Tanjungpandan (WP), Olah raga merupakan sarana untuk memelihara kesehatan jasmani. Kesehatan jasmani sumber kesehatan rohani, karena “Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat”. Jiwa seperti itulah yang kita butuhkan untuk melanjutkan pembangunan di daerah ini. Atas dasar pemikiran itulah Pemerintah Kabupaten Belitung bersama KONI  dan jajarannya,  terus berupaya mendorong peningkatan prestasi olah raga di daerah ini; baik melalui pembinaan kelembagaan organisasi keolahragaan, maupun melalui penyelenggaraan event olah raga seperti Kejuaran Tenis Lapangan Bupati Club 2008 ungkapan  Staff Ahli Bupati Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Sosial Zakaria A.Rifaie ketika membacakan Sambutan Plt Bupati Belitung di . Lapangan Tenis Husin Pelti, Tanjungpandan, Kamis (28/8).

Menandai pembukaan Kejuaraan Tenis Lapangan Bupati Cup 2008, digelar pertandingan eksibisi antara  pasangan Danlanud Tanjungpandan Letkol Pnb Deddie R Semet dan Danramil Kelapa Kampit Kapten Inf Hermansyah dengan pasangan Kepala Dinas Perindagkop Hendra Caya SE, MSi dengan Kasdim 0414 Belitung Mayor Inf Y Hartono.

Ketua Panitia Pelaksana Bupati Cup 2008 dan Hari Koperasi ke-61, Wisnoe S, menjelaskan, kejuaraan tenis ini mempertandingkan nomor beregu putra dan diikuti enam klub tenis di Tanjungpandan, masing-masing Rajawali (Kodim), Volta Elektrik (PLN), Primkopad, Ganesha, HTC dan Yustisia.

Pelaksaaan tahun ini jauh lebih menurun secara kuantitas dibandingkan Kejuaraan Tenis Bupati Cup 2006. Tahun 2006 terdapat  124 atlet dari 13 klub yang bernaung dibawah PELTI bertanding di tiga lapangan, Lapangan Tenis Husin, Lapangan Kodim/Rajawali dan lapangan Tenis SMKN2 Tanjungpandan. Sementara pada tahun 2007  Bupati Cup menghadirkan petenis legendaris Suzanna Aggakusuma. Namanya pun dirubah menjadi Kejuaraan Tenis Bupati-Suzana Cup yang lebih menekankan pada upaya membangkitkan kembali semangat atlet lokal untuk  berbicara ditingkat nasional seperti harapan Suzanna yang bersama suami, Tintus Arianto Wibowo datang ke Belitung. Event lokal seperti Kejuaraan Tenis Bupati Cup diharapkan dapat menjadi bagian dari agenda PB-PELTI.

Pengamat tenis, Harmony Ginting pun angkat bicara, bagi yang ingin berprestasi Internasional di cabang olah raga tenis, hampir mutlak untuk dimulai secara konsisten sejak usia dini, 5-6 tahun, karena demikian yang terjadi dinegara maju la  

Suzana terdiam, membiarkan air matanya mengalir melihat tempat dia menempa diri menjadi atlet nasional kini berubah fungsi menjadi lokasi jualan gorengan, soto, sate dan aneka kuliner. Saringga dari duni hingga kini masih tinggal di Kampong Bairok, Kelurahan Kota, Tanjungpandan menemani mantan anak didik.  Pelatih sang legendaris hanya bisa bercerita tentang kondisi olah raga sudah ditinggalkannya. “ Setidaknya inilah awal Suzanna bersama sang suami yang juga mantan petenis nasional datang ke Belitung bersama atlet nasional lainnya.

Dengan kondisi lapangan yang berubah fungsi dan kecenderungan menurunnya kualitas dan kuantitas atlet, rasanya kampong kite akan semakin sulit menggapai bintang. Apalagi berdiri diatas Gunung Tajam yang hanya setinggi 500 meter dari permukaan laut sementara ratusan ribu meter di seberang sana menjulang tinggi, dewasa dengan magma dan kepundan yang besar. Bagi kampong bairok atau dikenal kampong pontinak, kehadiran lapangan tenis sedikit banyaknya telah menarik perhatian sejumlah anak mengasah bakat. Anak-anak kampong  tidak hanya menambah uang jajan menjadi pemungut bola tenis.Karena selalu bermain dilapangan tenis, membuat mereka tertarik untuk bermain bahkan berprestasi. Sebut saja Sobron ataupun Husein yang namanya diabadikan menjadi lapangan tenis yang berada di bekas emplacement (pemukiman) elit karyawan asing PT.Timah Tanjungpendam.

Tetapi olah raga apapun jenis dan kompetisinya harus berjalan. Bupati Cup harus terus menjadi tolok ukur pembinaan atlet-atlet tenis lapangan yang tergabung dalam klub-klub anggota Pengkab Pelti Belitung seperti yang diungkapkan Wisnoe. Kejuaraan yang juga digelar untuk memperingati HUT Kemerdekaan ke-63 RI dan Hari Koperasi ke-61 ini diharapkan dapat menjadi ajang mempererat tali silaturahmi antara penggemar tenis lapangan, merenungkan kondisi kampong kite agar warganya tetap sehat, cerdas sehingga dapat berprestasi, merebut kembali apa yang sudah tertinggal demi mengharumkan kampong halaman (fithrorozi)