Yogjakarta (WP), Meningkatnya produktivitas masyarakat bukan semata-mata ditentukan oleh modal (uang) yang besar tetapi karena adanya kesadaran dan kepedulian menggali sumberdaya yang ada diwilayah itu sendiri.
`
Hal ini diungkapkan Kades Buluh Tumbang, Maharup Ali selesai mengikuti Studi Banding selama tiga hari di Desa Manding Kabupaten Bantul, Yogyakarta (6 -9 Agustus 2008). Sembilan dari 12 Kades/Lurah di Kecamatan Tanjungpandan yang mengikuti Dina Ruzi (Lurah Kampung Parit), Elisnawati (Kades Air Saga) Maharup Ali (Kades Buluh Tumbang), Sahanan Hasan (Kades Lesung Batang), Sahindiady SJ (Kades Tanjungpendam), Zainal (Kades Dukong), Ahmad Saleh (Kades Air Merbau), Susanto (Kades Paal Satu), Basnawi (Kades Pangkallalang) dan Rahmat SY (Kades Perawas) yang juga didampingi oleh Camat Tanjungpandan Azhar Sip.

Kecamatan Bantul merupakan bagian dari Kabupaten Bantul yang terdiri 4 desa yaitu Bantul, Ringinharjo, Trirenggo dan Palbapang dan kelurahan Sabdodadi serta terdiri 50 perdukuhan. Luas Kecamatan Bantul 2.195,00 hektar atau hanya 5,80 persen dari luas Kecamatan Tanjungpandan (37.844,8 hektar). Pada tahun 2005 jumlah penduduk Kecamatan Bantul 79.746 jiwa. Pada tahun 2007 memiliki 70 unit Koperasi Simpan Pinjam dengan industri kecil sebanyak 291 unit yang menyerap 652 tenaga kerja.

Di Manding, Desa Sabdodadi ada sekitar 25 pengrajin yang masih menekuni kerajinan kulit diantaranya mengembangkannya dengan bahan serat alami, bahan baku kulit banyak dipadukan dengan serat alami seperti pandan, mendong, enceng gondok, agel dan lidi. ”Kunci keberhasilan mereka adalah kesadaran mengembangkan potensi wilayah” kata Kades Tanjungpendam Sahindiady. Manding Bantul cukup dikenal pada dekade 1970 – 1980an sebagai sentra kerajinan kulit yang terletak di jalur wisata Yogya – Parangtritis km. 11,5.. Meski dilakukan secara tradisional usaha masyarakat berkembang karena Pemerintah Kabupaten Bantul mendorong berkembangnya kelompok-kelompok usaha melalui kegiatan promosi dan berbagai pelatihan mulai seperti kursus jasa, kursus pertamanan, kursus kerajinan, kursus kesenian, kursus teknik dan prambahan hingga kursus bahasa.

Usaha kerajinan bukan hanya meningkatkan pendapatan masyarakat tetapi juga menjadi aset wisata sehingga menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung kesana. Kita harus akui adanya kelemahan masyarakat kita dalam memanfaatkan sumberdaya desa. Untuk itu kita berupaya untuk terus mendorong masyarakat memahami potensi desa. “Bagaimanapun masyarakat menjadi ujung tombak perubahan sosial ekonomi yang lebih baik di desa seperti yang kita lihat di Bantul ”, kata Sahindiady.

Pengertian keunggulan ini bukan karena komoditas fisiknya tetapi unggul karena sikap masyarakat untuk peduli, mau bergotong royong dalam mengembangkan potensi desa. Selain itu bantuan permodalan yang dipinjamkan masyarakat dapat digulirkan bahkan dikembangkan turun temurun. Tentu masyarakat Belitung juga dapat mengembangkan usaha rakyat seperti seperti kerajingan kerang, kerajian batu satam, kerajinan anyaman jika ada kepedulian dan keinginan yang kuat untuk memanfaatkan bantuan permodalan dan meningkatkan sumberdaya manusianya, kata Kades Buluh Tumbang Maharup Ali optimis.

Berdasarkan Surat Bupati Belitung Nomor 5556.1/486/I/2008 tanggal 4 Agustus 2008 yang ditandatangani oleh Asisten Bidang Administrasi Drs. H.Jasagung Hariyadi, MSi dijelaskan bahwa studi banding ini terkait dengan upaya pembinaan dan pengembangan seni budaya dan kerajinan (home industry) di Kabupaten Belitung, khususnya di kecamatan Tanjungpandan (Dina Ruzi)