Tanjungpandan (WP), kehadiran sebuah lembaga penelitian seringkali diartikan dengan berkumpulnya banyak tenaga ahli bergelar akademis dengan berbagasi spesialis dan perpustakaan penunjang untuk meneliti objek penelitian. Komunitas adalah salah satu objek yang sering diangkat. Kecenderungan membangun komunitas ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi mereka yang punya kepedulian dan persamaan persepsi.

Seperti halnya Komunitas Litbang, pada awalnya beberapa staff Bappeda Kabupaten Belitung terinspirasi dengan banyak isu-isu, konflik sosial yang terjadi di Kabupaten Belitung. Lantas apa yang dilakukan untuk menjawab berbagai pertanyaan masyarakat. Pada tahun 2007, muncul gagasan untuk membuat kelompok diskusi yang dapat mendokumentasi, menganalisa dan memberikan rekomendasi pengambil kebijkan sehingga terbentuknya Komunitas Litbang yang diharapkan dapat mendorong aparatur pemerintah dan masyarakat untuk bekerjasama membudaya kegiatan penelitian. Tujuh dokumen pun akhirnya tersusun antara lain membahas masalah budidaya walet, keberadaan kapal keruk sebagai museum apung, Desa Mandiri Energi. Pada saat itu anggota Komunitas Litbang masih terdiri dari staff Bappeda Kabupaten Belitung.

Kini, di tahun 2008, beberapa lebih kurang 7 anggota masyarakat terlibat dalam kegiatan penelitian. “ Saya merasa belum cukup pas untuk di-SK-kan sebagai peneliti” kata Said Fitriyono penuh tanya. Begitupula dengan Kades Simpang Rusa, T.Sarpian. Kades yang sudah menulis beberapa buku ini dan menjuarai Lomba Karya Ilmiah di masa SMA dulu pun masih sungkan awalnya diajak bergabung dengan Komunitas Litbang.

Memang kegiatan penelitian di Komunitas Litbang tidak seperti di Lembaga Penelitian disejumlah Perguruan Tinggi, penelitian ini lebih menekankan pada. Kepada Bappeda dan PM Kabupaten, Ir.Nazalus menjadi kepindahan sebagai Kepala Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menegaskan bahwa produk komunitas Litbang tahun lalu, kurang disosialisasikan padahal ini penting untuk bahan rekomendasi pengambilan kebijakan Bupati. “Saya berharap dengan keanggotaan yang semakin beragam terutama dari masyarakat, cakupan masalah yang akan diteliti menjadi lebih luas , sebelum nantinya diseminarkan untuk mendapatkan tanggapan dari stakeholder yang lain ” ungkap Ir.Nazalyus.

Untuk itu Pak Yus, berharapan tema yang dipilih tidak sekedar untuk memenuhi kewajiban sebagaimana tertuang dalam Rencana Kerja Anggaran (RKA). Tema yang diusulkan nantinya dapat menjadi pegangan bagi pengambil keputusan, menyentuh persoalan masyarakat dan dapat diaplikasikan. “Di tingkat Provinsi, Gubernur Eko Maulana Ali ingin membentuk Cyber Techno Generation, Alhamdullillah kita sudah menghasilkan dokumen beberapa dokumen kajian meski namanya hanya berbentuk komunitas”.

USULAN PENELITIAN
Banyak persoalan yang memang bisa dijadikan bahan kajian. Kegagalan kita meraih Adipura itu salah satu nya karena masalah pencemaran Sungai Air Raya yang ada di Kota Tanjungpandan, lingkungan ini menarik untuk dijadikan kajian” jelas Nazalyus.

Anggota komunitas Litbang sendiri menyadari persoalan efektivitas dan birokrasi , kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, retribusi Hotel dan Restoran, distribusi BBM dan energi alternatif memang menjadi isu pembangunan yang semakin berkembang.

Isu-isu pun sudah disampaikan sebelumnya sehingga sejumlah research question perlu dijawab dalam kegiatan kajian nanti. Namun banyak hasil kajian yang tidak terpakai, ini membuat kami Patah Arang, kata Jaafar Usman, hal senada juga disampaikan oleh Marwan Hasan, Adriansyah dan Martin yang selama ini terus mengembangkan teknologi yang mudah digunakan oleh Masyarakat seperti pembuatan pupuk.
Diakhir pertemuan Komunitas Litbang pertama ini, selain mengusulkan beberapa perbaikan dalam sistematika penulisan, teknologi dan publikasi hasil kajian, juga menetapkan lima tema prioritas

1.Penguatan kelembagaan (Dewan Riset, LSM Anggaran, Sanggar kesenian dan pendirian perguruan
tinggi di Kabupaten Belitung)
2.Keterkaitan program dan implementasi (lingkungan)
3.Isu pengentasan kemiskinan (identifkasi kelompok miskin menurut individu, wilayah dan sektor serta
energi alternatif)
4.Pembangunan berdampak pada masyarakat (pengembangan sawit)
5.Pembangunan sektoral, seperti penguatan kembali konsep agropolitan, etalase kelautan dan
pengembangan geoforesfry.

Langkah besar itu memang selalu dimulai langkah kecil, selalu mencari dan mencari sehingga kekurangan dapat diperbaiki. (fithrorozi)