Tanggal 20 Mei 2008 merupakan  Hari Kebangkitan Nasional Bangsa Indonesia yang ke-100. Upacara ritual masih mewarnai ciri khas bangsa Indonesia yang suka sesuatu  berbau seremonial. Semangat menggugah generasi muda melalui peran para pahlawan diusung sebagai tema untuk membakar semangat membangun negeri  zamrud khatulistiwa. Para pejabat tidak ketinggalan, berpidato dengan semangat hiperbola agar bangsa ini menghargai dan meniru kegigihan para pahlawan. Dalam tiap tahun, berkali-kali bangsa Indonesia melakukan refleksi masa lalu untuk menggugah semangat para pahlawan, tetapi hingga kini mental manusia Indonesia tetap paling buritan di antara negara-negara Asia.

Di dalam dunia akademis, penentuan hari kebangkitan nasional masih mengandung  kontroversi. Tepatkah BU sebagai penanda hari kebangkitan nasional? Bagaimana sesungguhnya hari kebangkitan nasional Indonesia? Bagaimana masa depan nasionalisme bangsa Indonesia? Sikap apa yang mesti dikembangkan dalam mengembangkan nasionalisme Indonesia? Untuk menjawabnya mari kita diskusikan bersama berikut ini!

 

B. Mitologi kebangkitan nasional

Momentum hari Kebangkitan Nasional Bangsa Indonesia ditandai  lahirnya sebuah organisasi modern pertama bernama Budi Utomo dengan pemimpin pertamanya dr Sutomo. Secara historis  berdirinya BU sebagai momentum Hari Kebangkitan Nasional Indonesia perlu dipertanyakan? Bukan berarti  BU sebagai organisasi modern tidak penting bagi bangsa Indonesia, tetapi makna kebangkitan nasional itulah yang perlu dijelaskan sebagai makna nasionalisme.

Untuk memperjelas maksud tersebut, mari kita simak cuplikan beberapa organisasi yang berkembang pada awal abad XX di Indonesia.

  1.  Budi Utomo

Dr. Wahidin Sudirohusodo, seorang pemimpin redaktur majalah Retnodumilah dan juga lulusan Sekolah Dokter Jawa (yang sesudah tahun 1900 dinamakan STOVIA) berusaha mendorong dan mempelopori berdirinya organisasi pergerakan yang bersifat modern. la berpropaganda dan berkeliling di Jawa, berusaha menghimpun beasiswa (studiefonds) untuk melaksanakan pendidikan bagi kalangan priyayi rendah. Tahun 1907 Wahidin Sudirohusodo berkunjung ke STOVIA untuk menyampaikan gagasannya. Kunjungan ini mendapat tanggapan dan menumbuhkan semangat bagi para mahasiswa STOVIA. Salah seorang tokohnya adalah Sutomo. Kemudian, dibentuklah suatu organisasi guna memajukan kepentingan-kepentngan kaum priyayi rendah. Oleh karena itu, pada tanggal 20 Mei 1908, hari Minggu pukul 09.00 di Aula STOVIA, Sutomo menyatakan berdirinya organisasi pergerakan yang diberi nama Budi Utomo (BU).

Dalam perkembangannya, BU gagal menjadi organisasi berbasis rakyat. Peran priyayi masih kental dalam perkembangan organisasi tersebut. Pada perkembangan selanjutnya, bahkan Ricklefs menyebutnya sebagai organisasi yang tampak seperti partai pemerintah yang seakan-akan resmi.

Penetapan Jawa dan Madura sebagai bidang perhatian BU merupakan kelemahan nyata menjadikan BU sebagai organisasi yang berparadigma  nasional.

 

2.   Sarekat Islam (1912)

SI (Sarekat Islam) bermula dari (SDI) Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh seorang pedagang batik,  KH Samanhudi  tahun 1911 di Solo. Latar belakang didirikannya SDI lebih bersifat ekonomis. Sebelumnya, pada tahun 1909 Tirtoadisuryo telah mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah di Batavia. Organisasi semacam itu juga didirikan di Bogor pada tahun 1911. Kedua organisasi tersebut dimaksudkan untuk membantu para pedagang pribumi yang sedang menghadapi saingan dari para pedagang Cina.

Setelah memiliki 50 cabang Sl di berbagai daerah, maka pada-tahun 1915 di Surabaya dibentuk CSI (Central Sarekat Islam). Maksud CSI adalah untuk memajukan dan membantu Sl daerah, memelihara hubungan dan membicarakan pekerjaan bersama. Kemudian tanggal 17 – 24 Januari 1916 diadakan kongres bertempat di Bandung. Kongres di Bandung ini sering disebut sebagai Kongres Nasional SI Pertama, mengingat yang hadir menyeluruh dari daerah-daerah di Indonesia. Waktu itu dihadiri 80 cabang SI. Jumlah anggota Sl waktu itu mencapai sekitar 800.000 anggota, sedangkan (tahun 1919 anggotanya mencapai sekitar 2 juta orang), tersebar tidak hanya di Jawa dan Madura. Perkembangan SI menunjukkan dukungan besar rakyat berbagai daerah di Indonesia.

  1. Perhimpunan Indonesia dan Menifesto Politik Pergerakan Nasional

Pada tahun 1908 sekelompok mahasiswa di Belanda membentuk perkumpulan yang disebut dengan Indische Vereeniging (IV). Pendiri Indische Vereeniging antara lain Sutan Kasayangan dan RM. Noto Suroto. Tujuan organisasi tersebut adalah untuk memajukan  orang-orang yang berasal dari Hindia Belanda.

Tahun 1913 terjadi perkembangan baru di dalam organisasi Indische Vereeniging. Hal ini terutama dengan datangnya para aktivis IP, seperti Suwardi Suryaningrat dan Cipto Mangunkusumo. Kedua tokoh ini memasuki organisasi Indische Vereeniging dan banyak memberikan pengaruh terhadap pola perjuangannya. Sekalipun tujuan yang bersifat sosial masih tetap dipertahankan, namun Indische Vereeniging mulai menekankan pada aspek politik.

Pada tahun 1922 mulai tampil tokoh-tokoh baru di dalam Indische Vereeniging. Waktu itu yang menjadi ketua adalah Herman Kartowisastro (1921 – 1922). Tokoh-tokoh lain adalah Iwa Kusumasumantri, Ahmad Subarjo, Ali Sastroamijoyo, Sunario, dan Moh. Hatta. Mereka sepakat untuk mengubah nama Indische Vereeniging menjadi Indonesische Vereeniging, kemudian pada tahun 1925 diubah lagi menjadi PI (Perhimpunan Indonesia). Majalah Hindia Putra diubah menjadi Indonesia Merdeka. Nama Indonesia mulai diperkenalkan dan dimasyarakatkan sebagai pilihan untuk menggantikan nama India atau Hindia. Nama Indonesia sekaligus akan memperkuat kesadaran nasional dan kebangsaan Indonesia. Begitu juga tujuan PI dirumuskan secara tegas, yakni Indonesia merdeka.

Pada tahun 1923 PI mengeluarkan suatu pernyataan politik atau disebut manifesto politik. Konsep manifesto politik telah disepakati pada akhir tahun 1922. Pernyataan itu antara lain menyangkut hal-hal sebagai berikut.

Masa depan rakyat Indonesia semata-mata terletak di dalam bentuk suatu pemerintahan yang bertanggung jawab kepada rakyat yang sebenar-benarnya. Hanya bentuk pemerintahan yang demikian itu yang dapat diterima rakyat.

Setiap orang Indonesia harus berjuang untuk tujuan itu sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya, dengan kekuatan dan usaha sendiri tanpa bantuan dari luar. Setiap pemecahbelahan kekuatan bangsa Indonesia harus ditentang, sebab hanya dengan persatuan dan kesatuan yang dapat menuju ke arah tercapainya tujuan bersama.

Deskripsi singkat ketiga organisasi di atas, memiliki beberapa nilai yang berhubungan dengan kebangkitan nasional Indonesia. BU, memiliki kelebihan sebagai organisasi pioner yang bersifat modern dan mendapat pengakuan hukum dari pemerintah Hindia Belanda.  Tetapi organisasi ini miskin massa dan terkungkung dalam tribal Jawa.

Sementara Serikat Islam secara organisatoris mendapat respon luar biasa dari rakyat di berbagai daerah. Bahkan SI merupakan organisasi massa terbesar yang berkembang pada awal abad XX.  Perhimpunan Indonesia memiliki label yang lebih nyata menunjukkan keindonesiaannya. Walaupun tidak memiliki akar kuat di basis massa, tetapi organisasi ini memiliki jaringan kuat luar biasa dari para kaum pergerakan. Mengapa akhirnya pemerintah memilih BU sebagai momentum hari kebangkitan nasional?

Alasan utama tentu hal ini akan lebih aman ketimbang menjadikan Serikat Islam yang memiliki label agama. Demikian halnya Perhimpunan Indonesia yang cenderung lahir di Belanda. Selain itu, BU dianggap sebagai organisasi modern pertama. Alasan lain menurut Syafii Maarif adalah etnisitas Jawa dan luar Jawa, priyayi dan non priyayi. 

……, saya harus menegaskan bahwa kelahiran Budi Utomo (BU) pada 20 Mei 1908 adalah sebuah terobosan kultural-intelektual yang sangat penting bagi sebuah suku yang kebetulan berjumlah mayoritas dibandingkan dengan suku-suku lain, yaitu suku Jawa, yang sekarang meliputi Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jasa tokoh-tokoh seperti Dr Wahidin Soedirohoesodo dan Dr Soetomo dengan gagasan pencerahannya bagi suku Jawa (saat itu disebut bangsa Jawa), tentu punya makna tersendiri.

Berdirinya BU 20 Mei 1908 secara historis  tidak memiliki dasar yang kuat sebagai hari kebangkitan nasional. Apabila kebangkitan nasional dimaknai sebagai kebangkitan masyarakat Indonesia dengan ikatan bangsa (wilayah Hindi Belanda), maka Budi Utomo jauh dari paradigma tersebut. Berdirinya Budi Utomo sangat Jawasentris dan pengurusnyapun sangat berbau priyayi. Pada masa tersebut, diakui atau tidak priyayi berperan besar sebagai birokrasi yang dimanfaatkan Pemerintah Hindia Belanda untuk melanggengkan imperialismenya.

Bahwa Budi Utomo  diperdebatkan para sejarawan sebagai tonggak kebangkitan nasional telah lama didiskusikan. Sebagai contoh ketika dalam Seminar Nasional tahun 1995 yang diselenggarakan Forum Komunikasi Mahasiswa Sejarah Nasional (FORKOMASSA),  Taufik Abdullah menyatakan bahwa penggunaan lahirnya Budi Utomo sebagai tonggak kebangkitan nasional Indonesia tidak ubahnya sebagai mitologi. Taufik lebih sepakat apabila kebangkitan nasional bangsa Indonesia ditandai ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Ikrar hasil Kongres II pemuda dari berbagai daerah dan kelompok tersebut secara formal mengikatkan diri dalam satu ikatan kebangsaan Indonesia.

Demikian  halnya Syafii Maarif  yang mengajukan momentum lain, misalnya berdirinya Perhimpunan Indonesia di Belanda tahun 1922 atau Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai tanda kebangkitan nasional. Ada pula yang berpendapat, Serikat Islamlah yang lebih nasionalis dibandingkan Budi Utomo. Organisasi yang berawal dari Serikat Dagang Islam ini tidak memandang etnisitas dalam organisasinya. Tetapi penggunaan simbol Islam di belakang tersebut tentu sulit diterima sebagai simbol nasional bangsa Indonesia. Walaupun diakui bahwa perjalanan SI sebagai organisasi nasional berkembang  begitu pesat.

Diskursus penetapan hari kebangkitan nasional seperti di atas memang biasa dalam sejarah nasional. Hal  tersebut mudah dimengerti mengingat eksistensi sejarah nasional merupakan salah satu sumber subjektivitas dalam sejarah, seper ditegaskan R Mohammad Ali.

“Dengan tidak sadar maka penulis cerita sejarah nasional mengenakan teropong mitos nasional, dan diciptakanlah sebuah sejarah nasional. Khalayak ramai menerima dan mempelajari sejarah nasional dengan teropong nasional pula…… Sejarah nasional memang merupakan cerita sejarah yang benar-benar subjektif dalam arti tertentu, yaitu subjektif di bawah sadar….. Cerita sejarah yang penuh gerak jiwa nasional itulah yang selalu menggelorakan semangat nasional kebangsaan”

 

C. Keliru tetapi diperlukan : Sejarah dan Nasionalisme Indonesia

Apabila penulisan sejarah nasional diperlukan sebagai upaya pengikat nasionalisme Indonesia, mitologi dalam sejarah nasional memang diperlukan. Walaupun tidak sejalan dengan kaidah ilmu sejarah, tetapi sangat diperlukan sebagai pemberi api semangat kebangsaan. Hampir semua  sejarah nasional negara-negara di dunia selalu berbenturan dengan sejarah secara akademis.

Sebagai contoh kita akan menemukan penggunaan kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan yang  berkembang besar di negara Indonesia  dan Malaysia. Demikian halnya penulisan sejarah nasional Jepang, tentu tidak akan menonjolkan kekejaman Jepang dalam perang Dunia II, juga Sejarah Nasional Belanda yang tidak menonjolkan penghisapan pendahulu mereka atas tanah Nusantara.

Seperti dalam kritik Taufik Abdullah, “penamaan ‘sejarah nasional’ atau Sejarah Indonesia  yang mencakup seluruh zaman dari seluruh daerah yang kini disebut Republik Indonesia harus diterima tak lebih daripada nama berdasarkan konsensus saja…” bahwa memang sejarah nasional dibangun secara general dengan tujuan membangun kesadaran nasional. Banyak hal  anakronis dengan beberapa generalisasi dalam sejarah nasional. Sebagai contoh periodesasi yang ada dalam sejarah nasional. Zaman Praaksara (jaman prasejarah) Indonesia abad V M, secara akademis tidak diterima oleh berbagai wilayah Indonesia. Bagaimana dengan Papua yang mengenal tulisan setelah masuk pengaruh bangsa Barat? Bagaimana Papua menerima setelah masa Hindu Buddha mereka masuk zaman pengaruh Islam?

Walaupun sejarah nasional membutuhkan mitos, tentu tidak begitu saja menggunakan keputusan politik untuk melegalisasi fakta historis. Berdasarkan pandangan  di atas, maka kalaulah kemauan politik untuk membuka kembali keputusan politik pemerintah Indonesia tahun 1948. Sangat bijak jika  penetapan kelahiran BU, 20 Mei 1908 oleh pemerintah , sebagai tonggak kebangkitan nasional dikoreksi kembali. Bukan berarti mengubur peran dan jasa BU dalam perjuangan pergerakan nasional bangsa Indonesia,  juga gerakan pemuda kedaerahan, seperti Jong Java, Jong Minahasa, Jong Ambon, Jong Batak, Jong Sumateranen Bond, dan Jong Islamieten Bond.

Penggunaan tanggal 28 Oktober tahun 1928 sebagai hari kebangkitan nasional akan lebih mudah  diterima baik secara akademis maupun normatif sebagai hari kebangkitan nasional. Alasannya, seperti dipaparkan Syafii Maarif, “Dengan Sumpah Pemuda, semua gerakan kedaerahan ini, sekalipun dengan susah payah, akhirnya meleburkan diri dan bersepakat untuk mendeklarasikan trilogi pernyataan yang tegas-tegas menyebut tumpah darah/tanah, bangsa, dan bahasa Indonesia. Sumpah ini didukung oleh berbagai anak suku bangsa dan golongan. Jadi, cukup repsesentatif bagi awal kelahiran dan kebangkitan sebuah bangsa: Indonesia!“

Dengan mengoreksi kembali penentuan Hari Kebangkitan Nasional,  akan menyelamatkan anak cucu dari mitologi sejarah Indonesia.  Tetapi kalupun pemerintah tidak mau susah-susah menarik keputusan yang dibuat setengah abad silam, juga tidak menjadi masalah.  Bukankah sejarah nasional memang membutuhkan mitos? Mitos itu pula yang membangun kebersamaan kebangsaan. Sejarawan mana yang menyatakan Sriwijaya dan Majapahit adalah kerajaan nasional Indonesia pertama? Bukankah baru abad XX nama Indonesia banyak dikenalkan oleh berbagai kalangan? Kebenaran sejarah mana yang menyatakan Indonesia dijajah 350 tahun? Sama-sama semuanya tidak lebih sekedar mitos. Tetapi mitos itu kadang diperlukan, untuk membangun kebersamaan. 

Bagian paling sulit melakukan tentu para guru sejarah. Mereka terikat akan misi-misi pengajaran sejarah nasional di sekolah, sehingga sering mengingkari hati nuraninya. Hal  demikian sangat disadari S Hamid Hasan, seperti yang ia kemukakan, “…. fungsi edukatif pendidikan sejarah adalah saringan pertama yang digunakan dalam cara melihat suatu peristiwa sejarah. Terkadang fungsi ini menjadi dominan sehingga mengalahkan pandangan akademik….”

 

D. Masa Depan Nasionalisme Indonesia

1. Nasionalisme

Sangat nyata bahwa kepentingan sejarah nasional Indonesia adalah kepentingan bersama bangsa Indonesia. Tujuan pelajaran sejarah nasional seperti disebut Mohammad Ali adalah untuk membangkitkan, mengembangkan serta memelihara semangat kebangsaan; membangkitkan hasrat mewujudkan cita-cita kebangsaan dalam segala lapangan; membangkitkan hasrat mempelajari sejarah kebangsaan sebagai bagian sejarah dunia;dan  menyadarkan anak tentang cita-cita nasional

Menyimak tujuan pendidikan sejarah yang ditegaskan Mohammad Ali di atas, sangat nyata bahwa sejarah berkaitan erat dengan nasionalisme. Nasionalisme adalah suatu ideologi yang meletakkan bangsa di pusat masalahnya dan berupaya mempertinggi keberadaannya.

“Nasionalisme merupakan gerakan ideologis untuk mencapai dan mempertahankan otonomi, kesatuan, dan identitas bagi suatu populasi manusia, yang sejumlah anggotanya bertekad membentuk bangsa yang aktual atau bangsa yang potensial” demikian Smith menegaskan definisi kerja nasionalisme.

Otonomi, kesatuan, dan identitas adalah tiga ideal dalam nasionalisme. Doktrin inti otonomi nasionalisme yakni mengatur diri sendiri (self-regulation), penentuan diri sendiri (self-determination), dan (kebebasan politik dan pengaturan diri (self-rule). Sedangkan kesatuan merupakan tuntutan untuk merasakan suatu ikatan solidaritas yang mendalam, dan identitas nasional menunjukkan kesamaan di dalam suatu objek pada suatu waktu, ketetapan  pola kas di dalam periode tertentu

Dari ketiga ideal nasionalisme di atas, maka keberadaan nasionalisme sebagai pengikat keutuhan negara Indonesia masih sangat diperlukan. Walaupun demikian kita juga harus hati-hati atas sikap ultranasionalisme yang  sangat membahayakan. Perang dunia I dan II yang sangat mengerikan, sebagai buah nasionalisme itu sendiri. Nasionalisme juga telah mencabik-cabik bangsa-bangsa di dunia menjadi kesatuan-kesatuan kecil yang saling merasa terancam dan mengancam. Sama halnya dengan demokrasi, nasionalisme memiliki kelemahan yang luar biasa banyaknya. Tetapi hingga saat ini baik nasionalisme maupun demokrasi masih dijadikan perekat dasar kesatuan negara-negara di dunia.

2. Masalah-masalah Nasionalisme Indonesa

Lahirnya negara Indonesia melalui proses gerakan kebangsaan dan revolusi heroik. Kesatuan dengan cita-cita untuk mencapai jembatan emas kemerdekaan menyatukan bangsa kita mengusir penjajah. Tetapi bagaimana setelah kemerdekaan diraih? Kini bangsa Indonesia menghadapi berbagai masalah pelik berkaitan dengan penegasan ideal nasionalisme. Beberapa permasalahan tersebut akan menjadi ancaman nyata bila tidak disikapi secara bijak dan arif oleh para pemimpin dan seluruh komponen.

Beberapa permasalahan yang mesti dielesaikan bangsa Indonesia adalah sebagai berikut :

a.Ancaman identitas bangsa, Dalam doktrin pengajaran nasionalisme, keberadaan bangsa Indonesia seakan suatu takdir atau nasib yang menyebabkan. Hal ini sebagai pendorong kuat bersatunya bangsa Indonesia dari berbagai unsur. Semua merasakan sebagai satu rumah, yakni Indonesia. Tetapi bagaimana perkembangannya? Kasus-kasus konflik horizontal antar kelompokmasyarakat seperti yang terjadi di Poso dan Kalimantan sebagai bukti nyata ancaman identitas Indonesia. Artinya sebagian masyarakat telah mulai merasa tidak Indonesia lagi, atau menganggap kelompok lain bukan Indonesia lagi. Tindakan anarkhisme terhadap  penganut Ahmadiyah di beberapa daerah di Indonesia sebagai contoh tindakan tidak lagi percaya perangkat negara mampu menyelesaikan masalah tersebut.

 

Konflik horizontal yang terjadi di berbagai daerah tersebut tentu bukan kesalahan kelompok masyarakat semata. Sikap para pemimpin yang menunjukkan  sikap nyata tidak nasionalis menjadi tontonan sekaligus tuntunan masyarakat. Bagaimana mungkin rakyat mau percaya pada pemimpin apabila di tengah kelaparan dan kemiskinan, kesulitan mencari rejeki, para pemimpin dan wakilnya merampok dan bersikap arogan? Bagaimana mungkin rakyat merasa dalam satu ikatan bangsa apabila mereka diperlakukan tidak adil?

 

b.Transformasi bangsa Indonesia, Indonesia telah merdeka hampir 65 tahun, tetapi perjalanan roda kepemimpinan masih menunjukkan ketidakpastian rakyat Indonesia. Konflik elit yang terus berlanjut, kesalahan memahami otonomi daerah, ketidakpastian dalam membentuk desentralisasi pemerintahan menyebabkan keadaan yang berhubungan dengan keindonesiaan semakin tidak menentu.

 

Kondisi bangsa Indonesia  masih menghadapi banyak ancaman. Kekayaan bangsa Indonesia selalu menjadi daya tarik bangsa-bangsa lain. Kekacauan manajemen bangsa menjadi ancaman nyata. Sikap para pemimpin yang mengkhianati kepercayaan rakyat, merupakan sinyal nyata hancurnya negara yang dengan darah dibangun generasi terdahulu.

 

c.Penyakit bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia memiliki beberapa penyakit yang harus segera disembuhkan. Koentjayaningrat, menunjukkan kelemahan mentalitas bangsa Indonesia seperti meremehkan mutu, suka menerabas, tidak percaya diri, tidak berdisiplin, dan lari dari tanggungjawab. Beberapa penyakit tersebut telah menggurita, yang bila diidentifikasi lebih lanjut yakni mental-mental tamak, feodal, tahayul, tidak amanah, bermental terjajah, korup, tidak disiplin, suka menyepelekan,  suka menerabas, riya , meremehkan mutu, tidak percaya diri, lari dari tanggungjawab, adalah penyakit-penyakit mental bangsa yang menggerogoti terus.

 

d.Ancaman Globalisasi. Abad globalisasi dan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi telah membuat kabur batas-batas geografis suatu negara. Kemajuan layar komputer berpadu dengan internet telah mengubah dunia bulat menjadi layar datar. Apa yang terjadi di Wonosari dapat langsung diketahui dan diakses oleh manusia di pedalaman Afrika Selatan, demikian seterusnya. Fenomena ini sebagai salah ancaman  terhadap eksistensi nasionalisme Indonesia.

 

Pengaruh Globalisasi secara drastis dapat mengakibatkan erosi pada tradisi. Lagi pula nasionalisme yang sedang tumbuh terancam oleh dampak globalisasi antara lain melemahnya semangat, loyalitas dan solidaritas nasional. Bagaimana membangun kekuatan untuk mengeliminir pengaruh negatif globalisasi? Salah satunya melalui pendidikan Sejarah. Tanpa kesadaran sejarah tidak ada identitas, orang tak punya kepribadian atau kepribadian nasional. Kesadaran nasional menciptakan inspirasi aspirasi nasional, keduanya penting untuk mengembangkan semangat  Menurut Anhar Gonggong, nasionalisme berfungsi untuk menyeleksi dan menyaring pengaruh globalisasi  yang mengancam eksistensi bangsa serta lembaga-lembaganya. Pada abad XXI bangsa Indonesia memasuki fase neoliberalisme. Bentuk penjajahan tidak lagi menguasai secara politik bangsa Indonesia, tetapi menguasai sektor ekonomi, sosial budaya, melalui agen pendidikan dan perusahaan kapitalis. Secara nyata Indonesia memang tidak diperintah Amerika, tetapi kondisi politik bangsa Indonesia sangat ditentukan IMF dan Washington. Sebagai bukti kecil,  penguasaan sarana telekomunikasi , perwujudan free trade sebagai manifestasi WTO, dan ancaman liberalisasi pendidikan sebagai bukti nyata perubahan wujud imperialisme baru.

e.Peran Pendidikan Sejarah, Pendidikan Sejarah sebagai sarana mendidik sikap-sikap nasionalisme bangsa mengalami pergeseran yang memprihatinkan. Kurikulum yang ditetapkan pemerintah masih sarat dengan identitas sejarah sebagai materi hapalan dan sarat dengan bahan ajar. Akibatnya guru kesulitan mengembangkan pembelajaran yang dinamis. Akhirnya pembelajaran menjadi kurang bermakna, karena kegiatan pembelajaran condong mengejar materi  daripada mendorong makna memahami dan menghayati makna pelajaran yang sedang di pelajari. Pengembangan pembelajaran sejarah cenderung kognitif, model pembelajaran ekspositoris menyebabkan siswa bosan mempelajari sejarah. Di samping itu penganaktirian mata pelajaran sejarah di sekolah, keengganan guru mengembangkan ketrampilan mengajar dan akademik menyebabkan pembelajaran sejarah sering dianggap kering dan membosankan. Segera perlu dilakukan revitalisasi kurikulum pendidikan sejarah di Indonesia, termasuk pengajaran IPS pada tingkat pendidikan dasar. Hendaknya sejarawan akademik, pemerintah, dan praktisi duduk bersama secara arif membuat kerangka jelas tentang pendidikan sejarah yang memprihatinkan di Indonesia.

E.Kesimpulan

Penentuan hari kebangkitan nasional tanggal 20 Mei dengan momen berdirinya Budi Utomo 20 Mei 1908 sebagai sesuatu yang ahistoris. Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai fakta keras yang lebih tepat digunakan sebagai momen penetuan Hari Kebangkitan nasional Indonesia. Pemerintah perlu berani melakukan revisi atas keputusan yang telah dibuat pada tahun 1948.  Bahwa sejarah perlu mitos untuk menanamkan nasionalisme memang sangat penting, tetapi bukan berarti mengingkari kebenaran akademik.

Budi Utomo tetap berperan besar dalam menggelorakan gerakan nasionalisme di Indonesia, juga berbagai organisasi yang tumbuh bak jamur di musim penghujan awal abad XX. Gerakan nasionalisme Indonesia kemudian berhasil meruntuhkan kekuasaan penjajah Hindia Belanda hingga Indonesia merdeka 17 Agustus 1945. Selepas merdeka, ternyata bangsa Indonesia masih berhadapan dengan masalah-masalah pelik tentang nasionalisme. Gerakan desintegrasi, berbagai penyakit masyarakat, dan globalisasi merupakan ancaman nyata  nasionalisme Indonesia. Fenomena tersebut harus disikapi secara nyata melalui tindakan konkrit, termasuk penanaman nasionalisme melalui pendidikan sejarah yang bermakna.

Supardi, Disampaikan sebagai bahan diskusi Seminar Akademik Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah, Senin 12 Mei 2008, di Yogyakarta. Dipublikasikan pada http://pardi74.multiply.com/journal/item/4

Tentang pendiri Budi Utomo hingga saat ini masih menjadi perdebatan, terutama keluarga dr Wahidin Sudirohusodo yang mengklaim bahwa Wahidinlah sebagai pemegang peran terpenting atas lahirnya organisasi tersebut.