“ Sekolah (pendidikan) itu tidak mudah (memerlukan waktu yang cukup lama), tapi itulah jalan tersingkat mengejar karir” ungkap DR.Yusron Ihza, LLM, ketika memberikan Kuliah umum kepada mahasiswa Akademi Manajemen Belitung (AMB), Jum’at (12/9) di Kampus AMB Jalan Gegedek Tanjungpandan. Berulang kali pengelola kampus AMB mengutarakan kepada tamu yang datang kondisi bangunan fisik AMB yang dalam status pinjaman ini dan persoalan peningkatan statuta perguruan tingginya dan berulang kali pual berharap dukungan pemerintah. Seperti nya dijelaskan Pembantu Direktur AMB Huziadi Husin.

 

Sebulan terakhir ini setidaknya sudah ada dua tokoh yang hadir ditengah mahasiswa baik yang memberikan bantuan buku (H.Sudirman Norman,S.Sos) maupun yang memberikan kuliah umum. “lebih tepatnya ini  disebut  berbagi pengalaman”, kata pria yang dilahirkan di Tanjungpandan 6 Februari 1968 merendah

 

Selama tiga tahun, Yusron yang merupakan anak pegawai kantor Agama di Tanjungpandan ini akhirnya pindah ke Manggar. Masa-masa itu sebetulnya cukup sulit menempuh pendidikan. Selepas SMA tahun 1977 saya berusaha mengikuti tes penerimaan mahasiswa baru (SKALU) memilih jurusan Hubungan Internasional di Univeritas Indonesia dan Unpad. Saat itu belum dikenal Lembaga Bimbingan Belajar seperti sekarang ini. “Saya teringat bagaimana saya harus belajar kembali teori himpunan yang belum diajarkan di masa SMA . Saat itu sekolah kamipun sangat sederhana. Gedung  SD,SMP saya dulu sudah tidak ada lagi. Dalam keprihatikan itulah kita berusaha. Biarlah gedung yang buruk, tetapi jangan sampai semangat dan pikiran kita yang buruk.

 

Yusron mengutip kalimat religius bahwa kesulitan justru memberikan kemudahan bagi kita, sebaliknya kemudahan kadang mendatang kesulitan bagi kita. “ yang buruk itu bisa jadi menjadi baik bagimu”. Hal ini dialaminya ketika ijazah S2nya tidak diakui oleh Perguruan Tinggi di Jepang . Kondisi ini membuat Yusron menempuh ulang pendidikan S2-nya di negeri Sakura ini namun dari sinilah dia akhirnya bisa membuka kantor hukum yang membiayai hidupnya. “ Saya tidak menjadikan DPR sebagai tempat mencari uang” kata Wakil Ketua Komisi I  DPR RI Bidang Pertahanan dan Luar Negeri yang berasal dari Daerah Pemilihan Bangka Belitung ini.

 

Ketika mahasiwa mempertanyakan mengapa persentase orang Belitung yang berhasil sangat sedikit dibandingkan populasinya. Yusron menegaskan bahwa pendidikan itu memerlukan perjuangan dan kita  bisa sejajar dengan warga negara manapun. Bagi saya kemampuan berbahasa (Jepang) itu bukan hal yang luar biasa. Karena berada dilingkungan Jepang, kita merasa terjajah jungor (terbiasa berucap). “ Ayam bilo namenye mun mati dikelalaman – mati dalam kelimpahan sumberdaya“ kata Yusron berfilsafat. Yusron dengan lugas mengucapkan filsafat (pemikiran) masyarakat lokal yang seolah ingin memberikan gambaran dan mengurai nilai-nilai lokal yang justru lebih mampu mengurai mengantisipasi kendala masa depan dan  membekali diri untuk menghadapi tantangan global

 

Dari ketertinggalan kurikulum S2 di Jepang akhirnya bisa diatasinya bahkan tesis S2 yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Jepang dianggap meruntuhkan teori yang menyebutkan kebangkitan ekonomi asia bukan hal yang luar biasa. Ini menunjukan kemauan yang besar itu mengatasi berbagai kendala yang kita miliki.

Kepada mahasiswa, adik dari Prof.Yusril Ihza Mahendra mengutip  teori pemikir Engle yang menekankan arah dan keinginan yang akan kita capai dan bagaimana menggunakan kepala (pemikiran). Untuk itu kita dituntut untuk banyak membaca . “ Yang kita tekankan justru jangan sampai hati dan pikiran yang terbelakang “. Yang nabi terima pertama kali juga bukan sholat tetapi membaca (iqra).

 

Terkait dengan tanggapan dosen AMB Mardiansyah Skom yang mengungkapkan fenomena banyaknya pejabat, ekonom atau pengusaha  di Indonesia yang tidak berpengaruh terhadap perbaikan ekonomi bangsa.

Pria yang pernah menjadi peneliti di LPM FE-UI bersama Faisal Basri ini menjelaskan banyak teori ekonomi yang lebih berorientasi pada argumentasi sejarah. Kita bisa melihat banyak investasi yang terkendala karena  ketidakseriusan pemerintah dalam membuat kebijakan (ekonomi) seperti pada kasus LNG. Pemerintah membeli minyak di pasar spot yang harganya justru lebih tinggi ( lebih tinggi 3 dolar perbarelnya). Padahal jika dilakukan dengan perjanjingan kontrak kerjasama (investasi) kondisi justru lebih efisien. Tentunya hal ini sangat ditentukan dengan bagaimana kita membuat strategi. Yusron mengutip cerita SAM KOK (tiga negeri) yang banyak memberikan ilham kepadanya, bagaimana intrik dan strategi itu menentukan dalam perjalanan hidup kita, begitupun strategi kita membangun ekonomi yang mempertimbangkan aspek geo-politik, geo-ekonomi dan geo- strategi. Krisis moneter yang kita alami merupakan sebuah contoh bagaimana ketergantungan ekonomi yang tinggi menjadi penyebab keterpurukan ekonomi . Ini  asimetris dengan data statisik pertumbuhan ekonomi yang dikatakan bertumbuh signifikan, padahal data statisik itu menggambarkan produktivitas yang semu dimana kita  banyak produksi dibuat di Indonesia (made in) tetapi bukan oleh (by) produktivitas bangsa kita sendiri.

 

Apa yang disampaikan Yusron setidaknya dapat memotivasi mahasiswa AMB yang kini berjumlah 236 mahasiwa. Seperti yang juga diutarakan Penjabat Bupati Belitung Hartono Moelyo,SE,MA. Dulu perguruan tinggi dituntut mandiri memenuhi kebutuhan pasar sumberdaya manusia. Dengan kondisi terbatas kita justru dituntut untuk berani berkompetisi ditingkat lokal, nasional bahkan global. Ada tangan yang tidak terlihat (invisible hand) yang mendorong kita mewujudkan entrepreneur campus atau entrepreneur people. Kita membutuhkan buku untuk meningkatkan minat baca masyarakat ” ujar Penjabat Bupati yang juga ikut mendampingi DR.Yusron Ihza,LLM pada Kuliah Umum yang dipandu dosen AMB Andriyansyah,SE,MM  sore itu dari pukul 15:30 hingga 71:20. Selain dihadiri staf pengajar dan pengelola kampus AMB, Kuliah Umum ini juga dihadiri oleh mantan Bupati Belitung 2004-2008 Ir.H.Darmansyah Husein (fithrorozi)