Oleh Drs.Ibnu Haban

  

Sebelum meninggalkan dunia Rasullah berpesan untuk kemajuan ummat Islam dimasa datang.  “Sampaikanlah apa yang kamu ketahui tentang agama, walaupun hanya satu ayat”. Karena itulah tugas menyampaikan tausyiah yang diamanatkan kepada kita untuk selalu disampaikan tidak memandang pengalaman atau tidak berpengalaman. Manusia adalah makhluk yang sempurna namun tidak luput dari kesalahan.

 

Rasullullah bersabda ” Sekiranya umat kita umat mengetahui kemuliaan bulan Ramadhan niscaya mereka akan berharap seluruh bulan adalah bulan Ramadhan”. Begitulah gambaran kemulian dan keberkahan yang terkandung dalam bulan suci Ramadhan  Dengan kebaikan yang diberikan kita harus memperbaiki jasmani dan rohani kita. Pada 10 hari pertama kita diberikan kebaikan,  10 hari kedua Allah SWT memberikan  ampunan dan 10 hari terakhir, Allah memberi keselamatan.

 

Rasullullah dan para sahabatnya menyambut hari-hari terakhir bulan Ramadhan dengan beritikaf  di dalam mesjid. Mereka meninggalkan rumah menuju mesjid. Sehingga di hari-hari terakhir suasana masjid lebih ramai dari biasanya. Sebaliknya di hari-hari terakhir kita justru meninggalkan mesjid dan melakukan aktivitas di rumah, mempersiapkan Lebaran. Padahal dalam Surah Al Baqarah 183, Allah menekankan kewajiban dan ketaqwaan menjalankan ibadah. Dua hal Ini menuntut ibadah kita untuk berkesinambungan hingga semakin hari akan semakin bertambah baik ibadah kita.

 

Puasa mempersiapkan (pembekalan) diri kita untuk memasuki kehidupan akherat nanti. Banyak dari kita justru takut akan kematian namun lupa dengan persiapannya. Umumnya manusia takut pada tiga hal. Pertama, takut gagal yang berlebihan seringkali membuat kita menghalalkan segala cara. Puasa mengajarkan kita untuk mempersiapkan diri agar tidak mengalami kegagalan, tahan uji dan selalu berpikir positif. Pemimpin pun dituntut untuk mampu menahan diri untuk tidak memperkaya diri ditengah-tengah kemiskinan yang terjadi dalam  masyarakatnya.

Kedua, takut  sakit. Karena itu nikmat sehat harus kita syukuri sebelum datang sakit kita. Puasa mengendalikan (diet) untuk tidak berlebihan mengkonsumsi makanan yang justru membuat kita menjadi sakit.  Makanlah saat kita lapar dan dan berhenti sebelum kenyang. Ini nasehat Rasullullah agar kita terhindar dari penyakit.

Ketiga, takut menghadapi kematian. Mati adalah  peristiwa menakutkan dan gerbang yang menentukan apakah orang itu dalam keadaan terlaknat atau dalam keadaan terhormat. Tanda-tanda kematian biasanya lemas, haus, tidak berfungsinya segala keinginan dan sekarat. Keempat tanda tersebut itu ada pada orang yang berpuasa, namun karena mencari keridhoan apa yang kita rasakan dijalani dengan ikhlas.  Puasa untuk melatih diri, keluarga dan masyarakat untuk memperbaiki diri. Pemahaman ini menuntun ummat untuk memanfaatkan kesempatan ibadah sebelum bulan Ramadhan itu berakhir. Oleh karena itu sebelum ajal menjemput, sebelum waktu berakhir marilah kita beribadah (sholat taraweh) dan ibadah lain yang dijanjikan mendapat ganjaran berlipat ganda. Mereka yang menjalani ibadah akan diberikan pahala seperti pahala yang diberikan kepada para Syuhada dan orang yang Saleh. Allah memberikan pahala (ganjaran) yang berlipat-lipat namun terkadang kita sendiri yang menguranginya. Sebaliknya nikmat yang Allah berikan, janganlah dihitung-hitung, karena sepenuhnya itu adalah hak Allah yang diberikan kepada mereka yang dicintai. Semoga  kita diberikan kekuatan untuk mempersiapkan diri melawan rasa takut, sebelum kita gagal, sebelum sakit datang dan sebelum kematian menjemput, Amin.

 

Tausyiah ini disampaikan Drs.Ibnu Haban pada Safari Ramadhan, Jum’at (19/9) 2008 di Mesjid Muthmainnah, Jl.Hasan Saie Desa Perawas.