Oleh Rizal Merbau

Di kampung kami ada semacam kebiasaan memberi uang lebaran bagi setiap anak kecil yang berkunjung ke rumah (eh, aku dengar kebiasaan ini tidak hanya ada di kampung kami, tetapi juga berlaku di seluruh pelosok negeri ini. Benar tidaknya, Wallahu ‘alam bissawwab). Si pemilik rumah akan merasa bersalah bila tidak memberi, dan si anak akan merasa ada yang aneh bila tidak diberi uang lebaran. Suatu kebiasaan yang mungkin tidak perlu diperdebatkan untung ruginya. Toh, ini hanya terjadi setahun sekali. Hitung-hitung berbagi kasih. Begitulah………..!!!

Namun, pada Hari Raya Idul Fitri kali ini aku punya pengalaman baru mengenai pembagian uang lebaran. Meskipun terkesan sepele, sejujurnya aku mengatakan pengalaman tersebut mungkin akan mempengaruhi sikapku di masa yang akan datang. Aku menyadari, sesuatu yang semula sesuatu yang aku anggap baik belum tentu baik sesungguhnya, bisa saja yang terjadi adalah kebalikannya. 

Ini bermula dari lebaran hari ke-dua. Saat itu, Bang Kulup, salah seorang sahabat dekatku, tengah bersilaturahmi ke rumah kami. Pada saat kami masih mengobrol, datanglah 3 orang anak kecil, 2 laki-laki dan 1 perempuan. Umur mereka sekitar 7-8 tahun. Setelah bersalaman, anak-anak tadi aku persilahkan duduk sembari mencicipi kue. Kurang lebih 5 menit kemudian, anak-anak pamit, sebagaimana biasa, aku menyiapkan uang lembaran seribu rupiah sebanyak 6 lembar yang akan aku berikan kepada mereka. Pada saat aku akan memberikan uang lebaran kepada anak yang kedua, aku lihat dia menyodorkan tangan kirinya untuk mengambil uang lebaran, secara refleks aku berkata ”Nak, jangan pakai tangan kiri, tangan manisnya mana?” mendengar teguran tersebut, si anak mungkin menyadari kesalahannya. Dia buru-buru menarik tangan kiri dan segera menyodorkan tangan kanan yang biasa disebut sebagai “tangan manis” untuk menerima uang lebaran. Melihat sikapnya itu, ada terbersit rasa bahagia karena sedikit banyak aku merasa telah mengajarkan kepadanya sikap yang baik menurut norma yang berlaku di lingkungan kita. Dua lembar pecahan uang seribu rupiah yang tadi sempat tertahanpun segera berpindah tangan. Anak-anak pergi, tinggallah kami berdua aku dan Bang Kulup.

Saat kami melanjutkan obrolan, Bang Kulup bertanya “Bung, tadi aku lihat Bung sempat menegur anak yang menggunakan tangan kiri untuk menerima uang lebaran. Memangnya kenapa harus tangan kanan?” Aku berkata sambil tertawa didalam hati, “Bang kulup ini ada-ada saja. Masa’ Bang Kulup masih menanyakan sesuatu hal yang jelas-jelas tidak umum dengan adat istiadat bangsa sendiri”. Meskipun demikian, aku mencoba untuk tidak membuatnya tersinggung. Harap maklum, namanya juga manusia, bisa saja dalam hal ini Bang Kulup khilaf. “Iya bang, aku memang sengaja menegur anak tadi, karena kita semua tau, bahwa penggunaan tangan kiri untuk mengerjakan sesuatu yang baik adalah tindakan yang tidak baik. Malah pada kasus tertentu, hal itu merupakan suatu bentuk penghinaan. Bukankah selama ini tangan kiri kita pakai hanya untuk bersih-bersih habis buang air besar maupun kecil saja?” Seakan tidak cukup, penjelasan tadi aku tambahkan dengan mengutip hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim “Janganlah kalian makan dengan tangan kiri dan janganlah minum dengan tangan kiri . Sebab setan makan dengan tangan kiri dan minum juga dengan tangan kiri” dan hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad “Barang siapa yang makan dengan tangan kiri maka ia makan bersama setan. Barang siapa yang minum dengan tangan kiri maka ia minum bersama setan.” (hi hi hi, ……..kaya’ ustad saja)

Aku lihat Bang Kulup diam mendengar penjelasan yang aku sampaikan, apalagi ditambah dengan mengutip hadits Nabi. Aku yakin, Bang Kulup akan terkesan dengan penjelasanku. Mungkin dia terkejut, orang seperti aku bisa memberikan penjelasan sedemikian rupa. Aku tersenyum dan berkata dalam hati, “aha……..…,sekali ini aku tampak tidak lagi bodoh, bahkan mungkin lebih pintar dari sahabatku sendiri. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi”Setelah aku selesai bicara dan menikmati “kemenangan yang sebelumnya tak pernah terjadi” tadi, gantian Bang Kulup yang bicara “Begini bung, untuk sementara aku tidak membenarkan dan tidak menyalahkan pendapat bung, tapi sebelumnya mungkin dapat aku jelaskan bahwa otak manusia mempunyai dua bagian, yaitu otak bagian kiri dan bagian kanan. Otak bagian kiri kita mengatur pergerakan dominan dari bagian kanan tubuh kita, dan otak bagian kanan mengatur pergerakan dominan dari bagian kiri tubuh. Hampir 80-90% diantaranya akan mengalami dominasi belahan otak sebelah kiri, sehingga anak akan aktif dengan tangan kanan dalam beraktivitas. Sampai saat ini, para ahli belum ada kata sepakat mengapa seseorang anak dapat menjadi kelompok yang 10-20% (mengalami dominasi belahan otak sebelah kanan)”

Seolah tidak mau kalah, aku buru-buru memotong pembicaraannya. “Bang Kulup, mohon maaf, budaya Barat kan berbeda jauh dengan budaya Timur. Sebagai orang Timur kita mempunyai budaya, adat istiadat dan kebiasaan sendiri yang telah ditanamkan secara turun menurun oleh nenek moyang. Dan satu hal yang perlu digarisbawahi, kita mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki mereka, yaitu tuntunan Hadits Nabi Besar Muhammad SAW.”

Bang Kulup tersenyum melihat pembelaan yang aku yakini kebenarannya itu. Sesaat kemudian dia melanjutkan pembicaraannya “Begini Bung, kira-kira 10–20% dari penduduk dewasa adalah kidal. tangan kidal lebih umum ditemukan di kalangan laki-laki daripada perempuan. tangan kidal lebih sering muncul di kalangan kembar identik, dan sejumlah kelompok orang yang mengalami gangguan neurologis. Dari segi statistik, seseorang yang memiliki saudara kembar yang kidal mempunyai 76% kemungkinan untuk juga kidal. Tindakan pemaksaan penggunaan tangan kanan bagi seseorang kidal dapat berefek buruk bagi yang bersangkutan. Dalam beberapa kasus, tindakan ini malahan dapat mengaburkan dominasi fungsi otak. Sebagai contoh korban pemaksaan penggunaan tangan kanan bagi orang kidal adalah George VI dari Kerajaan Inggris. George V memaksa sang anak yang kidal untuk menggunakan tangannya yang kanan untuk mengerjakan sesuatu. Akibatnya, setelah beranjak dewasa George VI menjadi gagap ketika berbicara.Sambil menjemput “jajak rintak” (makanan khas lebaran kampung kami), Bang Kulup meneruskan pembicaraannya “Masalah Hadits yang bung kutip tadi itu tidak salah. Tapi, coba bung simak baik-baik, Rasulullah hanya melarang penggunaan tangan kiri untuk makan dan minum. Hadits lain hanya menyebutkan bahwa Rasulullah selalu mendahulukan bagian sebelah kanan untuk mengerjakan hal-hal yang baik. Bung harus dapat membedakan arti kata mendahulukan dengan melarang, kecuali untuk 2 hal di atas, yaitu makan dan minum”

Kebahagiaan yang semula sempat terbersit karena merasa telah berjasa memberi pelajaran adab sopan santun kepada anak yang menyodorkan tangan kiri untuk menerima uang lebaran, perlahan-lahan sirna. Kebodohan yang tadi sempat tertutup karena “merasa lebih pintar” dari Bang Kulup, perlahan-lahan mulai muncul lagi. Aku tidak tau harus berkata apa-apa lagi, selain bertanya “Bila dikaitkan dengan penjelasan Bang Kulup tadi, apa yang harus aku perbuat bila di kemudian hari aku mengalami hal yang sama?”

Lagi-lagi Bang Kulup tersenyum sambil menjawab “Semua terserah kepada bung. Aku hanya menyampaikan pendapatku. Tapi tolong perhatikan berita atau film-film dari negara luar yang ditayangkan di televisi, penggunaan tangan kiri untuk mengerjakan sesuatu yang baik tidak pernah menjadi masalah. Sebagai contoh, presiden Amerika Ronald Reagan, George H.W. Bush, dan Bill Clinton adalah orang-orang yang kidal. Leonardo da Vinci, Charlie Chaplin, Tom Cruise, Robert DeNiro, Nicole Kidman, Marilyn Monroe, Robert Redford, Keanu Reeves, Julia Roberts, Slyvester Stallone, Bruce Willis, Oprah Winfrey juga kidal”

Sampai Bang Kulup pamit pulang, aku hanya mampu diam sambil memohon ampun kepada Allah SWT karena telah memaksa seseorang anak menggunakan tangan kanan sementara si anak ternyata kidal.