Begitu terhormat, begitu disegani bapak dalam keluarga. Beliau adalah pemimpin, menjadi tulang punggung keluarga yang pantas dihormati karena  berjuang memberi nafkah keluarga besar ini.  Saking dihormati dalam urusan makanan-pun begitu dimuliakan. Setiap pagi sebelum berangkat kerja, sudah tersedia sepotong roti diatas meja lengkap dengan mentega dan misis-nya. Ditemani secangkir kopi hangat menambah nikmat suasana pagi. ’’ah..begitu menggiurkan sepotong roti itu’’. Bagiku roti merupakan makanan mewah dan belum satu kalipun aku merasakannya.

 

Pernah suatu aku protes “kenapa bapak saja yang harus memakan roti itu. Apakah anak-anaknya itu tidak boleh, walaupun hanya secuil bu. ’’Nak….roti itu hanya diperuntukkan untuk orang yang telah memberi nafkah kepada kita. Roti itu hanya untuk orang yang bekerja demi keluarga. Dan yang hanya bekerja itu kan bapak “ ujar Ibu beralasan.

 

Aku terdiam, batin ini  meng-gunung-kan keinginan. Suatu  suatu saat sepotong roti itu harus menjadi milikku. Ini berarti aku harus bekerja untuk keluarga. Aku harus cepat menyelesaikan sekolah SMK-ku. Biar aku cepat kerja. Maklum kalau untuk meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, bapak tentu tidak akan mampu. Bapak yang bekerja hanya jadi tukang pikul dipasar tentunya tidak punya uang untuk menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang setinggi itu. Untuk meneruskan ke SMK ini saja, aku dibiayai  paman. Apalagi kami merupakan keluarga besar dengan lima orang bersaudara dan aku sebagai anak anak sulung. Adikku sekarang dua orang duduk dibangku SMP,dan dua orang lagi duduk dibangku SD. Jadi sangat berat beban biaya yang bapak tanggung untuk menghidupi keluargaku. Padahal bapak hanya sebagai tukang pikul.

 

Tapi aku salut dan bangga terhadap ibuku. Dia selalu sabar dan selalu memperhatikan pendidikan kami walaupun dalam kondisi kekurangan. Seberapun uang yang dia terima tidak pernah menyajikan sepotong roti untuk bapak sebelum pergi kerja. “ Entah…sejak kapan ibu selalu dapat membeli roti itu, padahal roti itu kan mahal “.

***

 

“Nak.., dengarkan baik-baik. Bapak mau memberi nasihat untukmu semua’’. Bapakku mulai berbicara ketika kami berkumpul bersama di tengah rumah setelah makan malam yang sangat sederhana dengan hanya memakai sambal, sayur bening dan masing-masing sepotong tempe kering. “Nak…jadilah kalian anak yang jujur, sabar, tawakkal, dan menjadi anak yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Biar kita hidup ini miskin, akan tetapi jangan berbuat jahat dan curang. Allah-lah yang mengatur rezeki “, kata bapak sambil melihat secara bergantian kepada anak-anak-nya termasuk aku. ’’Kamu…Surya.. kelak kamu menjadi pengganti bapak, kalau bapak sudah tua dan tidak lagi sanggup bekerja. Kamu harus mampu menjadi tulang punggung keluarga. Bapak ini sudah dimakan usia. Bapak rasakan sudah agak lemah untuk bekerja seberat itu’’. Bapakku memberi nasihat khusus untukku, mungkin dianggap sudah mampu untuk menterjemahkan maksudnya. Bapakku memang selalu menanamkan sifat-sifat terpuji dan akhlak yang baik kepada anak-anaknya.

 

“Nanti suatu saat…. Surya, kamu gantikan posisi bapak ya! ’’, tegas bapak berulang-ulang. Aku terdiam yang kupikirkan adalah bagaiman bisa menyantap roti di pagi hari.

***

 

Bapakku tergolek lemah diatas kasur. Sudah tiga hari ini beliatu tidak dapat bekerja, memikul barang-barang di pasar, karena sakit. Aku menjadi sedih, sekolahku yang tinggal menunggu lulus, untuk sementara ditinggal karena tidak akan mempengaruhi apa-apa, pikirku. Aku yakin,aku pasti lulus, karena selama ini memang aku selalu menjadi nomor satu dikelas dalam hal prestasi. Aku gantikan pekerjaan bapakku untuk menjadi tukang pikul dipasar. Memang terasa berat pekerjaan ini. Apalagi aku masih tergolong muda dan belum terbiasa dengan pekerjaan seperti ini. Dan penghasilan yang diperoleh pun tidak sebanding dengan beratnya pekerjaan ini.

 

“Ah.. memang melelahkan sekali pekerjaan ini “, aku bergumam. Pantas saja ibu begitu menaruh hormat yang sangat kepada bapak. Wajar bapak begitu diagung-agungkan dalam keluarga bagaikan pahlawan. Sehingga makanpun harus dibeda-bedakan dengan anggota keluarga lain.

 

Akan tetapi yang membuat aku nekad dan selalu membuat semangat akan kerjaku yang berat itu adalah cita-citaku ingin merasakan ’’sepotong roti’’ itu yang ditemani dengan ’’secangkir kopi’’. Aku bangkit dari duduk, kemudian aku lanjutkan pekerjaanku karena masih ada beberapa karung beras yang belum aku pikul untuk dimasukkan kedalam gudang. Aku ingin segera menyelesaikan pekerjaan itu. Dan aku ingin segera mendapatkan uang hasil upah pikul. Karena memang upah diberikan per hari.

 

Aku pulang kerumah dengan menunggang sepeda bututku itu. Semangatku begitu tinggi karena hari itu aku membawa uang yang lumayan untuk diserahkan kepada ibuku untuk dipakai belanja dan berobat bapak. Dan yang paling membuat aku bergairah lagi adalah besok pagi ketika aku akan pergi kerja sudah tersedia sepotong roti dan secangkir kopi diatas meja. ’’Hmmm…menggiurkanku’’.aku melamun.

 

****

 

Aku sudah bangun pagi-pagi. Aku sudah mandi dan aku sudah brganti baju untuk pergi kerja dipasar itu. Aku selalu teringat akan sepotong roti itu. Dan ternyata sepotong roti itu sudah tersedia beserta secangkir kopi.

 

’’..aha..sekarang giliranku yang melahapnya..’’. Aku sekarang sudah dapat duit. Aku sekarang menjadi tulang punggung keluarga. Aku sekarang yang bekerja dalam keluarga ini. tidak ada orang yang dapat menyantap roti ini. Ibuku pernah bilang, bahwa yang berhak akan roti ini adalah mereka yang bekerja.

 

Baru saja akan kuambil roti itu dan siap menyantapnya, tanpa sepengetahuanku dari belakang ibuku menegurku. ’’Surya.. ndak baca do’a dulu sebelum makan..? “, aku kaget.

Memang aku lupa karena terbawa semangat untuk segera melahapnya. ’’nak…makan roti itu mentega dengan misisnya aja ya…,ndak usah rotinya’’,ibuku berkata lagi sambil memandangku dengan tajam. Aku kaget. Mengapa ibuku berkata begitu. ’’bu..ibu kan pernah bilang, bahwa yang berhak untuk memakan roti ini adalah orang yang bekerja dalam keluarga kita. Surya kan ..bu.. udah kerja’’.aku mencoba membantah.

 

’’iya.. ibu ngerti nak. Tapi..’’. ibuku menarik nafas. Seperti ada yang mengganjal dan menjadi rahasianya. Terlihat dari sorot matanya yang sembab itu karena sudah mengeluarkan air mata.’’Tapi…kenapa…bu?’’,aku mendesak ibu.

 

Karena aku penasaran, kenapa roti aja tidak boleh dimakan. ’’Nak… coba kamu perhatikan benar-benar roti itu. Coba kamu kuliti dan bersihkan mentega dan misisnya “. Aku ambil roti itu dan kubersihkan mentega dan misis-nya, dan ternyata diluar perkiraanku selama ini.

 

 ’’jadi bu..!’’. aku terpana sambil menatap roti itu. ’’Iya nak..,itu roti palsu. Roti plastik yang ibu beli dipasar. Ibu sengaja beri mentega dan misis-nya  setiap hari seperti roti asli. Ibu berbuat seperti ini, agar kamu..menghargai, jerih payah bapakmu….’’.ibu tidak melanjutkan ucapannya. Ibu meninggalkanku yang melongo.

 

Aku sudah salah duga dan salah terka.  Selama ini, bapak yang kuanggap enak-enak makan roti setiap pagi ternyata….. tipuan belaka. Aku berfikir dan merenung lebih dalam lagi. Aku menjadi lebih dewasa karena sepotong roti. Aku lebih bergairah untuk bekerja karena sepotong roti. Aku dituntut lebih bertanggung jawab karena sepotong roti. Dan aku belajar menghargai orang yang bekerja. Begitu dasyatnya ’’SEPOTONG ROTI’’. (Yasa,SP)