

Sejak soft launching Babel Archipelago 2010 di Tanjung Kelayang kemarin (12/10) oleh Menteri Perhubungan Ir.Jusman Safii Djamal, banyak media nasional  baik cetak maupun elektronik yang datang ke Belitung menyusul keberhasilan novel dan film Laskar Pelangi. (fithrorozi)