Tanjungpandan (WP), Kita patut bersyukur,  walaupun beberapa wilayah di Kabupaten Belitung termasuk daerah endemik malaria, namun Kejadian Luar Biasa (KLB) yang merenggut korban jiwa dapat kita hindari. Untuk itu sosialisasi pencegahan dan penanganan berbagai penyakit menular seperti, pemanfaatan kelambu untuk mencegah penyakit yang diakibatkan oleh penularan nyamuk seperti demam berdarah, malaria, penyakit kaki gajah dan sebagainya perlu terus dilakukan.

Sosialisasi penggunaan kelambu malaria  tidak semudah yang kita bayangkan. Modernisasi desain tempat tidur seiring dengan perkembangan zaman, membuat ranjang makin kehilangan tempat ditengah masyarakat kita. Sementara pesatnya perkembangan industri obat anti nyamuk dengan insektisida kadar tinggi, baik dalam bentuk bakar, spray maupun elektrik membuat kelambu kian tersudut.
Padahal sesungguhnya selain tidak ekonomis, penggunaan obat anti nyamuk rentan efek samping, paling tidak berdampak pada bagi dan anak terhadap gangguan Inspeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Disisi lain, Budaya hidup bersih dan sehat belum tertanam kokoh dalam kehidupan kita, sehingga kamar tidur cenderung menjadi sarang nyamuk. Inilah salah satu contoh bagaimana modernisasi fisik belum berjalan seiring dengan modernisasi mental.
Demikian Plt Bupati Belitung melalui Asisten III Bidang Administrasi, Selasa (19 Ags) dalam sambutannya pembukaan pelatihan di Hotel Harlika Tanjungpandan. Keberadaan Donor Darah Sukarela (DDS) dan kegiatan bhakti sosial yang diadakan secara periodik oleh PMI Cabang Kabupaten Belitung, masyarakat ataupun kalangan swasta sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) sangat bermanfaat untuk menambahkan ketersediaan cadangan darah di bank darah. Meningkatnya kebutuhan darah terkait dengan banyak pasien yang membutuhkan darah dengan segera seperti meningkatnya penyakit malaria.

Selain kegiatan transfusi atau donor darah, PMI Kabupaten Belitung memiliki peran sosial dalam membantu korban bencana alam dan aksi kemanusiaan lainnya seperti pelatihan Relawan PMI baru-baru ini. Pelatihan Relawan PMI Cabang Kabupaten Belitung ditujukan untuk mendukung  Program Kampanye Kelambu Malaria 2008-2009.  Berdasarkan data yang dihimpun PMI Pusat dari puskesmas pada kampanye bulan Agustus–September 2006 dan Februari 2007 PMI Cabang Kabupaten Belitung telah didistribusi kelambu malaria berinsektisida ke Kabupaten Belitung sebanyak 16.662 unit untuk 8.337 keluarga di 10 desa dan 4 kecamatan.

Namun PMI Pusat menilai pemanfaatan dan pendistribusian 16.662 buah kelambu dari Program Campak Terintegrasi Tahun Anggaran 2006-2007 belum berjalan  optimal. Hal inilah yang melatarbelakangi pelatihan Relawan PMI ini tidak berjalan efektif”  jelas H.Zakaria.

Dengan melatih relawan tingkat kecamatan diharapkan 13 orang Korps Sukarelawan (SKR) ini akan mewarisi dan membimbing relawan di tingkat desa yang berjumlah 68 relawan desa dari 10 desa sasaran program yaitu Desa Tanjungpendam, Desa Juru Seberang, Desa Mentigi, Desa Pegantungan, Desa Sungai Samak, Desa Lassar, Desa Sijuk, Desa Tanjung Binga, Desa Selat Nasik, dan Desa Suak Gual. Mereka direkrut pada bulan Juli yang lalu, sementara komite desa terdiri dari 10 orang. “Relawan inilah yang menjadi ujung tombak Program Kampanye Kelambu Malaria nantinya”, kata Manager Executive Program Kampanye PMI KabupatenBelitung H.Zakaria didampingi Koordinator Program Bustami.

Pelatihan relawan PMI Kabupaten Belitung ini diselenggarakan dari tanggal 19 hingga 23 Agustus 2008.Kegiatan yang berlangsung selama 5 (lima) hari ini resmi dibuka oleh Ketua PMI Kabupaten Belitung Hj.Titik Yoestiati dengan mengundang widyaiswara antara lain dari Divisi Pelayanan Sosial dan Kesehatan PMI Pusat dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung. Pelaksanaan ini juga terkait dengan Peringatan Hari Ulang Tahun Palang Merah Sedunia ke–154 yang  mengambil tema Together for Humanity  (Bersama Untuk Kebersamaan) (syafei/fithrorozi)