Pernahkah anda berhenti sejenak dalam hidup anda. Berhenti dalam artian, anda tidak mengerjakan apa-apa, berpikir apa-apa, atau terkait dengan apapun, siapapun. Saya yakin, hal itu mustahil anda lakukan. Karena di tengah kehidupan perkotaan yang super sibuk macam Jakarta, adalah impossible bila bicara stop your life.

Nah, sekarang anda coba renungkan. Berapa umur anda sekarang? 20? 30? Atau 40? 50 tahun mungkin? Wah, saya bangga sekali bila ternyata tulisan ‘anak bawang’ macam saya ini dibaca juga oleh ‘senior’. Dari sekian banyak umur anda, berapa waktu yang sudah anda habiskan untuk mencari 2 hal yang biasanya menjadi tujuan utama dalam hidup : Rejeki dan Jodoh. Bila anda telah mendapatkan apa yang anda dambakan, maka saya ucapkan : Berapa banyak waktu yang anda habiskan untuk bisa mencapai dua hal tadi? Di awal kehidupan anda? Berjuang sepanjang masa? Atau di saat-saat anda sudah pensiun, tinggal menikmati hidup? Atau.. sepertinya sampai umur anda sekarang, dua hal itu masih jauh dari apa yang anda impikan. Seseorang mengatakan kepada saya, “saya bisa mendapatkan apa yang saya butuhkan, tapi saya tidak mendapatkan yang saya inginkan”. Boleh jadi seseorang yang anda nikahi sekarang, bukanlah seseorang yang anda inginkan. Boleh jadi kehidupan yang anda jalani sekarang, bukanlah kehidupan yang anda inginkan.
Lantas, apa tindakan anda sekarang? Merenungi dan menyesali hidup? Atau membiarkan hidup anda begini? Putus asa seolah bahwa hidup anda sudah ‘final’ dan sudah ‘mentok’ sana sini. Segala ikhtiar sudah anda jalankan, mulai dari menjalankan ritual ibadah, amalan yang sholih, sampai akhirnya hilang akal sehat anda dan jatuh ke dalam kemusyrikan. Bertanya pada dukun sana-sini. Bertanya soal jodohnya yang tidak datang-datang. Bertanya soal kenapa hidupnya melarat sampai sekarang. Akhirnya hatinya menjadi mati. Setiap hari kerjanya hanya mempertanyakan kepada Allah, ‘mengapa hidup saya jadi begini?’ Mengapa orang lain bisa diberikan begitu banyak kelebihan, kecukupan dan bahagia? Mengapa saya tidak?

Tafakkur di galaksi yang luhur
Tahukah anda, bahwa Allah sengaja menciptakan alam semesta yang begitu rumit, begitu sempurna, begitu indah seperti ini, hanyalah sebagai perhiasan saja bagi kesenangan manusia? Pernahkah anda berpikir bahwa seekor monyet bisa menikmati indahnya alam ini? Menikmati musik mengalun yang anda dengarkan setiap hari? Bahkan seekor monyet pun tidak bisa bermain piano yang jauh lebih baik dari seorang anak kecil yang belajar main piano.

Allah sengaja menciptakan alam semesta ini, agar menjadi pemikiran bagi manusia. Dan semua bermuara kepada, ‘siapa sih, yang menciptakannya?’ Alam semesta yang berjalan dalam keteraturan atas ketidakberaturan. Alam semesta, sebagaimana manusia, juga berjalan sesuai dengan sunatullah, dimana alam ini bergerak saling menyeimbangi satu sama lain. Tidak pernah kita dapatkan alam semesta ini saling susul menyusul, saling mendahului. Semua bergerak teratur sesuai dengan irama yang sudah Allah tetapkan dalam simfoni orkestrasi alam semesta. Segala sesuatu berjalan sesuai dengan Qadar, ketentuan yang sudah ditentukan oleh Allah, sampai Allah mengubah ketentuan itu. Matahari terbit di timur, tenggelam di barat. Begitu seterusnya, sampai Allah memerintahkan kepada matahari untuk berbalik arah, terbit dari barat. Dan bila itu terjadi, maka selesailah era alam semesta ini, yang diganti dengan alam lain, yaitu alam akhirat.

Menurut para ahli, matahari masih akan bersinar selama 5 milyar tahun lagi. Dan setelah itu matahari akan kehabisan bahan bakarnya dan mulai membengkak. Membesar hingga mencaplok planet-planet yang selama ini setia beredar mengelilinginya. Begitulah gambaran ‘kiamat’ yang tertera di buku-buku sains. Dan setelah itu, matahari akan mengkerut menjadi sangat kecil, tapi massa dan gravitasi yang masih berlaku di matahari, masih dalam kadar yang sama. Sehingga matahari berubah menjadi blackhole, bintang hitam penyedot kehidupan. Bahkan cahaya sekalipun akan ikut tersedot akibat kuatnya gravitasi yang mengelilingi sebuah blackhole. Wuih.. berarti orang-orang dari zaman Nabi Adam masih harus menunggu sampai 5 milyar tahun lagi baru mereka menghadapi pengadilan akhirat..

Rejeki, Jodoh, Maut
Dalam hadist-hadist disebutkan bahwa Allah sudah menetapkan ketiga hal tersebut. Entah bagaimana caranya, tapi kalau memang sudah tiba waktunya, maka ketiga hal itu akan datang menghampiri.

Sepanjang hidupnya, manusia selalu berusaha mencari dan menemukan kedua hal di atas. Dan sebisa mungkin menghindari hal yang ketiga. Walau banyak juga yang hidupnya ‘menantang-nantang maut’, tapi kalau memang belum ajalnya, yah, tidak mati-mati. Seperti Khalid bin Walid, yang seumur hidupnya sering berperang, tapi matinya malah di atas tempat tidur, bukan di medan peperangan. Sementara ada yang baru lahir, belum sempat menikmati pahit manisnya dunia, sudah meninggal. Entah karena memang Allah memberikan umur hanya segitu, atau karena kehadirannya tidak dikehendaki oleh kedua ‘orang tua’nya. Yah, entah apapun alasannya. Kedua ‘orang tua’nya mungkin ingin enak bukan anak. Hasilnya, jadilah si jabang bayi yang tidak tahu apa-apa yang menjadi korban..
Hu.. hu.. hu..

Rejeki
Atas nama inilah biasanya orang bisa saling sikat, saling sikut. Banyak manusia yang menjadi korban dalam mencari hal yang satu ini. Dan banyak manusia yang katanya pintar, sarjana lulusan universitas terkenal, menjadi bodoh karena mempertanyakan masalah rejeki kepada seorang dukun yang sekolahnya saja mungkin tidak lulus. Dia bertanya bagaimana peruntungan rejekinya, melalui ramalan-ramalan, rapalan mantera, kocokan kartu sampai persembahan sesajen. Bahkan ada yang katanya syaratnya mesti kendurian dibacakan surat yasin oleh sekian puluh orang dengan biaya sekian juta.
Lha, tender dengan keuntungan bersih senilai cuma sepuluh juta kok, ini biaya yasinan sampai lima juta? Yah, mau tanya ke dukun paling senior, paling jago, paling sakti, tapi kalau memang Allah berkehendak belum waktunya rejeki itu turun atau rejeki itu bukan jatuh ke tangan dia, ya.. tidak bakalan datang, walau cuma mampir sebentar.

Jodoh
Ini juga sama. Sudah banyak korban ‘atas nama cinta’ yang muncul menghiasi layar televisi di rumah. Mulai dari sinetron nggak karuan yang pokoknya ceritanya cinta segitiga, rebutan harta, rebutan pacar. Yang jahat, jahat banget. Yang baik, nelangsa banget. Pokoknya cerita yang tidak masuk di akal, tapi digemari para ibu-ibu, yang kalau menontonnya bisa serempak mengutuk ‘yang jahat’ dan berlinangan airmata melihat nasib ‘si baik’. Di layar televisi juga kita sering lihat cerita-cerita tentang percintaan, dimana ujung-ujungnya kaum perempuan yang menjadi korban. Menyerahkan dirinya dengan berharap bahwa ‘inilah jodoh gue’. Akhirnya, yah.. habis manis sepah dibuang. Dapat perawannya, terus ditinggal tanpa tanggung jawab. Jadilah si perempuan seperti ‘gadis ngga, janda bukan’.

Dan dalam kasus perjodohan juga, sama kebodohan yang biasa terjadi. Datang ke dukun tanya-tanya soal ‘kenapa jodoh saya belum datang juga’. Lha, dicari dimana memangnya jodoh itu? Mungkin andanya yang terlalu pemilih. Kepingin mencari yang ‘sempurna’. Yah, seperti kata istri saya, nobody’s perfect. Yang ada aja, yang penting dia cinta. Dan kalau kitanya tidak cinta, witing tresno jalaran soko kulino, cinta itu bisa datang dengan sendirinya karena sering bersama-sama.
Ada juga yang berusaha mencari jodoh dengan menyama-nyamakan antara zodiaknya, shionya dengan zodiak dan shio pasangannya (baca: pacar). Oh.. ternyata cocok.. Horee.. Wah, kalau sama dia, berarti tidak ada kecocokan sama sekali. Nanti sepanjang umur cuma bertengkar dan bertengkar lagi. Batal aja deh..

Bagi saya, segala ramalan perjodohan menggunakan zodiak atau shio itu, anggap saja bahwa duluu sekali pernah hidup seorang ahli psikolog yang kemudian membuat klasifikasi sifat manusia dalam 12 rasi bintang, 12 jenis tahun, 5 hari pasaran (weton) dan sebagainya. Lalu dari masing-masing itu dilihat, oh kalau sama yang ini, sama-sama ‘api’. Wah berarti bisa jadi tidak cocok karena saling ‘membakar’. Begitu seterusnya. Soal kebenarannya, ya.. kembali kepada yang mengatur jodoh itu sendiri, yaitu Allah SWT.

Orang-orang tua dulu pernah melarang anak gadisnya untuk tidak duduk atau berdiri di pintu. Sebetulnya itu ajaran supaya sopan dan santun agar tidak menutupi jalan. Juga malu ah, masa berdiri di depan pintu? Seperti bakal tidak laku saja. Tapi kenyataannya, bila memang Allah belum mengirimkan sang jodoh, biarpun mau berdiri sepanjang masa di pintu, ya.. belum ada juga yang berani melamar. Mungkin dilirik sudah, dicolak-colek sudah. Begitu sampai ke penawaran, entah kenapa, mundur terartur. Artinya? Ya.. belum jodoh..!

Maut
Wii.. Ini dia nih, yang kebanyakan orang pasti berusaha setengah mati biar tidak mati. Atau paling tidak, ya.. tidak cepat-cepat mati. Kenapa bisa begitu? Siapa sih yang kepingin? Hidup ini terlalu indah untuk segera diakhiri hanya karena kegagalan mendapatkan dua hal di atas sebelumnya. Lagi pula hidup ini nggak cuma indah, ada maimunah, ada wardah, ada.. banyak. Nah, bicara soal kematian, rasanya tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang sudah siap menghadapinya. Saya pernah membaca tentang seseorang yang umurnya sudah sangat tua. Saat ditanyakan kepadanya tentang apa yang paling berkesan baginya, ia menjawab bahwa hal yang paling terkesan baginya ialah, manakala ia melayat satu persatu teman, handai taulan dan anak-anaknya juga yang sudah mendahului ia.
Dan pertanyaan yang selalu timbul dalam hatinya ialah, kapankah tiba masanya dia untuk ‘pergi’? Apakah dirinya bisa meninggalkan dunia ini seperti orang-orang yang dia lihat dalam setiap layatannya? Dia juga bilang, bahwa dia sudah bosan hidup, karena dia sudah tidak punya teman sepermainan, teman seperjuangan. Setahun setelah wawancara itu, dia pun meninggal. Sayangnya kita tidak pernah tahu, apakah meninggalnya sesuai seperti yang diharapkan olehnya selama ini..

Penutup
Sebenarnya, tidak ada yang pernah tahu, tentang ketiga hal tersebut, kecuali mungkin sebelumnya sudah ada ‘tanda-tanda’ akan hal tersebut. Saya pernah membaca satu ungkapan yang kalau tidak salah, itu diucapkan oleh Umar bin Khatthab yang kira-kira terjemahan bebasnya begini, ‘Rejeki itu sudah pasti datangnya. biarpun cuma lagi duduk-duduk, kalau sudah pasti datang, dia datang. Tapi kalau memang belum waktunya, mau dicari kemana pun, ya tidak ketemu’.

Jodoh pun juga begitu. Tinggal duduk manis, pasti datang itu jodoh. Mau blingsatan, belum tentu juga dapat. Cara yang terbaik ialah, manakala ada kesempatan itu, sikat, jangan ragu. Tapi, jangan terus lupakan urusan iman dan akhlaqnya. Masa mantan orang alim diterima juga? Mendingan mantan preman. Lalu soal maut, nasehat saya, jangan repot-repot mencarinya..

Dewantara Rachim, Penulis adalah anak dari Alex A.Rachim, pendiri media Suara Masyarakat Belitung, dikutip dari rubrik http://warnaislam.compada Rabu, 03 September 2008