Menjelang kegiatan Seminar dan Talk Show Ilmiah mengenai Penyakit Lupus di Tanjungpandan tanggal 30 Agustus, Warta Praja bersama Yayasan Lupus Indonesia mensosialisasikan Penyakit Lupus agar diketahui masyarakat luas.

 

Memahami Systemic Lupus (SLE) dan Menaklukkannya.

Systemic Lupus (SLE) atau biasa dikenal dengan Lupus merupakan penyakit kronis (jangka panjang) sistem imunisasi, yang sampai kini belum diketahui penyebabnya. Ciri utamanya adalah ditemukannya tingkat aktivasi sistem imun yang luar biasa (hiperaktif) dan menyerang jaringan tubuh normal yang ada dan menyebabkan peradangan (flare – inflamasi). Lupus dikenal unik karena sifatnya yang multi sistem, yaitu meniru penyakit-penyakit lain dan menyebar ke beragam organ. Kemampuan kamuflase nya ini sering kali melecehkan deteksi paramedik atas kondisi pasien dan “menuduhnya” sebagai penyakit yang lain.

 

Ragam Lupus pun bermacam-macam, yaitu: Discoid lupus (atau dikenal sebagai Cutaneous lupus), merupakan lupus yang menyerang kulit dan paling banyak ditemukan; Systemic lupus merupakan jenis lupus yang paling “repot” karena menyerang beragam sistem tubuh, termasuk kulit, darah, sendi, paru-paru, ginjal, jantung, otak dan sistem saraf dan druginduced lupus yang biasa muncul ketika seseorang meminum obat tertentu dan gejalanya bisa hilang setelah obat tersebut dihentikan pemakaianannya. Karenanya kita perlu waspada dalam mengkonsumsi obat, bahkan obat yang diberikan oleh dokter. Adalah bijaksana bila kita dan paramedic merujuk dan menelaah riwayat kesehatan yang kita miliki.

 

Di era 1980-an dan 1990-an, penyakit ini memang dianggap penyakit langka. Namun kelangkaan ini lebih kepada ketidaktahuan orang awam maupun spesialis mengenai gejala dan akibat yang ditimbulkannya. Seringkali dokter salah mendiagnosa dan mengategorikan penyakit penderita lupus sebagai penyakit lain dikarenakan penampakannya yang meniru-niru penyakit lain.

 

Mungkin kasusnya mirip dengan avian flu yang mirip penyakit popular influenza atau pneumonia, namun bersifat fatal. Meski tidak menular, populasi pengidap lupus terus meningkat sepanjang tahun. Hal ini sedikit banyak memberi dampak ‘positif’ pada kewaspadaan akan masalah kesehatan, terlebih dalam hal riset yang berkonsentrasi pada lupus dan gejala-gejalanya. Ia dapat menyerang wanita maupun pria, namun pada wanita kasus ini cenderung lebih besar 

 

Sampai sekarang tidak diketahui mengapa lupus dapat menyerang ras tertentu lebih besar ketimbang ras lainnya. Sebagai contoh, pada ras Caucasians kira-kira 1 dari 1000 orang dapat terkena lupus, sementara pada African-Americans 1:250 dan latino (hispanik)1:500. Gejala systemic lupus tidak saja sering berubah, namun juga berbeda-beda pada tiap orang. Ia dapat berupa -Arthritis (bengkak dan sakit di persendian), sakit pada otot dan lemah, capek, sensitif terhadap sinar matahari, rambut rontok, bercak merah di wajah berbentuk kupu-kupu (melintang di hidung dan pipi), demam, anaemia, sakit kepala, keguguran berulang, dan seterusnya. Sementara pada discoid lupus gejala yang kerap muncul adalah beragam bercak kulit, photosensitivity, & kadang-kadang Sariawan atau mimisan. Jika Discoid Lupus menyerang kulit, systemic lupus menyerang hampir semua sistem organ tubuh, termasuk kulit. Namun begitu, penderita discoid lupus harus waspada dengan kondisinya karena diperkirakan 10% penderita discoid lupus dapat berkembang menjadi systemic lupus. Sayangnya migrasi ini tidak bisa diprediksi, apalagi dicegah.

 

Seorang penderita Systemic lupus umumnya tidak menjadi drug-induced lupus, namun sebaliknya bisa terjadi. Gejala drug-induced lupus umumnya tidak termasuk sistem yang berhubungan dengan ginjal ataupun sistem saraf pusat. Obat berikut terbukti memiliki asosiasi dengan drug-induced lupus: Procainamide (digunakan untuk heart rhythm abnormalities), Hydralazine (digunakan untuk tekanan darah tinggi), Isoniazid (digunakan untuk tuberculosis), Quinidine (digunakan untuk heart rhythm abnormalities), Phenytoin (digunakan untuk seizures seperti epilepsi, kejang). Beberapa obat pernah dilaporkan menjadi pemicu, namun tidak disertai dengan bukti yang kuat. Meskipun semua obat yang disebutkan diatas aman bagi penderita lupus, namun jika ada pilihan lain, sebaiknya pilih alternatif lain yang ada.

  

Apa penyebab lupus Sampai

 kini penyebab pasti tidak diketahui. Namun gabungan antara faktor genetik dan lingkungan yang mendukung (stress, misalnya) bisa dijadikan penyebab tercetusnya lupus. Tidak ada angka pasti yang bisa menunjukkan bahwa lupus bisa diturunkan, namun begitu diperkirakan orang yang memiliki keluarga berpenyakit lupus memiliki kemungkinan terkena lupus sebesar 5-12% lebih besar ketimbang orang normal. Sementara itu, ada beberapa penyebab yang memungkinkan munculnya lupus, termasuk cahaya ultraviolet, pemakaian obat dan antibiotic tertentu, infeksi atau virus, hormones & stress.

 

Apakah ada penyembuhan untuk lupus ?

Saat ini tidak ada obat yang dapat menyembuhkan lupus. Dokter hanya memberi

perawatan pada peradangan atau organ-organ yang diserang sambil memberi obat-obatan yang mampu mengontrol lupus, seperti 4 kelompok obat berikut: Nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs), corticosteroids, antimalarials, & cytotoxic drugs (chemotherapy).

 

Kiat Sukses Hidup dengan Lupus

Ada beberapa kiat sukses bagi penderita lupus yang hingga kini dipercaya memperlamban atau ‘menidurkan’ aktivitas SLE, yaitu : menghindari sengatan matahari (secara berlebihan), teratur mengkonsumsi obat yang direkomendasikan dokter, mengubah pola hidup menjadi lebih sehat dan bebas stress dengan kembali ke kehidupan natural dan mengkonsumsi makanan organik, segar serta berolah raga secara teratur .

 

Sekretariat Yayasan Lupus Indonesia

Tanah Mas II/H-87, Jakarta Timur. Tel. (021) 68386897, 478-68336, SMS 0818-145211, Fax. (021) 478-68336

Email : yli_indo@yahoo.com