Oleh Rizal Merbau

 

Disadari atau tidak, salah satu kata yang paling akrab dengan mata kita dalam kehidupan sehari-hari adalah kata “DILARANG”. Bagaimana tidak? Kita dapat dengan mudah menemui kata tersebut di pasar, di hutan, di gunung, di jalan, di perkantoran, di ruang tunggu, di angkutan umum, di tembok-tembok rumah, dll. Namun anehnya, meskipun terdapat dimana-mana dan dibuat mencolok dengan huruf besar-besar biar terlihat, justru kata dilarang tadi yang pengertiannya memerintahkan seseorang untuk tidak melakukan perbuatan tertentu seolah-olah tidak ada artinya, aturan tinggal aturan.Sebagai contoh, di sepanjang sungai banyak ditemui tulisan “Dilarang Membuang Sampah di Sungai”, kenyataannya masih banyak orang tanpa rasa bersalah membuang sampah di sungai. Di tepi kawasan hutan produksi/lindung banyak terdapat tulisan “Dilarang Menebang Pohon ….dstnya”, kenyataannya banyak hutan kita yang hanya bagian luar terkesan tidak terusik sementara bagian dalamnya banyak pohon yang tinggal tunggulnya saja. Di pintu masuk rumah sakit terdapat tulisan “Dilarang Membawa Anak Kecil Dibawah 12 Tahun Membezuk Pasien” kenyataan sehari-hari yang kita lihat banyak orang tua yang membawa anaknya yang masih dibawa umur 12 tahun membezuk pasien. Di SPBU terdapat tulisan “Dilarang Menggunakan jerigen” kenyataannya masih ada saja petugas SPBU dengan santai mengisi bensin atau solar ke jerigen. Dan sejak tanggal 6 Oktober nanti, Belitung diramaikan dengan spanduk 7 peserta Pemilu Bupati/Wakil Bupati untuk mengajak pemilih memilih pada tanggal  23 Oktober nanti, kontestan dilarang menempel di sana dilarang di jalan ini, ternyata dilanggar juga. Wuih, kalau sekedar contoh yang begituan, kaya’nya buanyak bangat dah……!!!.

 

 

Semua hal tersebut di atas pada dasarnya tidak ada yang salah jika saja penduduk bangsa ini sebagian besar adalah buta huruf alias tidak bisa membaca. Tapi nanti dulu bung……., berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia pada pertengahan tahun lalu, jumlah masyarakat yang buta huruf di Indonesia hanya sebesar 12,24 juta jiwa atau setara dengan 7,49% dari total penduduk, cukup aneh jika melihat kenyataan banyaknya yang mengabaikan atau tidak mengerti arti kata “dilarang”.

Melihat gambaran tersebut di atas, mungkin akan lebih bijaksana kalau pihak pemerintah menanggapinya dengan hati dingin. Kita tidak perlu dengan mudah menyalahkan masyarakat yang “dengan sengaja” melanggar aturan. Maaf, bukannya aku membenarkan perbuatan mereka, tetapi mau bagaimana lagi, barangkali kodratnya manusia kalau mau gampangnya saja. Aku yakin, mereka bukan tidak bisa membaca, tetapi oleh karena sesuatu hal lah yang mebuat mereka melanggar aturan. Ingat pepatah lama, dimana ada asap disitu tentu ada api.

 

 


Untuk membuat aturan yang mampu mengatur, hanya diperlukan satu rumus sederhana yaitu pemerintah harus menyadari “bahwa aturan itu mestinya dibuat atas dasar kebutuhan”. Tegasnya, sebelum membuat suatu aturan maka tindakan pertama yang harus dilakukan oleh pihak pemerintah adalah mendeteksi kebutuhan masyarakat. Selanjutnya hasil deteksi kebutuhan dianalisa untuk memfasilitasi agar masyarakat memperoleh solusi terbaik yang memenuhi unsur mudah, cepat, aman, dan murah. Sederhana, dijamin tokcer.Sambil menunggu aturan baru yang azaz pembuatannya memenuhi kreteria di atas, jangan heran bila disana sini masih baik sengaja atau tidak banyak aturan yang dilanggar. Apa boleh buat…..!!!

 

 

 


Terlepas dari itu semua, Indonesia sebagai bangsa yang pemaaf dan toleran adalah suatu yang patut disyukuri oleh semua pihak. Kita masih dapat leluasa melanggar suatu aturan tanpa rasa bersalah karena pihak yang mestinya mengawasi atau menindak pelaku yang melanggar aturan kebetulan masih saudara atau tetangga atau sahabat atau tetangganya dari tetangga atau sahabatnya dari sahabat atau saudaranya dari saudara kita. Wajah garang atas nama penegakan aturan harus segera dicairkan, yang penting, masing-masing dapat tersenyum. Kecuali untuk yang satu ini, pelanggaran lalu lintas………… ampun… ampun.