Oleh : Drs. Zainal Abidin

Dengan saling berkirim doa, kita dapat mewujudkan silahturahmi yang tidak mudah diwujudkan banyak orang. Seorang penceramah bukan memberikan pengajaran (merasa dirinya lebih tahu dan lebih benar). “ Sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi, kecuali orang beriman, melaksanakan amal soleh dan saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran” (Al-Ashr, Surat ke-103) 

 

Di bulan ramadhan penuh rahmat ini berbagai keberkahan disediakan bagi orang yang bertaqwa dimana kita diwajibkan menjalankan ibadah  puasa, sebagaimana  disebutkan dalam Surah Al-Bagarah 183. “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu melaksanakan puasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertaqwa”.

 

Tujuan ayat ini adalah agar kita menjadi orang yang muttaqien, menebarkan kebaikan ditengah masyarakat. Dengan demikian dimanapun kita tinggal akan memberi manfaat kepada masyarakat. Begitupun ketika pergi meninggalkan kesedihan karena kebaikan yang ditinggalkannya.

 

Sifat muttaqien dicontohkan  Aisyah, dan perempuan sederhana lain yang dicontohkan Rasul dalam hadistnya. Ucapan salam adalah hal yang sederhana yang bisa dilakukan oleh seorang muttaqien ketika menerima tamu. “ Rafiah dengan lugas menolak ketika Siti Aisyah, istri Rasullullah membawa seorang anak laki-laki ke rumah Rafiah, Meski hanya seorang anak kecil, Rafiah masih berpegang pada prinsip tidak mau menerima lelaki sepeninggalan suaminya. Dalam kehidupan saat ini keteguhan memegang prinsip untuk tidak menerima tamu laki-laki sepeninggalan suami memberikan dampak yang baik bagi keutuhan rumah tangga.

 

Dilingkungan tercekil yakni rumah tangga ini kita bisa menebar kebaikan satu sama lain sebelum kita memberikan manfaat kepada lingkungan yang lebih luas. Sebagaimana Siti Aisyah yang selalu mengusap handuk menghapus peluh suami, bahkan Aisyah menyiapkan rotan, merelakan dirinya dihukum jika ada pelayanan yang mengecewakan sang suami.

Begitulah sikap-sikap muttaqien yang dapat kita jadikan acuan menghadapi kondisi sosial ekonomi terutama dalam menghadapi tekanan ekonomi menjelang Lebaran. Suami–istri hendaknya saling memahami dan saling menebar kebaikan satu sama lain dilingkup rumah tangga bukan sebaliknya saling menuntut sesuatu yang diluar kemampuan yang justru membuat kita “panjang tangan”, memenuhi tuntutan dengan jalan pintas.

Banyak orang yang memiliki rumah mewah tidak betah tinggal didalamnya karena ketiadaan berkah, begitupun sebaliknya kemiskinan secara materi itu  tidak akan mendatangkan kesulitan jika keberkahan selalu berlimpah.  Kita memaklumi manusia diberikan nafsu dan perasaan yang terkadang menghilangkan kesadaraan dan membuat kita berpaling dari jalan Allah. Jabatan, kekayaan dan wanita adalah pendorong nafsu yang membuat kita terjerat dalam kemewahan yang menyesasatkan. Dengan ibadah puasa, semoga perasaan dan nafsu dapat kita kendalikan. Selera yang tinggi tetapi  kemampuan yang kurang menggiring ke perbuatan yang tidak terpuji, memutuskan kemanusiaan kita “ Lampu yang lima watt dipaksakan dengan dorongan energi 100 watt ”. Bahkan dorongan nafsu bisa menyentuh pada proses ketauhidan dan mengganggap dirinya Tuhan.

  

Drs.Zainal Abidin adalah penceramah yang juga pegawai fungsional di lingkungan Kantor Departemen Agama Kabupaten Belitung.