Tanjungpandan (WP),  Dari  awal hingga ujung kampung, sudah  tampak anak-anak duduk diatas pagar kayu..Tuuutttttt…………tuuuttt menirukan pluit sebagai tanda berbuka puasa. Tentu ini hanya gurauan sesama mereka. Biasanya mereka diliburkan diawal puasa. Ini kesempatan mereka memeriahkan bulan Ramadhan, ada yang mencari bambu untuk bedil, ada pula yang mencari sandal bekas untuk membuat roda. Mobil-mobilan dibuat sendiri yang nanti akan digunakan untuk keliling kampung. Tradisi ini dikenal dengan likoran yang dimulai setelah sekian hari ibadah puasa dijalankan.

 

Selain bedug berbuka, masyarakat Belitong sejak era PT.Timah akrab dengan pluit sebagai tanda berbuka puasa. Saat itu, PT. timah memberikan warna dalam detak kehidupan masyarakat Belitung. Menjadi staff di PT.Timah dinilai sudah mapan. Selain dijamin biaya pengobatan. Menjelang lebaran, staff PT.Timah mendapat ransum berupa mentega, kain derel, tepung, sirup saparilla yang diantarkan kerumah-rumah. Ini belum termasuk uang Tunjangan Hari Raya (THR)

 

Setelah melakukan restruktusasi sekitar tahun 1990-an banyak karyawan mengambil pensiun dini dan mendapatkan “uang tekejut”. Salah satunya suami Murtini (50). Selepas pensiunan sang suami, hanya sebagai pendamping istri berusaha. Murtini bisa dibilang pemimpin ekonomi keluarga . Kue pastel Murtini sudah lama dikenal masyarakat Gang Perai. Sejak anaknya SD hingga kini diteruskan oleh anaknya. Efiana (30), Murtini masih saja membuat kue.

“Dia (Efliana) memang tidak ikut membuat kue tapi membantu menjualkan kue keliling, Alhamdulillah biasanya hasil jualannya dapat membeli baju lebaran ketiga anaknya” kata Murtini yang sejak sahur bekerja meski tidak lagi tergolong kelompok usia produktif. Dalam sehari Elfiana dapat meraup untung sekitar Rp.50 ribu.

 

Ramadhan menjadi berkah tersendiri bagi pelaku usaha rumahan seperti Murtini. Di Kampung Gang Perai saja tidak kurang dari sepuluh ibu rumah tangga dengan profesi serupa, merasakan berkah itu “ Kalau bukan bulan puasa, saya menjual kue seharga Rp.500 tapi kini Rp.1.000 yang kebanyakan dititipjualkan ke toko terdekat”, tambah Murtini.

Micot (45) yang biasanya turut menjajakan kue keliling, di bulan puasa ini pun cukup menjual empek-empek dalam bentuk lonjoran yang dititipkan dengan Elfiana. Setiap lonjorannya dijual seharga Rp 5.000 dan upah untuk penjaja kue Rp.100 setiap lonjorannya.  Kalau dihitung dalam sehari dia bisa menjual 10 hingga 15 lonjoran. Beginilah cara orang kampung berbagai rezeki, tidak menguasai hulu dan hilir.

 

Selain berbagi rezeki, masyarakat kampung ditetapkan untuk memberikan sedekah kue-kue basah ke Mesjid. Mereka mengenalnya dengan istilah tambul. Dua hingga tiga keluarga dijadwalkan mengantar kue-kue ke mesjid  untuk dihidangkan kepada mereka yang menjalankan Tadaruz di mesjid.

 

Meski tidak berjualan di Bulan Ramadhan, Yulianti (35) mendapat berkah justru dengan. Hasil pesanan 90 kerat teh botol sudah diterimanya pada sejak hari ketiga Ramadhan. Pelanggannya kebanyakan tetangga dekat. Setiap kerat, perusahaan distributor teh botol  memberi bonus 1 kerat. Jadi sudah dipastikan ada 9 kerat botol sudah didapat. Itu berarti istri pegawai negeri ini sudah meringankan sebagai beban mempersiapkan Lebaran. “ La kelepasan minuman Lebaran isok “ kata Yulianti.

 

Yulianti termasuk orang baru dalam usaha mempersiapkan barang-barang yang dibutuhkan masyarakat saat lebaran. Ami seorang warga Tionghoa pun kecipratan rezeki. Dari hasil pembuatan kue rintak, kue kering yang menjadi ciri khas Lebaran masyarakat Belitung, Ami (50) sudah dibanjiri pesanan sejak tiga bulan yang lalu dengan cara arisan, Arisan Kue Lebaran namanya. Tentunya ada kue-kue lain yang dibuat seperti kue sempret, kue coklat, kue tar. Untuk membuat kue rintak, Ami membutuhkan 50 buah kelapa, sekitar 30 kg gula pasir, tepung terigu 1 hingga 1,5 karung untuk menghasilkan 20-an kg kue rintak.  Setiap bungkusnya berisi 1/2 kg yang berisi 50-an buah kue.

Meski sudah memulai usaha sejak empat tahun yang lalu. Ami tidak bisa memastikan takaran pasti. Adonan santan dan gula dimasak hingga mengental cukup membuat rumit proses pembuatan rintak. Dari loyang, oven dan adonan dirancang  oleh kakaknya. Ini diakui warga melayu Belitong lain “  rintak ini nok paling usan (susah) membuatnya” ujar Sisu menambahkan.

 

Tak berbeda dengan masyarakat  muslim, warga Tionghoa ini  ikut berbagi rezeki. Ada empat perempuan yang dipekerjakannya. Selain diberikan upah, anak buah Ami mendapat THR berupa uang dan kue-kue menurut standar kekeluargaan (fithrorozi).