Tanjungpandan (WP), “ Kenapa membangun sekolah di tengah hutan ” begitulah kritikan yang diterima Guru Hasyim, panggilan Hasyim Idris. Satu-satunya akses menuju SMP Buruh melewati jalan setapak dari Jalan Air Ketekok. Setelah pemerintah membuka kompleks perumahan (kini di Jalan A.Yani samping Bappeda) menyusul komplek perumahan di Depan SMA Negeri Tanjungpandan akses ke sekolah semakin mudah. Di Masa Bupati Hanandjudin di depan sekolah di bangun Gedung Olah Raga menggunakan lahan bekas lapangan tembak kepolisian.

Berdirinya SMP Buruh tidak terlepas dari keberadaan Serikat Buruh Penambangan Timah (SBPT) yang diketuai Hasyim Idris. Sebuah organisasi non pak-central yang tidak mendukung sesuatu kekuatan politik tertentu. Pak karjo, Pak Jali, Pak Sadat dan Pak Kodaris, Nurcahya Murad-guru bidang studi bahasa inggris bersama sang suami Murad Aidit adalah guru SMP Buruh yang menjadikan muridnya sebagai  orang besar dan terkenal meski dengan fasilitas, dana dan manajemen seadanya. Muhammad Muas, Wakil Gubernur Babel Syamsudin Basari adalah sekian nama yang pernah mengenyam pendidikan di SMP Buruh yang kepopulerannya melewati sang guru.

SMP Buruh tidak menjadi favorit bukan karena fisik bangunan tetapi juga manajemen pengelolaan dan keuangannya yang tidak menguntungkan dibandingkan empat sekolah lainnya yakni SMEP Sore, SMEP Negeri, SMP 1 Negeri Pagi dan SMP Negeri Sore. Murid-muridnya berasal dari anak-anak buruh tambang atau murid SMP berkualitas tetapi muridnya tidak menunjukkan prestasi.“ Murid SMP Buruh harus mengikuti dua kali ujian yakni ujian sekolah dan ujian negara atau menginduk ke SMP negeri Tanjungpandan saat itu 23 murid berhasil lolos ujian negeri” ujar Rosihan Sahib,BA.

Tekad pengurus Serikat Buruh Penambangan Timah (SBPT) akhirnya bersambut, kelemahan diperbaiki setelah Yayasan Gotong Royong ikut menata keuangan dan manajemen SMP Buruh. dibawah Yayasan Gotong Royong (Yagor) sedikit demi sedikit manajemen SMP Buruh diperbaiki. Yayasan ini juga membenahi beberapa SD yang berubah nama menjadi SD Yagor yang merupakan cikal bakal berdirinya SD UPT Bel.

Sekitar tahun 1966 SMP Buruh yang diambil alih dari Yayasan Gotong Royong selanjutnya dikelola oleh PN. Tambang Timah Belitung (PN.TTB). Sedikit demi sedikit SMP Buruh dengan nama, keuangan dan manajemen yang baru mampu menunjukkan prestasi kelembagaanya. Sebagian besar anak karyawan timah seperti dokter perusahaan untuk bersekolah di SMP perusahaan timah diantararanya Iwan Regawa, yang kini menjadi dokter ahli bedah Tulang di RSCM, Jakarta. “ Saat itu masih pak Talkanda yang menjadi Kepala Sekolah, di belakang sekolah juga ada SKKP, semacam sekolah pendidikan keluarga “ kata Syarifudin, Alumni tahun 1979 .

Tapi mereka punya ikatan sejarah dan pijakan yang cukup kuat terbangunnya sekolah yang mapan baik manajemen maupun keuangan. Sekitar tahun 1996 SMP UPT.Bel dialihkan dari SMP swasta ke SMP Negeri setelah timah mealkukan restrukturisasi , SMPN 8 Tanjungpandan kemudian menjadi SMPN 6 Tanjungpandan.

Abdullah Albani yang aktif dalam dunia kepanduan (pramuka) sudah lama meninggal dunia, tetapi sang pendidik dari orang-orang besar masih seperti dulu dan hidup sederhana. Husin Wahab, Bongso Erwinoto Nababan Syarifudin (Guru Olah Raga), Pak Yusuf Guru Agama, Pak Majad Jaani, Pak Cornelis (Guru Gambar merangkap Guru Agmaa Kristen), Baharudin, Armia Musa (Guru PKK) dan Rosihan Sahib bisa jadi lelah mengajar dan tidak hafal satu persatu muridnya. Tetapi ajaran mereka membekas, jika bertindak keras tak satupun muridnya dendam.

Setelah SMP UPT.Bel (Unit Penambangan Timah Belitung) menggelar Reuni pada bulan Maret lalu, giliran SMP UPT Bel Tanjungpandan merajut kembali ikatan persahabatan dan silaturahami kepada sang guru. “Sosok guru, memang tidak mengenal istilah mantan seperti alumni” kata Supriadi, Alumni tahun 1986.

Reuni. Pertama SMP UPT Belitung berbagai angkatan ini, rencananya diadakan di Gedung Nasional,Tanjungpandan pada tanggal 4 Oktober 2008 dalam susasana Idul Fitri 1429 H.

Selain menjadi ajang temu alumni, panita reuni yang diketuai mantan Wakil Gubernur Bangka Belitung, Ir.Suryadi Saman,MSc akan menyerahkan bantuan kepada 45 anak yatim dan bingkisan kepada 15 orang guru yang telah memberi bekal ilmu kepada kami, tambah Supriadi. (fithrorozi).