Tanjungpandan (WP),   Hubungi Roby di telepon 085222971937 atau email  rbyandhika@yahoo. com atau hubungi telepon (022) 7237234, Asrama Gunong Tajam Jl.Supratman No.106 Bandung untuk mendapatkan tiket pesawat Sriwijaya ekstra tanggal 28 September harga tiket Rp. 800 ribu, “tempat terbatas” .

 

Sementara Teddy Aprilianto menginformasikan tiket kapal perang untuk tanggal 27 September yang juga  Asrama Gunong Tajam Bandung. Ini menjadi alternative mudik murah. Beberapa perantau mengeluhkan tingginya tiket pesawat. “ Kalau perlu DPRD Kab Belitung pansus kenapa tinggi harga”, tulis Rustam Effendi di forum diskusi belitungisland@yahoogroups.com. “Pemda semestinya dapat menyikapi berbagai masalah (mahalnya harga tiker) masyarakat seperti    tradisi mudik tahunan ini “ tambah Awaludian Berwanto dalam emailnya. Perantau yang bekerja di Malaysia ini memutuskan untuk tidak mudik karena tidak bertepatan dengan jadwal libur sekolah anaknya.

 

Mengornisasi diri, setidaknya itulah kesan perantau yang ingin bersilaturahmi setahun sekali dikampung halaman. Seperti mahasiswa, upaya mudik bersama pernah dilakukan Forum Kerukunan Masyarakat Belitung (FKMB) beberapa tahun silam.

 

Saat itu 700 perantau Belitung memilih  kapal perang milik TNI AL melalui Pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta) menuju Pelabuhan Tanjung Pandan. Setiap penumpang dikenakan biaya tiket Rp 50.000 yang tidak berbeda dari tahun  2005. 

 

Jauh sebelumnya (tahun 2000), PT Pelni tidak menyelenggarakan pelayaran ekstra (tambahan pelayaran) kapal penumpang ke Belitung menjelang dan usai Natal, Idulftri dan Tahun Baru Kepala Cabang PT Pelni Kabupaten Belitung Drs Adi Adenin saat itu memperkirakan  puncak arus penumpang menggunakan kapal Pelni akan terjadi pada H-5  Sedangkan puncak arus balik ke Jakarta pada H+9. Saat itu Pelni menyelenggarakan  empat pelayaran, kapasitas penumpang yang dapat diangkut sebanyak 2.800 orang. 100 penumpang di antaranya diangkut Kapal Lawit dan Tilong Kabila, serta 1.800 penumpang menggunakan Kapal Mahakam dan Cisadane”

 

Pada tahun 2007 terdapat 550 pemudik menumpang KRI TNI AL, belum lagi pemudik yang melalui jalur udara. Begitulah, mudik   menjadi tradisi yang menjalin kekuatan emosial perantau dengan mengunjungi perenggu (sanak saudara) atau memanfaatkan liburan sekolah para mahasiswa.

Meski tidak sesulit perantau yang ingin ke Belitung, Ipat yang merantau ke Belitung sebagi tukang kusen tampak sibuk memenuhi produksi yang ditargetkan pemilik usaha, tentu akan banyak rupiah dibawa ke kampung jika target kerja bisa tercapai. Bedanya tiket di Belitung gampang didapat.    Tukang kusen yang berencana melangsungkan pernikahan setelah lebaran nanti di Tegal rencananya akan kembali bersama istri ke Kampong Baro Pangkallalang,Tanjungpandan. Bersama teman seprofesi, Ipat sudah mendapatkan tiket kapal Lawit untuk keberangkatan tanggal 18 September. Sebaliknya Wirawan Hendra harus meninggalkan kampung halamannya sendiri. Sudah berapa bulan pria yang kini menumpang di rumah orang tuanya meninggalkan anak istri karena perusahaannya menugaskannya menyelesaikan proyek di Belitung yang tak lain kampung halamannya. Romantisme kampung halaman sudah dinikmati tetapi sebagai kepala keluarga kerinduannya berlebaran di kampung halaman mengalahkan keinginannya  bertemu keluarga di Jakarta. Pada tahun 2006 (Idul Fitri 1427 H), Asosiasi Pertambangan Indonesia (IMA) memperkirakan 30 ribu pendatang kembali ke daerah asalnya Sebagian dari mereka  bekerja di berbagai sektor terutama timah di wilayah Babel (fithrorozi)