Segala puji dan syukur hamba-Mu panjatkan ke hadlirat-Mu, ya Allah Maha Pembuka (Al-Fattaah). Engkau turunkan dan ajarkan kepada kami satu surah pembuka (al-Faatihah) hati, pikiran, jiwa dan kehidupan kami. Pembuka kesempatan menikmati indahnya rahmat-Mu yang tersebar dan terhampar pada ayat-ayat-Mu dalam diri dan alam semesta ini.
Yaa Allah, Ar-Rahmaan (Maha Pemurah dan Pengasih) dan Ar-Rahiim (Maha Penyayang), dengan nama-Mu, hamba-Mu goreskan pena yang telah Engkau ajarkan ini. Maha suci Engkau, tiada ilmu sedikit pun yang kami miliki kecuali yang telah Engkau ajarkan. Sesungguhnya hanya Engkau Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijak. Jadikan tulisan ini bagian dari kebijakan-Mu, ya Allah, agar menjadi pembuka pikiran yang tidak bervisi sehingga memiliki visi qur’ani, pembuka hati yang tidak bermisi agar meraih misi hidup menjadi duta rakmat-Mu di bumi, pembuka jiwa yang tiada bermakna agar mampu memahami hakikat ridla-Mu, dan pembuka seluruh kehidupan yang tersia-siakan agar sarat dengan kenikmatan-Mu.

Shalawat dan salam sejahtera kami, keluarga dan ummat ini, semoga Engkau berkenan mencurahkannya bagi Rasul-Mu, shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga untuk keluarganya, para shahabat, setiap orang yang mencintainya dan setia kepada sunnahnya. Perkenankan dan bimbing kami agar selalu konsisten (istiqamah) menjadi pewaris beliau tercinta, mewarisi risalah-Mu yang Engkau utus dia sebagai rahmat-Mu di alam ini.

Ya Allah, jadikan kami pewaris kepribadiannya yang kuat dan cerdas yang telah mengantar ummatnya kepada peradaban yang agung, pewaris pemikirannya yang bervisi ke depan memimpin (qiyadah) manusia dan dunia ke jalan-Mu, ibadahnya yang tekun sampai kedua kakinya bengkak hanya mendamba menjadi hamba-Mu yang banyak bersyukur, da’wahnya yang membuat seluruh kehidupan menjadi bermakna, ukhuwwahnya yang menyentuh setiap shahabat atau musuhnya dengan penuh rahmat, dan keikhlashannya yang menjadikan seluruh peristiwa dan permasalahan hidup menjadi kenikmatan-Mu dan kehendak-Mu yang penuh arti.

Puji-Mu (al-hamdu) adalah kenikmatan tersendiri bagi hamba-Mu. Kenikmatan tiada akhir dan henti, ya Rabbal ‘alamin. Inilah kenikmatan syukur yang tiada terukur. Rahmat-Mu (Ar-Rahmah)terasa halus menyentuh setiap sisi kehidupan hamba-Mu. Tiada ruang dan waktu dalam hidup ini tanpa peran rahmat-Mu. Kerajaan-Mu (Al-Maalik) membentangkan betapa luasnya kekuasaan-Mu di alam semesta sampai hari kepastian dan keabadian bagi hamba-Mu tiba. Saat tiada balasan yang dirindukan hamba-hamba-Mu yang ikhlash selain rahmat-Mu. ’Ibadah (al-’Ibaadah) ikhlash hanya untuk-Mu adalah dambaan setiap hamba-Mu. Pertolongan-Mu (al-Isti’aanah) adalah kekuatan hamba-Mu yang sesungguhnya dalam beribadah, berda’wah dan menjalani kehidupan. Hidayah-Mu (al-Hidaayah)adalah kenikmatan yang membuat seluruh kehidupan menjadi ni’mat. Konsisten dan lurus untuk-Mu (al-istiqaamah) adalah arah perjalanan hamba-Mu menuju puncak ridla-Mu. Inilah tujuh konsep hidup, yang hamba-Mu pelajari dan temukan dari surah-Mu yang teragung dalam al-Qur’an. Bantu kami untuk setantiasa memeliharanya dalam setiap detik, langkah dan nafas hidup kami.

Setelah puji dan syukur ini, perkenankan hamba-Mu mengantar tulisan sederhana ini kepada hamba-hamba-Mu yang sedang melaksanakan salah satu perintah-Mu ”Iqra’ (bacalah)”, seraya merindukan rahmat-Mu khususnya saat berinteraksi dengan al-Qur’an. Kitab-Mu yang abadi dan selalu aktual, dengan nilai pemberiannya yang selalu baru dan tak kenal ragu atau layu. Lautan, siapa pun yang menyelami kedalamannya maka semakin menemukan mutiara yang tiada terhingga. Cerahkan pikiran dan cerdaskan hati kami ya Rabbal ’aalamiin.

Ikhwah fillah para pembaca, semoga Allah merahmati kita senantiasa, buku ini bukan kitab tafsir al-Qur’an, sekalipun pendekan yang digunakan adalah tafsir tadabbur. Mengingat tafsir merupakan salah satu cara bertadabbur yang paling efektif. Tadabbur adalah inti dari tulisan ini. Tujuannya seperti tertera dalam tiga ayat tadabbur: QS. 4 (an-Nisaa) ayat 82, QS. 38 (Shaad) ayat 29, dan QS. 47 (Muhammad) ayat 24. Yaitu menemukan keserasian dan keharmonisan seluruh dimensi dan berbagai peristiwa kehidupan dalam al-Qur’an, mendapat pencerahan pemikiran dan jiwa agar menjadi ulul albaab (orang-orang yang berakal), dan mengontrol hati agar terhindar dari sikap ketertutupan dan terkunci yang mengakibatkan stagnasi, kebuntuan berpikir, tidak kreatif, tidak inovatif, dan akhirnya tidak proaktif apalagi produktif.

Hudan(petunjuk) adalah fungsi dan kedudukan al-quran yang pertama kali Allah perkenalkan kepada kita dalam ayat 2 surah al-Baqarah. Sekaligus menjawab permohonon yang kita baca minimal 17 kali sehari semalam pada setiap raka’at shalat, tercantum pada dua ayat terakhir surah al-Fatihah. Selayaknya sebuah petunjuk, sesungguhnya tidak perlu didiskusikan apalagi diperdebatkan, karena petunjuk adalah ”cara” yang harus dilaksanakan. Namun al-qur’an tidak pernah mengabaikan peran pemikiran dan akal yang Allah anugerahkan. Bahkan orang berakal (’Aaqil) adalah syarat seseorang mendapat beban tanggungjawab dalam setiap titah dan perintah Allah ’Azza wa Jalla. Mendudukan al-qur’an sebagai hudan (guidance) adalah salah satu metodologi berfikir yang bervisi qur’ani, jelas dan jauh ke depan menembus batas kehidupan duniawi.

Paradigma qur’ani adalah salah satu bentuk hudan yang dirumuskan sebagai ”cara”. Cara melihat, cara mendengar, cara merasakan, cara berpikir, cara memahami, cara menyikapi, cara menikmati dan cara hidup (way of life). Cukup lama umat ini kehilangan paradigma hidupnya yang unik sebagai dampak ”keberhasilan” pendidikan yang tidak Islami dan jauh dari al-qur’an. Akibatnya mereka melihat, memahami dan merasakan berbagai peristiwa kehidupan dengan paradigma materialistik, atomistik (tersekat-sekat), pragmatis (ingin selalu cepat dan instan) dan hedonis (mencari kenikmatan sesaat).

The grand design (Desain besar) hidup seorang muslim juga merupakan barang langka. Hampir mayoritas umat Islam tidak memiliki rencana dan desain yang jelas dalam hidup ini, apalagi untuk keislamannya. Jika para pembaca mencoba menuliskan rencana hidup Anda baik sebagai muslim, hamba Allah, atau perannya sebagai bagian dari umat terbaik ini, atau sekedar mimpi sebagai manusia, maka tidak sedikit yang mengalami kesulitan. Padahal al-Qur’an adalah pedoman kita dalam merencanakan (planning) hidup ini. Seperti dapat dipahami dalam surah al-Fatihah ini, khususnya ayat 4: ”Maaliki yaumid Diin” (Raja di hari pembalasan). Ayat ini menginspirasikan salah satu tingkat kecerdasan seorang muslim dengan visi dan rencana hidupnya ke depan sampai kelak di akhirat.

Visi adalah esensi dari sebuah ide besar seorang muslim. Seperti mimpi, visi terkesan hanya angan-angan. Yang membedakannya adalah pada tataran misi, strategi dan agenda aksi yang jelas, terencana dan terukur. Visi tanpa aksi adalah angan-angan dan mimpi, sementara aksi tanpa visi akan membuat pekerjaan menjadi sekedar rutinitas dan kurang berarti. Visi muslim adalah bagaimana ia melihat dirinya di masa depan. Menjadi seorang apa dan memposisikan diri di mana, seorang da’i, pemikir, pengusaha, atau pemimpin yang sukses. Selanjutnya ia merencanakan agenda strategi dan aksinya yang menunjang ke arah visi tersebut. Lihat Rasulullah, shallallahu ’alaihi wa sallam, saat pertama memperkenalkan da’wahnya, beliau telah memiliki ide dengan visi besar yaitu meguasai, memimpin dan membuat dunia selalu beruntung, tiada kata rugi bagi kehidupan di dalamnya dalam kondisi apa pun.

”Katakan oleh kalian Laa ilaaha illallaah niscaya dunia akan beruntung”, adalah kalimat yang beliau tawarkan kepada para calon muslim saat itu. ”Kalian adalah ummat terbaik (the best nation)” (QS. 3: 110), ”… dan kalian adalah orang-orang tertinggi (the highest nation) jika kalian orang-orang beriman” (QS.3: 139) adalah dua ayat yang menggambarkan kualitas muslim dengan visi terdepan, yaitu sebagai pemimpin dan penyelamat manusia. ”Dan demikianlan kami menjadikan kalian sebagai ummatan wasatha (ummat paling tengah dan adil atau the just nation)” (QS. 2: 143), adalah ayat yang merencanakan ummat Islam sebagai umat yang menjadi muara tempat mencari keadilan, tempat bertanya dan menjadi guru dunia (ustaadziyyatul ’aalam). Bukan seperti saat ini menjadi ummat yang termarjinalkan atau terpinggirkan dan bahkan sering tersingkirkan peran dan eksistensinya dalam percaturan dunia. Akhirnya baik individu, negara maupun dunia Islam sering menjadi budak bangsa lain.

Tulisan ini lahir, dan hanya dengan kehendak dan izin Allah, diharapkan mengisi kekosongan dan kesenjangan ini. Membantu mengingatkan setiap muslim agar memiliki visi yang jelas dalam hidupnya (muslim visioner). Ide ini lahir dan terispirasi dari renungan (tadabbur) panjang akan surah yang mewakili seluruh al-Qur’an untuk di baca dalam setiap raka’at shalat. Sehingga menjadi rukun yang menentukan sah dan tidaknya shalat seseorang. Seharusnya, pengulangan sampai minimal 17 kali sehari semalam, menginspirasikan dan mengingatkan sesuatu yang sangat diperlukan dalam reorientasi perjalanan hidup setiap muslim. Seperti laiknya visi sebuah perusahan, yang ditulis, dipamerkaan di setiap ruang dan diulang-ulang di berbagai kesempatan, untuk mengingatkan seluruh komponen perusahaan akan tujuan yang harus dicapai.

Untuk melengkapi inti tulisan ini, penulis kemudian menyajikan beberapa agenda dan lampiran penting dan cukup prioritas dalam merencanakan aksi untuk seorang muslim visioner. Mulai dengan:
1. membangun visi da’wah dan mengembangkan persepsi da’wah profesi sebagai sarana mengoptimalkan da’wah di berbagai kondisi,
2. mengembangkan diri (tarbiah dzatiah) dengan mengoptimalkan kecerdasan dan rekonstruksi pemikiran, sampai kepada
3. agenda bina’ul ummah, dengan membangun kepribadian dan peradaban menuju terbentuknya kembali masyarakat madinah dalam kerangka pendidikan masyarakat madani.
Hanya untuk-Mu ya Allah, hamba-Mu persembahkan tulisan ini, sebagai kontribusi untuk mengembalikan umat ini kepada visi dan perannya sebagai pemimpin dunia dengan petunjuk-Mu. Semoga Engkau berkenan mencatat kami, hamba-hamba-Mu yang telah menulis, guru-guru dan shahabat penulis, dan mereka yang tengah membaca tulisan sederhana ini, sebagai amal sholeh yang dapat menyebarkan keshalehan dan menjadi bagian dan duta rahma-Mu bagi segenap manusia. Terakhir ampuni kami ya Allah, atas seluruh kekeliruan, kesalahan dan dosa kami khsususnya saat menulis, membaca dan mengamalkan ilmu yang Engkau ajarkan kepada kami, terutama dalam keikhlasan hati nurani dalam seluruh ’ibadah kami.

Depok, Rajab 1424 H/September 2003 M.
Akhukum Fillah,

Amang Syafrudin, penulis adalah Ketua Yayasan Islam Al-Qudwah Depok dan Pemilik TV Komunitas Madani (dikutip dari http://www.matapenadunia.com)