Sejak militer mengambil peran, perjalanan hidup berbangsa dan bernegara banyak yang diambil alih oleh militer bahkan nama-nama jalan diganti dengan tokoh-tokoh militer, sebagian besar pejuang kemerdekaan tetapi sebagian lagi karena ada pertentangan politik dan dianggap menentang pemerintah atau sering disebut makar.

Sebelumnya menjadi Jalan Angkasa misalnya dulu mengabadikan nama seorang tokoh. Tapi konon tokoh tersebut diindikasi terlibat dengan organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia maka nama jalan di Jakarta Pusat itu pun diganti.

Nama –nama jalan itu membangkitkan daya ingat orang atas jasa-jasa dimasa hidup. Namun beberapa nama bahkan tidaklah tidak pernah diabadikan dalam bentuk apapun meski perannya juga besar seperti peran Prof.Dr. (Emeritus) H.Marsidi P.S. Judono dalam sejarah perjuangan masyarakat Belitung.

Marsidi Judono adalah orang Indonesia pertama yang berani bicara soal keluarga berencana (KB). IUD pertama dipasangnya pada 1956. Padahal, ”Secara politis Presiden Soekarno tidak setuju KB, walaupun secara pribadi ia prihatin terhadap kesehatan kaum ibu,” katanya.

 

Tingginya angka kematian bayi membangkitkan jiwa pelayan kesehatan masyarakat ini salah satu motif untuk menggerakkan Keluarga Berencana ” masyarakat umumnya cenderung memiliki banyak anak, untuk cadangan,” ujar Marsidi Judoni, pendiri Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), 1957, itu. PKBI inilah yang menjadi cikal bakal Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang ada sekarang. Untuk jasa- jasanya di bidang KB, Oktober 1982, ia menerima Certificate of Merit for Outstanding Contribution to Reproductive Health Care dari World Academy of Sciences.

Meski bergelar dokter, beberapa teman-temannya di Simpang Tige (Belitung Timur kini) memanggilnya Kek Dukun. Secara geografis Simpang Tige berada ditengah-tengah kekuasaan administrasi, yakni Belitung timur (Oost Hook) dan Belitung Barat. Banyak waktu dihabis bapak dari dua anak disana.


Anak kedua dari 10 bersaudara ini berayahkan seorang asisten wedana di masa sebelum Perang. Jabatan ayahnya itu memberinya peluang masuk sekolah khusus untuk anak Eropa (ELS) di Ponorogo. Pendidikan menengah dan tinggi ditempuhnya di Jakarta, sampai meraih predikat Arts (dokter), 1936. Baru 1951, bekas anggota Jong Java dan Indonesia Muda ini mengambil keahlian di bidang kebidanan dan penyakit kandungan pada Universitas Amsterdam, Negeri Belanda. Soal KB didalaminya pada lembaga riset KB Margaret Sanger, New York, AS, 1956.Sebagai dokter pertama kali bertugas di Tambang Timah Bangka. Pada awal Kemerdekaan, Judono pernah menjabat Wakil Kepala Daerah Belitung, sambil merangkap Kepala Dinas Kesehatan setempat.

(Didi) panggilan kecil Marsidi .P.S Yudono ,memiliki dua anak. Seorang bergelar sarjana hukum, seorang lagi sarjana ekonomi yang juga doktor. Si bungsu cukup dikenal sebagai tokoh nasional yakni Billi Joedono. Satrio “Billy” Budihardjo Joedono lahir di Pangkalpinang, Bangka pada 1 Desember 1940 pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan (19931995) sebelum Departemen Perdagangan dijadikan satu oleh Presiden Soeharto dengan Departemen Perindustrian menjadi Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Depperindag) pada tahun 1996, serta menjabat sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan 19982003

Mantan kepala pemerintahan nasional RI di Belitung 1945 ini meninggalkan Pulau Belitung tahun 1952. Kembali ke Jakarta, ia menempati posisi Lektor Kepala FK UI, 1952-1958, dan selama 11 tahun berikutnya menjadi guru besar di UGM, Yogyakarta. Sejak 1977 Judono diangkat sebagai penasihat ahli Kepala BKKBN Pusat, setelah tujuh tahun menduduki jabatan Deputi Ketua.


Rambutnya sudah tidak ada yang berwarna hitam. Giginya juga telah banyak yang palsu. ”Hampir setiap orang ingin berumur panjang, tetapi jarang yang mau berusaha,” katanya. ”Saya ini tidak merokok dan tidak minum alkohol, bukan karena saya haji, tetapi karena ingin sehat dan berumur panjang.” Waktu 24 jam sehari ia bagi untuk tiga kegiatan: bekerja, tidur, dan istirahat, masing-masing selama delapan jam. Dia selalu melakukan olah raga lari pagi selama 30 menit setiap hari, dan berenang tiga kali seminggu.Setelah sekian lama meninggalkan Belitung, pada bulan Oktober 1985 untuk pertama kalinya kembali  mengunjungi tanah kelahiran keduanya. Bersama mantan Sekwilda Idris Sadi (1967-1972), ia  diundang ke DPRD untuk menghadiri serah terima jabatan Bupati Belitung dari Soemarsono ke Kristyanto. Mereka berdua membicarakan kemungkinan ditentukannya Hari Kebangkitan Rakyat Belitung seperti yang dituturkannya dalam Surat yang dikirimkan ke Bupati H.Kristyanto di Tanjungpandan.
 

Sebagaimana Bapak ketahui, sejak beberapa tahun yang lalu, dalam sambutan pada Halal Bihalal Masyarakat Belitung di Jakarta, disinggung gagasan untuk menentukan tanggal 21 Oktober  sebagai hari bersejarah rakyat Belitung yang akan menjadi hari kebanggaannya, Lantas mengapa 21 Oktober, karena pada tanggal 21 oktober 1945 kapal perang Belanda H.M.S. Tromp dengan kedok mewakili “Allied Force” (sekutu-red) berlabuh di Tanjung Pandan untuk melucuti tentara Jepang, namun sebenarnya ingin menduduki Pulau Belitung.

Karena  Kepala Daerah Belitung, K.A. Joesoef tidak berada di tempat maka saya selaku wakilnya menyerahkan secara simbolis tentara Jepang kepada komandan HMS Tromp. Kedatangan kapal Belanda menimbulkan reaksi para pemuda Kampung Parit. Kampung Ujung. Pada malam harinya mereka berkumpul untuk melawan tentara Belanda.

 

Mengenang Masa Berjuang

Judono mengisahkan perjalanannya berkeliling ke beberapa tempat seperti Tanjung Pandan, Simpang Tiga dan Buluh Tumbang, Manggar hingga Gantong mengenang masa-masa berjuang dulu bersama teman-teman dekatnya. 

Dari dokumen yang memuat gagasannya mengenai kemajuan Belitung tidak menampak keinginan untuk mengedepankan kekuasaan terhadap materi. Sebagai pelayan masyarakat dirinya cukup dikenal hingga ke pelosok kampung. Ingatannya sejenak beralih ke pengalaman menarik ketika tentara Jepang membangun lapangan udara di Buluh Tumbang tahun 1945, sebagai dokter saya menolong penduduk yang lengan kirinya putus digigit buaya.

Judono tidak meninggalkan rumah pribadi di Belitung, ketika berkunjung ke Belitung dia menginap di Wisma Timah dibelakang penginapan NV GMB yang dulu menghadap ke pantai. Namun ia sempatkan meninjau rumah yang didiami dari tahun 1943-1947 di Tanjungpandan dan rumah di Manggar  yang ditempatinya tahun 1951  

Tanggal 9 Juli 1989, Judono mengunjungi kampong Simpang Tige dan mencari teman-teman seperjuangannya, namun sahabatnya yang dulu menjabt Lurah Simpang Tige, M.Ali  sudah meninggal dunia lebih dulu. “Simpang Tige adalah desa tempat saya dan kawan-kawan seperjuangan menyelenggarakan PAMURI (Panitia Musyawarah Rakyat Indonesia) bulan Mei 1947 di Balai Kelurahan Simpang Tige.  Lurah M.Ali bersama anak-anaknya Djalil Ali dan Razak Ali, adalah pejuang” ” ujar Judono yang masih sempat menemu  Razak Ali yang tinggal di Kampong Bange’. Razak Ali mantan DPRD yang menjadi pengusaha perkebunan sempat tidak mengenali tokoh perjuangan masyarakat Belitung ini. Tapi Judono punya cara mengulang sejarah. Di tengah kampong seperti ini akan sulit membangkitkan semangat kebersamaan dengan menyebut dirinya professor, tetapi ketika memperkenalkan diri dengan Ki’ Dukun, Razak Ali  pun tersentak. Keduanya berpelukan melepas rindu.

Sore harinya Judono mengunjungi penjara yang dijadikan bangunan Lembaga Pemasyarakatan Tanjungpandan, tempat sel tahanan selama beberapa jam sebelum dipindahkan di sebuah rumah di depan rumah Mayor Textor, komandan serdadu NICA. Kawan lain yang ikut ditahan pada waktu itu (1947) adalah oleh NICA adalah Burhan, Mohommad Saad, Abdul Kadir Mahidin dan K.A. Fattah dan Haji Mas’ud yang nama-namanya tercantum dalam risalah “ Setahun Kenang-Kenangan Indonesia Merdeka di Belitung 17-8-1945 hingga 17-8-1946 “ yang disusun Almarhum Elias.

Selama ditahan NICA, Judono bersama kawan seperjuangannya di masa revolusi dibantu oleh The A Ho, pemilik Gedung Bioskop Tanjungpandan yang ketika berkunjung ke Belitung masih sempat bertemu. Lewat The A Ho dan H.Mas’ud, Judono akhirnya berangkat ke  Jawa untuk bergabung dengan Republik melawan NICA. Waktu itu H.Mas’ud merupakan salah seorang dari sedikit pengusaha pribumi Belitung yang ditugasi mencari dana dukungan.

 

Bangunan Sejarah Yang Hilang

Usai menghadiri seminar ilmiah di Kampus Universitas Indonesia, penulis sempat menyela pembicaaran dua ekonom Indonesia,  Prof. Dorojatun Kunjorojakti dan Prof Billy Judono saat menuruni tangga kampus. Sahabat ditinggalkan, Prof Billy memilih bernostalgia dengan Europesche Lagere School Tanjungpandan yang dulu tempat tempat dia menimba ilmu dan kini digunakan untuk  SMPN 1 Tanjungpandan. Menurut Judono, anaknya juga pernah menimba ilmu di   “Algemene Lagere School “  yang dijadikan Sekolah Rakyat. “Disitu dulunya Didi (Prof.Billy) sekolah, letaknya di depan Mesjid Jami’ sekarang sudah tidak ada lagi “ kata Judono. Orang Belitung mengenalnya sebagai Sekolah Melayu yang terbuat dari papan berlantai semen.

Banyak bangunan-bangunan yang memiliki nilai sejarah bagi dirinya dan bagi Belitung tentunya yang sudah hilang. “Pos Polisi didepan kantor GMB dikenal dengan nama Hopwa (dari bahasa Belanda Hooftwacht atau Pusat Penjagaan), sekarang sudah tidak ada lagi.  Begitupun bagian depan klinik sudah menjadi bagian belakang. Tanah kosong dibagian belakang klinik dahulu menghadap ke gunung (permukaan yang tinggi) sekarang sudah penuh bangunan baru seperti rumah Kawilasi, Mesjid dan Gereja baru“ ujar Judono saat itu. Rumah Ir. Verschure, Kepala GMB 1946  yang terletak di belakang Museum Tanjungpandan. Orang Belitung menyebutnya Tuan Kuase. Gunung yang dimaksud Judono sebetulnya hanya permukaannya saja yang tinggi, bangunan ini sudah dibongkar yang ada hanyalah sisa pondasinya, konon bangunan ini angker.

”Kami tidak melihat rumah sakit Pemerintah Daerah sementara rumah-rumah milik UPT Belitung yang tidak dihuni dibiarkan tidak terpelihara. Kami juga mengunjungi Puskesmas  dulunya belum ada. Poliklinik lama Billiton Fonds (milik GMB) sedang diganti dengan poliklinik UPT Belitung yang baru juga melayani rakyat” begitulah Judono mengungkapkan keresarhan hilangnya bangunan-bangunan penting yang mengingatkan kewajiban pemerintah terhadap masyarakatnya.

Di Manggar, tidak berbeda dengan Tanjungpandan. Judono  mendapati Rumah Kepala GMB Manggar Ir. M. Van der Marel diganti menjadi rumah Kawilasi Manggar. Kini sebagian bangunan dirubah untuk keperluan rumah dinas Bupati Belitung Timur. Rumah Kepala GMB ini masih terpelihara dibandingkan dengan bangunan pembangkit listrik Electricshe Centrale (EC) yang hanya meninggalkan pondasi.

Saat keberangkatannya  kembali ke Jakarta, Judono semakian  menaruk harapan besar terhadap kemajuan Belitung di masa datang, dengan melihat potensi dan perkembangannya waktu itu. “ Begitu juga Kota Gantong mengalami banyak kemajuan, kampungnya  bersih dan rumah dari tembok (permanen) bisa dijumpai sepanjang jalan. Rumah sakit GMB lama diganti dengan rumah sakit baru.  Gantong yang kecil juga memiliki Lapangan golf.  Kini tokoh perjuangan masyarakat ini sudah meninggalkan Belitung dan dunia ini. Semoga, keresahannya terhadap bangunan sejarah yang hilang tidak terulang. Bagaimanapun masa lalu menjadi pijakan kita, siapa lagi yang peduli kalau kepada kita yang ditinggalkan. Kepada kitalah Belitung akan mewujudkan harapan besar Prof.Dr. (Emeritus) H.Marsidi P.S. Judono

 

Tulisan ini sebagian dikutip dari Suara Masyarakat Belitung  Nomor 4, Juli-Sept 1989 dan Nomor 5, 12 Juli 1989 (fithrorozi)

Biodata

Nama : Prof. Dr (Emeritus) H.Marsidi P.S. Judono

Lahir : Magetan, Jawa Timur, 31 Oktober 1908
Agama : Islam

 

Pendidikan :

·     SD, Ponorogo (1924)

·     SMP, Jakarta (1928)

·     SMA, Jakarta (1929)

·     Geneeskundige Hogeschool, Jakarta (1936)

·     Ginekologi Gemeenteliyke Universiteit Amsterdam Obst (1951)

·     Ahli Keluarga Berencana di Margaret Sanger Research New York (1956)

·     Antoni van Leeuwenhoekhuis Amsterdam (Kanker Instituut) (1965)

·     Radium Hemmet Kankerinstituut Stockholm, (1965)

·     L’Institut Gustave-Roussy Institut Kanker Villejuif, Paris (1965

 

Karir

·     Asisten Bagian Kebidanan Geneeskundige Hogeschool di Jakarta (1936-1937)

·     Dokter Umum Bangka Tin Winning (1937-1942)

·     Dokter Umum Mitsubishi di Belitung (1942-1945)

·     Dokter di Tanjungpandan (1945-1948)

·     Asisten Gemeentelijke Universiteit Amsterdam (1948-1951)

·     Dokter Ahli GMB Billiton (1951-1952)

·     Lektor Kepala Kebidanan FK UI (1952-1958)

·     Guru Besar UGM (1958-1968) 

·     Staf Ahli Menteri Kesehatan (1968-1969)

·     Deputi Kepala BKKBN (1969-1977)

·     Penasihat Ahli Kepala BKKBN sejak  1977