Tanjungpandan (WP), Menurut mitos Cina, bulan 7 dianggap bulan setan. Menurut warga keturunan Tionghoa, setiap bulan 4 dan 7 pada tanggalan cina rumahnya dimasuki kupu-kupu yang berwarna hitam.  Sementara adat kepercayaan warga Tionghoa, mempercayai pada tanggal lima belas bulan tujuh tahun Imlek, pintu akherat terbuka lebar. Arwah-arwah yang berada di dalamnya akan keluar dan bergentayangan, terlantar dan tidak terawat di dunia. Karena itu manusia yang ada di dunia diharuskan memberikan sesajian sebagai bekal berupa makanan, minuman, buah-buahan, pakaian dan uang-uangan agar para arwah ini tidak mengganggu manusia di dunia.

Masyarakat tionghoa percaya, sesajian yang dihidangkan itu akan dinikmati para arwah menjelang tengah malam. Pada saat itu, prosesi ritual dilanjutkan dengan upacara rebutan sesaji yang berada di atas altar persembahan yang berada di Toa Pek Kong. Toa Pek Kong sendiri artinya para dewa yang dihormati, seperti Tso Su Kong atau Dewa Air, Kwan Iem atau Dewi Welas Asih, Kwan Kong atau Dewa Kejujuran dan Kebajikan, Tyai Tie Pakung atau Dewa Bangunan, Tu Tie Pekong (Bahasa Hokian = Dewa Bumi) atau Hu Tie Pekung (Mandarin) serta dewa-dewa lainnya. Arti harfiah Toa Pek Kong itu sendiri yakni toa itu paling tua sedangkan Pek Kong itu paman yang paling tua. Jadi, Toa Pek Kong itu adalah mereka yang sangat dihormati.

Puncak acara ritual dilakukan dengan membakar patung Dewa Akherat Thai Se Ja pada tengah malam sekitar pukul 24.00 WIB yang menjadi pertanda bahwa  arwah-arwah gentayangan telah kembali ke dunianya lagi dan manusia di dunia kembali dapat melanjutkan hidupnya kembali tanpa takut diganggu arwah-arwah yang gentayangan. Di tangan kanannya , Thai Se Ja memegang alat tulis dan tangan kiri memegang buku. Dengan jubah yang berkilauan, dan sorot mata yang menyeramkan yang tentunya sangat menarik bagi mereka yang hobi fotography. Bersama patung Thai Se Ja, sesaji berupa uang-uangan, baju-baju dari kertas, dan miniatur rumah  dari kertas ikut dibakar. Ini merupakan bagian dari  proses pengiriman sesaji yang digunakan dalam perjalanan bagi para arwah menuju alam akherat.

Tahun-tahun sebelumnya barang-barang persembahan ini diletakkan dipanggung yang tinggi menyerupai balai beregong dalam tradisi melayu. Karena diperebutkan banyak pengunjung panggung ini pun rubuh. Rebutan ini dapat ikuti oleh seluruh pengunjung. Dimulai dengan aba-aba, pengunjung akan saling berebutan untuk mendapatkan apa saja yang ada di atas altar. Karena diperebutkan menjadikan Chit Ngiat Pan terkenal dengan Sembayang Rebut yang dilakukan setiap tanggal lima belas bulan tujuh

 

Kini panggung persembahan tidak setinggi dulu lagi. Di Tanjungpandan ritual, sembayang rebut yang dilaksanakan pada  Jumat malam (15/8), dipusatkan di Klenteng Hok Tek Che Tanjungpandan. Diareal klenteng tampak hok say (meja sembahyang) yang digunakan para pengunjung dari etnis Tionghoa

 

Pengurus Kelenteng Hok Tek Che, Harjo, mengatakan, rangkaian ritual sembahyang rebut telah dimulai Jumat siang yang diawali pembukaan kain selubung penutup wajah Thai Se Ya, patung besar yang terbuat dari kertas. Barang persembahan yang ada berasala dari sumbangan berupa beras, makanan dan minuman, buah-buahan, sembako, mie instant, kue dan peralatan lainnya yang akan digunakan untuk ritual ini. Seluruhnya disimpan dalam wadah keranjang untuk kemudian diperebutkan oleh warga. Sebelum diperebutkan, barang-barang ini diletakkan di tempat tinggi di atas meja kayu untuk disembahyangkan. Setelah itu satu per satu keranjang diturunkan disusun diatas aspal dan diperebutkan. Berbagai atraksi kesenian ditampilkan seperti Barongsai Singa Mas Sakti Belitung atau dulu wayang khas Budaya Tionghoa. Tarian Singa atau barongsai menurut catatan pertama tentang tarian ini dimulai  pada masa Dinasti Chin sekitar abad ketiga sebelum masehi. Tarian Singa terdiri dari dua jenis utama yakni Singa Utara yang memiliki surai ikal dan berkaki empat, penampilannya lebih natural dan mirip singa ketimbang Singa Selatan yang memiliki sisik serta jumlah kaki yang bervariasi antara dua atau empat. Kepala Singa Selatan dilengkapi dengan tanduk sehingga kadangkala mirip dengan binatang ‘Kilin’.


 “Beras ini kita bagikan kepada warga yang kurang mampu, sedangkan makanan dan minuman, serta hasil bumi lainnya ini akan diperebutkan para pengunjung yang hadir pada tengah malam nanti,” jelas Pengurus Klenteng Hook Tek Che. Klenteng Hook Tek Che
yang dibangun pada tahun 1868 yang dapat dikategorikan sebagai  benda cagar Budaya. Beberapa ritual masyarakat Tionghoa yang ada di Pulau Belitung diantaranya Sin Cia, Ceng Beng  dan Cap Goh Mei

 

  • SIN CIA itu sebenarnya merupakan awal dari musim semi di daratan Cina. Tetapi, kemudian dijadikan sebagai awal Tahun Baru Cina.

 

  • Cap Goh Mei, upacara ritual yang dilangsungkan 15  hari setelah Hari Raya Imlek (Sin Cia). Biasanya dimeriahkan dengan atraksi naga (liong), Tatung atau Loya sejenis debus dalam tradisi mayarakat Banten

 

  • Ceng Beng yang jatuh pada tanggal 5 April tahun Masehi, di poupulerkan oleh Nabi Konghucu, Warga Tionghoa berziarah ke makam orang tuanya dan leluhur karenanya disebut Sembayang Kubur.

 

Berbagai ritual  dan atraksi seni budaya yang ditampilkan memiliki daya tarik pencinta fotography ataupun para wisatawan. Namun saat ini ritual ini belum dioptimalkan untuk menarik wisatawan ke Belitung (fithrorozi), Tulisan ini dirangkum dari berbagai sumber