Tanjungpandan (WP),   Keberadaan bendera merah putih dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dijelaskan pada UUD 1945 pasal 35 “Bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih.” . Kemudian dipertegas dalam Peraturan Pemerintah No.40/1958 tentang Bendera Kebangsaan Republik Indonesia.

 

Menurut eksiklopedia Wikipedia, Warna bendera merah putih diambil dari warna kerajaan majapahit tidak hanya sebagai lambang kebesaran. Sebelum Majapahit, kerajaan Kediri pun telah memakai panji-panji merah putih. Merah putih menjadi bendera perang Sisingamangaraja IX dari tanah Batak, dijadikan umbul-umbul oleh pejuang Aceh bertuliskan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bintang serta beberapa ayat suci Al Quran Di jaman kerajaan Bugis Bone,Sulawesi Selatan sebelum Arung Palakka, bendera Merah Putih, adalah simbol kekuasaan dan kebesaran kerajaan Bone.Bendera Bone itu dikenal dengan nama Woromporang. Pada waktu perang Jawa (1825-1830 M) Pangeran Diponegoro memakai panji-panji berwarna merah putih dalam perjuangannya melawan Belanda.

 

Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan merupakan momentum penting dalam sejarah perjuangan bangsa kita. Untuk itu kita akan melaksanakan dua kegiatan pokok, yaitu Upacara Pengibaran dan Penurunan Bendera Merah Putih Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Untuk mengibarkan bendera merah putih diperlukan perjuangan panjang yang menuntut pengorbanan jiwa dan raga termasuk ibu dan anak yang tidak berdosa. Untuk itulah saya mengharapkan kepada adik-adik anggota Paskibra agar melaksanakan tugas pengibaran sebaik-baiknya kata Plt.Bupati Belitung Ir.Mulgani dalam acara pengukuhan  Paskibra pada hari Sabtu, 16 Agustus pukul 16:00 di  Ruang Serba Guna Setda Kabupaten Belitung

 

Di tingkat Nasional dikenal Paskibraka (Pasukan Pengibar Bendera Pusaka) dengan tugas utamanya mengibarkan duplikat bendera pusaka dalam upacara peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia di Istana Negara. Anggotanya berasal dari pelajar SLTA kelas 1 atau 2. Penyeleksian anggotanya biasanya dilakukan sekitar bulan April. Pada tahun 1967, Hussein Mutahar dipanggil Presiden Suharto saat itu, untuk menangani pengibaran bendera pusaka. Dengan ide dasar dari pelaksanaan tahun 1946 di Yogyakarta, beliau kemudian mengembangkan formasi pengibaran menjadi 3 kelompok yaitu Kelompok 17 / pengiring (pemandu), Kelompok 8 / pembawa (inti) dan kelompok 45 / pengawal.

 

Sedangkan pasukan bendera pusaka (Paskibraka) di Tingkat Kabupaten Belitung sendiri terbentuk sejak tahun 1985. “Pada awalnya formasi pasukan pengibaran bendera masih melibatkan angotan TNI (TNI AU,AD,AL dan Polri) namun kini hanya terdiri dari dua bagian yakni pasukan delapan sebagai pengibar/pembawa baki) dan pasukan tujuh belas sebagai pasukan pengiring. Meski namanya pasukan tujuh belas, pasukan ini terdiri dari  22 (dua puluh) orang ”,kata Reynaldi Pembina Purna Paskibra Indonesia (PPI). Sehingga jumlah pasukan pengibar bendera genap 30 (tiga puluh) orang.

 

PPI sendiri terbentuk pada tahun 1996, Periode 1996-1998 diketuai oleh Dedi Ilhamsyah, Periode 1998-2001 diketuai Yudi AB, periode 2001-2004 diketuai oleh Subardi dan 2004-2008 diketuai oleh  Yudianto Evan Setiawan. Sebelum dikukuhkan para pasukan pengibar bendera dikarantina di  “Desa Bahagia” (Gedung Sanggar Kegiatan Belajar) Perawas,Tanjungpandan dari tanggal 19 Juli hingga 13 Agustus 2008.

“Melalui PPI kami merasa terikat secara moril dalam kesuksesan pengibaran bendera begitupula disiplin dalam berorganisasi “ kata Yudi AB yang kini menjadi kontributor  RCTI di Belitung. Penyematan Lencana Kepemimpinan anggota PPI pun memiliki makna kedisiplinan, perjuangan, persatuan dan kesatuan bangsa seperti halnya makna bendera merah putih dalam kehidupan berbangsa. Anggota PPI dapat dikenali dengan sabuk yang melilit dipinggang. Sabuk hijau menunjukkan tingkatan muda perintis atau pemula, sabuk merah menunjukkan tingkatan muda pemuka,  sabuk kuning menunjukkan tingkatan muda pembimbing dan sabuk ungu menunjukkan simbol mereka yang berperan terhadap keberadaan pasukan pengibar bendera khususnya di Kabupaten Belitung. “Tingkatan ini dapat dicapai melaui Gladian Centra Daerah hingga Gladian Centra Nasional. Untuk itu anfota harus mengikuti berbagai program latihan kepemimpinan”, tambah Yudi AB  (fithrorozi).