Tanjungpandan (WP), Miko baru berusia lima tahun, namun di usia yang masih balita penyakit hernia (Bhs Belitong : tumbongan) sudah diderita anak Jumhari warga desa Lintang, Kecamatan Gantung, Belitung Timur . Informasi yang diterima dari rumah sakit satu sisi akan melepaskan dirinya dari penyakit dikenal masyarakat Belitung sebagai penyakit orang tua, namun disisi lain ada kekwatiran bapak dan anak ini memasuki ruang operasi. “ Ndak tega rasenye gik kecik tapi la dioperasi” kata Jumhari sambil mengendong anak laki-lakinya ini.

Hernia dan bibir sumbing merupakan bagian penyakit yang dimasukkan dalam kelompok bedah mayor. Bersama pasien bedah minor Jumhari menunggu pelaksanaan operasi. Rencananya operasi ini akan dilaksanakan selama dua hari dari tanggal 22-23 Agustus di RSUD Tanjungpandan, Kabupten Belitung. Menurut keluarga Yusuf Bakri yang mensponsori pelaksanaan operasi bedah mayor dan minor di Belitung (Kabupten Belitung dan Belitung Timur), kegiatan ditujukan bagi mereka yang kurang mampu tanpa membawa kepentingan politik tertentu. “ Kami bekerjasama dengan Yayasan Hijau putih sebagai pelaksana medis yang sudah melaksanakan kegiatan bhakti sosial di Belitung sejak tahun 2002 “ jelas ibu Heldi dari Yayasan Hijau Putih kepada Warta Praja Jum’at sore, 22 Agustus.

Kita menyadari berbagai upaya telah dilakukan pemerintah dalam menjamin kesehatan masyarakat seperti meningkatkan kerjasama dengan rumah sakit luar daerah untuk layanan rujukan pasien, peningkatan peralatan medis ataupun meningkatkan kemampun sumber daya medis maupun non medis untuk meningkatkan kualitas Jaminan Kesehatan Belitung (JKB). Program JKB maupun program pembangunan di bidang kesehatan lain juga akan terus dievaluasi agar keterbatasan dan kendala yang ada dapat kita atasi. Hal ini menuntut kepedulian kita bersama sebagai pemangku kepentingan.

Saya menyambut baik pelaksanaan Bhakti Sosial Operasi Mayor dan Operasi Minor sebagai wujud kepedulian kita terhadap masyarakat yang kurang mampu. Apalagi tekanan ekonomi telah membuat sebagian golongan masyarakat belum mampu mengakses dan mendapatkan layanan kesehatan yang membutuhkan penanganan segera.
Oleh karena itu, menjelang Bulan Suci Ramadhan 1429 H, kegiatan kemanusiaan dan pembangunan ini dapat diterima sebagai ibadah untuk meningkatkan kualitas hubungan antar manusia dan hubungan dengan Allah SWT dan semoga nikmat dan rahmat yang kita terima dari Allah SWT menjadikan kita terus bersyukur sementara kekurangan yang kita miliki baik dari sisi sosial maupun ekonomi tidak menjadikan kita sebagai umat yang kufur nikmat , ujar PLt.Bupati Belitung dalam sambutannya melalui Asisten II Setda Kabupaten Belitung Nuhadi,S.Ipem di RSUD Tanjungpandan.

Keluarga Yusuf Bakri melalui PT.Oktasan Baruna Persada dan Yayasan Hijau Putih akan melakukan operasi kepada 80 pasien kurang mampu. “ dalam pelaksanaan bhakti sosial menjelang Ramadhan ini kami pun tidak melihat perbedaan agama, kepentingan politik “ tambah Heldi dari Yayasan Hijau Putih yang melibatkan 1 dokter bedah, dan 9 dokter umum dibantu Dr Fuji dari RSUD Kabupaten Belitung sebagai salah satu koordinator bhakti sosial.

Yayasan ini didirikan atas prakarsa para aktivis sosial diantaranya warga Belitung yang dalam perkembangannya banyak bekerjasama dengan para dokter. Nama Yayasan Hijau Putih cukup dikenal di masyarakat Belitung meskipun Yayasan ini sudah banyak melakukan bhakti sosial kesehatan baik di pulau Jawa maupun luar Jawa. “ pengalaman kita melaksanakan bhakti sosial membut kita berpikir kenapa tidak kita lakukan di Belitung” tambah Heldi

Seperti ibu Nadima Bakri meski numpang lahir di Kampong Pancor, Belitung Timur dari orang tua yang berasal dari Sunda dan Batak namun memiliki kepedulian terhadap kondisi masyarakat Belitung. Pemilik PT.Oktasan Baruna Persada Yusuf Bakri adalah mantan Direktur Muda Bidang Keuangan PT.Timah. Sebelum bekerjasama dengan PT.Oktasan, Yayasan Hijau Putih pada awalnya bekerjasama dengan IKMB.

Kepedulian terhadap masyarakat Belitung bahkan dilakoni Hamidah yang lahir dan besar di Jakarta yang aktif mendampingi pasien Belitung berobat ke Jakarta. Jadi jelaslah bahwa kegiatan bhakti sosial tidak memiliki tedensi politik apapun dan semata-mata melaksanakan tugas kemanusiaan. “ Begitu juga apa yang kita lakukan Yusron Centre selain tidak berlatar politik kita juga memberikan kontribusi di bidang pendidikan antara lain dengan menyumbang buku-buku ” tambah istri Yusron Ihza Mahendra ini (fithrorozi)