Oleh Rizal Merbau

Takbir, tasbih dan tahmid yang dilafazkan oleh jemaah masjid dan surau melalui pengeras suara dari masjid dan surau serta suara bedug yang ditabuh bertalu-talu sejak selesainya sholat Isya pada tanggal 30 September 2008 kemarin terdengar begitu indah. Bagaimana tidak? Hal itu merupakan tanda bahwa besok paginya adalah hari Raya Idul Fitri.

Anak-anak bergembira karena, mereka akan mengenakan baju baru yang dibelikan oleh orang tuanya. Muda-mudi bergembira karena saat lebaran biasanya mereka diberi kebebasan dari orang tua untuk berkunjung ke rumah kawan-kawannya. Ibu-ibu bergembira, karena pada saat seperti ini lah mereka dapat menunjukkan kepiawaian sebagai ibu rumah tangga yang terampil menata rumah, terampil memasak aneka masakan lezat. Bapak-bapak bergembira, karena pada saat seperti inilah mereka dapat berbagi kasih dengan ponakan atau anak-anak sahabatnya melalui pembagian uang lebaran. Mereka yang tergolong tidak mampu pun bergembira, karena pada saat ini seakan-akan semua orang peduli dengan kehidupannya. Mereka yang berada di lembaga pemasyarakatan pun bergembira, karena pada saat lebaran mereka akan menikmati makanan lezat yang sangat jarang mereka dapat. Semua bergembira, semua bersukaria. Tidak peduli apakah mereka berpuasa atau tidak.

Seorang sahabat berkirim pesan singkat “ Ruar biasa Kesaktian Pancasila jatuh pada tanggal 1 Syawal…Selamat Hari Kesaktian Pancasila”. Eh, nanti dulu…………….!!! Mohon maaf, ternyata aku juga sadar ada yang terabaikan. Ternyata pada saat kita semua merasakan kegembiraan menyambut lebaran, ada sesuatu yang hampir luput dari perhatianku, yaitu peringatan Gerakan 30 September (PKI) yang tercatat sebagai lembaran hitam Bangsa Indonesia di akhir September 1965. Jujur aku katakan, sampai saat inipun aku tidak tahu secara pasti, apa dan bagaimana G 30 S itu sesungguhnya.

Pada saat kita merayakan kegembiran, arwah pahlawan revolusi di alam kubur sana mungkin tengah bersedih menanti para sejarawan membuat buku sejarah yang benar tentang republik ini. Bapak dan ibu guru mata pelajaran PSPB pun mungkin bersedih, karena peristiwa dan latar belang tragedi tersebut belum dapat disampaikan secara rinci kepada murid-muridnya. Tragedi berdarah 43 tahun lalu sampai kini belum terungkap dengan jelas. Kita terlalu sibuk berdebat tanpa pernah memperoleh kata sepakat. Aku masih ingat dengan jelas, bagaimana stasiun televisi kita pada setiap tanggal 30 September selama bertahun-tahun selalu menayangkan sebuah film produksi PPFN yang menceritakan bagaimana kejamnya PKI membantai 6 orang jenderal AD Republik ini sebagai salah satu upaya merebut kekuasaan dari tangan presiden yang pada waktu itu masih dipegang oleh Soekarno. Entah kebetulan atau disengaja, tokoh penyelamat bangsa menurut film tersebut adalah Pak Harto yang dikemudian hari menjadi presiden di negeri ini selama 32 tahun.

Namun, seiring dengan tumbangnya kekuasaan Pak Harto pada tanggal 21 Mei 1998, silang pendapat mengenai kebenaran film tersebut semakin keras. Ada yang masih percaya tetapi tidak kurang pula banyak yang menentangnya.

Berbagai teori kemungkinanpun mencuat dengan argumentasinya masing-masing. Menurut editorial Media Indonesia edisi tanggal 1 Oktober 2006, sekurang-kurangnya ada empat teori kemungkinan mengenai Gerakan 30 S tersebut, yaitu : 1. Gerakan tersebut didalangi PKI, 2. kudeta halus Jenderal Soeharto, 3. rekayasa presiden Soekarno, dan yang ke 4. adanya campur tangan pihak asing (CIA).

Bila teori yang mengatakan bahwa Gerakan 30 S itu didalangi oleh PKI adalah benar, maka dapat aku bayangkan betapa sedihnya arwah Pak Harto. Perjuangan beliau menyelamatkan bangsa dari kehancuran, telah kita balas dengan fitnah yang keji. Ah, andai Pak Harto suka mendengarkan lagu, maka mungkin lagu dangdut yang berjudul “air susu dibalas dengan air tuba” dapat dipastikan menjadi salah satu lagu favorit beliau. Tapi mungkin juga beliau tidak begitu peduli dengan segala fitnah yang telah kita lontarkan, sebagai seorang pejuang sejati beliau taunya hanya berjuang, membela dan mempertahankan bangsa dan negara tercinta, sedangkan untuk penilaiannya, beliau serahkan kepada Allah SWT Yang Maha Mengetahui dan rakyat negeri ini.

Bila teori kedua yang menyebutkan Gerakan 30 S tersebut merupakan kudeta halus Jenderal Soeharto adalah benar, maka dapatkah kita membayangkan bagaimana sedihnya arwah 500.000 s/d 2.000.000 jiwa korban pembantaian tentara atas tuduhan keterlibatan mereka sebagai anggota PKI? (http://id.wikipedia.org/wiki/PKI) Mereka telah difitnah sedemikian rupa sehingga Tuhan sang pemilik nyawapun seakan-akan tidak berdaya dibuat oleh tentara kita. Dapatkah kita membayangkan bagaimana hancurnya perasaan jutaan eks anggota PKI yang masih hidup dan anggota keluarganya setelah selama sekian puluh tahun ditekan sedemikian rupa oleh pemerintah yang berkuasa saat itu, dimana setiap gerak dan langkah selalu diawasi oleh pihak yang berwenang. Dan, mungkin yang lebih menyakitkan, sampai sekarang belum ada satu kata maafpun yang diucapkan secara resmi oleh pemerintah.

Bagaimana bila teori ketiga yang menyebutkan Gerakan 30 S merupakan rekayasa Presiden Soekarno atau adanya campur tangan pihak asing adalah benar? Ah, aku tak sanggup membayangkannya. Aku hanya bisa berharap dan berdo’a semoga kebenaran dibalik peristiwa G 30 S akan segera terungkap. Aku tidak peduli siapa yang salah atau benar. Yang telah berlalu biarlah berlalu, tapi kebenaran harus diungkapkan.

Namun, sayang seribu kali sayang, harapanku mungkin tinggal harapan, do’aku mungkin tinggal do’a. Aku tidak tau kepada siapa harus disampaikan dan mau mendengarnya. Bangsa ini terlalu banyak yang pintar dan mau bicara, tapi hanya sedikit yang mau mendengar. Atau jangan-jangan mereka sengaja tidak mau mendengar ? Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Bathin.