Siapa sangka praktisi lingkungan yang menjadi news maker itu adalah seorang nenek. Dijumpai di Ruang Sidang Setda Kabupaten Belitung. Harini Bambang Wahono bersama anaknya Bambang Wirawan sibuk mempersiapkan beragam produk daur ulang mulai dari kertas hingga tas dari bungkus plastik detergen menunggu giliran paparan dalam pelatihan lingkungan hidup yang diadakan Bappedalda Kabupaten Belitung dan Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) Regional Sumatera, Sabtu (30/8). Bambang Wirawan memang selalu mendampingi ibunda yang sudah   tua ini  tetapi diperlukan banyak orang di banyak daerah di Indonesia.

Berangkat dari organisasi akar rumput, Wakil Ketua PKK IV Bidang Lingkungan Kelurahan Cilandak, Jakarta Selatan. Harini justru menjadi bintang diusia senja. Berbagai media di internet mengomentari sepak terjangnya baik media nasional maupun internasional. Kini Harini yang selalu didampingi anaknya Bambang Wirawan disibukkan dengan berbagai aktifivitas sebagai pendidikan disekolah informal yang dibuka di rumahnya, motivator lingkungan diberbagai daerah termasuk berbagi pengalaman dengan guru-guru sekolah dasar di Belitung.

Anak dari Mantri Tani Raden Ngabehi Citro Diwirjo ini, sejak kecil memang akrab dengan alam. Pengalaman masa kecil ini membentuk karakter yang mencintai lingkungan hingga di usia senja sekarang ini. “Sebetulnya sejak tahun 1985 saya sudah terlibat dengan organisasi yang membidangi lingkungan hidup. Namun baru tahun 1992 perhatian saya tercurah sepenuhnya di organisasi lingkungan ini. Nenek yang berusia 78 tahun ini pun menjadi duta wisata. “Saya optimis Bangka-Belitung bisa seperti Bali-Lombok kalau digarap dengan serius”, begitulah kesan Harini pertama kali datang ke Belitung. Tahun 2000 ia meraih Juara Nasional Konservasi Alam dan Penghijauan dari Departemen Pertanian dan Kehutanan. Setahun kemudian mendapat anugerah Kalpataru dari Presiden Megawati

“ Saya ingin di sisa hidup ini bisa berbuat sesuatu yang berguna bagi masyarakat. Modal saya adalah kepedulian yang ditindaklanjuti dengan keprihatinan. Kepada diri  sendiri, saya sering bertanya, apa yang bisa diperbuat untuk bangsa ini. Saya yakin, sekecil apapun yang kita lakukan pasti berguna termasuk untuk menyelematkan bumi ini “ ujar Nenek tujuh cucu yang  tinggal di Kampung Banjarsari dari tahun 1980-an.
“Kita yang masih muda ini rasanya malu dengan apa yang sudah diperbuat oleh Buk Harini “ kata Maya Hasibuan,SH, Kepala Bapedalda Kabupaten Belitung yang selama dua hari selalu hadir dalam Pelatihan Lingkungan Hidup yang diadakan Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Sumatera produktif dari tanggal 29-30 Agustus 2008 di  Ruang Sidang Setda Kabupaten Belitung

Menyelematkan Bumi dengan Mengelola Sampah.
Hampir 95% lahan depan rumah di Kampung Banjarsari ditanami berbagai pohon, bunga, dan tanaman obat. yang terletak di RW 08, Kelurahan Cilandak, di Jakarta Selatan yang dihuni sekitar 1.250 jiwa.Karenanya kampung ini mendapat julukan kampung hijau.

Pada 1996, Kampung Banjarsari, Jakarta Selatan resmi dijadikan pilot project oleh UNESCO sebagai pusat pengelolaan sampah padat. Untuk menunjang program tersebut, Harini kemudian membuka pendidikan untuk umum soal limbah padat dengan biaya dari UNESCO. Untuk melakukan pengembangan kegiatan pengelolaan sampah, sejak 2001, UNESCO dan Kampung Banjarsari meminta bantuan Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan (P3TL-BPPT). Tujuannya untuk melakukan pembinaan yang berkelanjutan dari aspek teknologi dan manajemen persampahan. Kegiatan utama pengelolaan sampah dimulai dengan pengomposan dan kemudian dilanjutkan dengan penanaman tanaman obat dan penghijauan lingkungan.

“Zaman penjajahan Belanda itu nggak ada sampah yang keluar dari halaman. Masing-masing (keluarga) mengolah sampah dengan sistem gali tutup. Bikin lubang untuk menanam sampah. Terus ditimbun. Kalau sudah penuh ditutup. Selang tiga bulan bisa ditanami pisang. Subur banget,” ujar Harini seperti dipublikasikan dalam situs Voice of Human Right, Februari 2007 yang lalu.

Kepada Wartapraja Harini juga menunjukan konsep sumur resapan hasil temuan IPB Bogor yang sudah dipatenkan.” Saya hanya membantu melalui pelatihan agar  masyarakat dapat mewujudkannya dilahan yang serba sempit dijakarta “ ungkap Harini merendah.

Jika dibandingkan dengan pemukiman di kabupaten Belitung, Kampung Banjarsari yang berada diibukota negara terlampau sulit mengkondisikan karakter masyarakat yang heterogen. Lingkungan dan dukungan masyarakatnya menjadi factor utama sekaligus kendala yang ikut berperan dalam upaya memerangi sampah. Padahal jika melihat penghasilan pemulung yang semakin banyak di Belitung, setiap satu kilo sampah minuman kemasan saja bisa dijual Rp. 5 ribu, belum lagi sampah pasar yang bisa dijadikan pasar dengan nilai jual yang jauh lebih tinggi. “Semoga apa yang disampaikan ibu Harini bisa bermanfaat bagi masyarakat terutama bagi guru sekolah dasar yang nantinya dapat mengimplementasi ilmu yang didapat melalui anak didik “ kata Husin Samendawai, Kabid Pemulihan Kualitas Lingkungan Bapedalda Kabupaten Belitung disela acara pelatihan (fithrorozi)