Tanjungpandan (WP),  Dalam 40 menit di udara dilintasi berbagai pesawat tempur mulai dari F-16, F-5, dan Hawk 109/209, pesawat angkut terdiri dari C-130 H, C-130 B, F-27 TS, CN-235, Boeing 737 Intai, KC-130 B, dan  helikopter SA-330/NAS-332 (SARPUR), dan helikopter stand by SAR. Serangan bertubi-tubi dalam dalam atraksi udara tersebut turut menggetarkan masyarakat Belitung. (17/11/07)

 

Salah satu peristiwa monumental yang akan selalu diperingati oleh warga TNI AU adalah Hari Bhakti TNI AU. Peringatan Hari Bhakti TNI AU, belatarbelakangkan dua peristiwa yang terjadi dalam satu hari yaitu pada 29 Juli 1947. Peristiwa Pertama yang terjadi di sebelah pagi yaitu ketika tiga juru terbang kadet TNI AU, Kadet Mulyono, Kadet Suharnoko Harbani dan Kadet Sutarjo Sigit dengan menggunakan dua pesawat Cureng dan satu Guntei berjaya melakukan pengeboman terhadap kubu-kubu pertahanan Belanda di tiga lokasi, masing-masing di kota Semarang, Salatiga, dan Ambarawa. Peristiwa Kedua pula, terhempasnya pesawat DAKOTA VT-CLA yang megakibatkan tiga perintis TNI AU terkorban yaitu Agustinus Adisoetjipto, Abdurahman Saleh dan Adisumarmo Wiryokusumo.

 

Bertempat di lapangan Mako AU Tanjungpandan, inspektur upacara memimpin upacara peringatan Hari Bhakti TNI AU ke-61 pada tanggal 29 Juli. Dengan peringatan ini setidaknya kita kembali diingatkan bahwa pengamanan wilayah udara Indonesia merupakan bagian yang sangat strategis apalagi Indonesia merupakan negara yang terdiri dari ribuan pulau yang tersebar.

 

Dalam Peta dunia pulau Belitung berada  garis 107º35’ dan 108 º18’ BT, 2 º32’ dan 3 º15’ LS. Dengan penerbangan Dakota dapat ditempuh 1,5 jam perjalanan ke Jakarta, kini melalui Bandar Udara Hananjoeddin yang mengabadikan nama prajurit TNI AU asal Mempiu, Belitung ini, penerbangna ke Jakarta dapat ditempuh dalam 45 menit dengan lebih dua maskapai penerbangan.

Napak tilas bhakti TNI AU terhadap negeri ini mengingatkan kita terhadap sejarah berdirinya Markas Komando TNI AU di Pulau Belitung dengan  bagian sejarah yang mengikutinya antara lain sejarah dibangunnya Landasan Udara Tanjungpandan, sejarah Skuadron Radar 420 Sungai Padang, Sejarah Lapangan Udara Buluh Tumbang dan Lapangan Udara Air Tembalun di Buding, Kecamatan Kelapa Kampit

 

Pada tahun 1958 dibuka perwakilan kecil AURI di Tanjugpandan dengan status “Detasemen Penghubung” bermarkas (sementara) di Jalan Veteran No.06 Tanjungpandan. ini dipimpin oleh Sersan Udara I (SUI) Danu dengan dibantu oleh beberapa anggota, antara lain KUI Sahidu (Sekretariat, SUI Jono, SUI Maman Kusnadi (Intel/Sandi), SUII Suhanda, KUII Rustam dan dibantu oleh dua orang pekerja dapur PH Djasuli dan PH. Alimin.

 

Lalu lintas jalan raya yang sibuk dan bisa dideteksi saja seringkali membuat jalan raya memakan banyak korban. Seperti halnya lalu lintas udara, sejak berkembangnya teknologi informasi lalu lintas udara semakin sibuk dan ini berpotensi menjadi ancaman pertahanan keamanan nasional. Sayangnya sinyal yang diterima tidak begitu kuat. Oleh karena itu dibutuhkan radar untuk mendeteksi  memperkuat sinyal, kata Liem Tiang Gwan, Ahli Radar kelahiran Malang yang pernah menjabat Kepala Departemen Radar Diversifications and Sensor Konsep  di Stuttgart, Jerman.

 

Pada 16 November 1963, ditempatkan sebuah stasiun radar (starad) 2 km sebelah Barat Lapangan Udara Buding untuk mendukung operasi Dwikora. Dalam rangka Operasi Dwikora pada tahun 1963 sebuah pesawat bomber AURI (B-25) mengadakan “touch “ pertamanya di Lapangan Udara Buding

 

Pada tanggal 20 Januari 1965 “STARAD Buding” dipindahkan ke Sungai Padang (skuadron 420). Kini pasukan dan stasiun radar sudah tidak dioperasikan lagi di Pulau Belitung.

 

Selamat Hari Bhakti TNI-AU ke-61, seperti motto TNI AU Swa Bhuana Paksa, semoga TNI -AU tetapa jaya di udara mengamankan wilayah udara NKRI (fithrorozi).