Konsumsi daging di China meningkat dari 20% menjadi 50% sejak tahun 1985. Sebaliknya tingkat konsumsi daging di Indonesia rendah bahkan dibandingkan dengan Malaysia, Filipina, dan Thailand. Demikian pula dengan produksi pangan hewani yang lain seperti susu, telur, dan ikan pun masih belum menggembirakan. Berdasarkan data statistik peternakan, hampir 90 persen usaha peternakan sapi di Indonesia adalah peternakan rakyat. Namun usaha-usaha pembibitan (breeding) ataupun pembesaran sapi potong komersial (feedlooter) mengalami penurunan sejak terjadinya krisis moneter. Seiring dengan peningkatan komsumsi daging, gairah peternak maupun pengusaha mulai  bangkit kembali.

Menurut Viktor Siagian, peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumsel, Palembang, konsumsi daging per kapita pada 2004 sebesar 6,2 kg dengan total konsumsi 1,97 juta ton, sementara produksi daging 2,0 juta ton yang meningkat rata- rata 7,9 persen per tahun dibandingkan 2003.

Pada 2005, produksi daging sapi 463.800 ton dengan populasi ternak sapi potong 10,4 juta ekor (Statistik Peternakan, 2006). Indonesia masih mengimpor daging sapi sekitar 3.500 ton per tahun, sedangkan jumlah sapi bakalan 350.000 ekor per tahun. Untuk itu Departemen Pertanian menerapkan strategi untuk mencapai swasembada daging (sapi)  pada 2010 antara lain dengan melakukan penjaringan betina produktif 150.000-200.000 ekor per tahun. dan  mengintensifkan program Inseminasi Buatan (IB).

 

Rendahnya produksi daging ini menunjukkan peluang investasi di sektor peternakan cukup besar. Jika dilakukan secara intensif dan terintegrasi tentunya akan meningkatkan pendapatan masyarakat karena sebagian besar peternak di Indonesia adalah peternakan rakyat. Pemerintah Kabupaten Belitung. memusatkan kawasan peternakan sapi sebagai bagian pembangunan kawasan agropolitan Membalong di Desa Prepat. Desa dengan penduduk  1.582 jiwa pada awal tahun 2008 atau % dari total 22.180 jiwa penduduk Kecamatan Membalong ini memiliki luas wilayah   97.000 km2

 

Sejak tahun 2004 Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah melaksanakan pembangunan Holding Ground (peternakan sapi terpadu) sebagai prasarana dan sarana agropolitan menelan biaya sebesar Rp.76.883.000. Biaya pembangunan ini meningkat menjadi Rp.81.279.000 pada tahun 2005 dan Rp.98.300.000 pada tahun 2006. Pembangunan prasana dan sarana pendukung kawasan agropolitan ini kemudian terfokus pada pembangunan Pusat Pengembangan Ternak Sapi Terpadu di Desa Prepat pada tahun 2007 antara lain dengan membangun kandang sapi 8 unit dilengkapi pagar keliling 500 m’, tower air dan pembuatan jalan akses menuju kawasan ini.

 

Masyarakat desa Prepat khususnya warga transmigrasi Rejosari yang dekat dengan lokasi patut bersyukur, pembangunan kawasan ini bukan saja menciptakan usaha alternatif tetapi juga mendukung pertanian yang selama ini mereka usahakan. Kade Prepat Hasbi A Rachman mengungkapkan sejak BPTP Kepulauan Bangka Belitung membantu  desanya. Dulu  panen padi paling tinggi 4 ton per hektar per musim tanam.  Tetapi sejak Agustus 2007, produksi padi Prepat meningkat menjadi 6,3 ton per hektar per musim tanam dan mencapai 7,8 ton per hektar per musim tanam pada tahun 2008 setelah menerapkan teknologi PPT Padi Terpadu dibawah bimbingan Tim Primatani Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kepulauan Bangka Belitung. Atas keberhasilan panen padi, masyarakat lokal merayakan keberhasilan dengan menggelar ritual maras taun yang dimeriahkan aneka hiburan rakyat selama tujuh hari tujuh malam (17 hingga 23 mei 2008) yang lalu.

 

 

Kampong Ternak

Pada tahun 2000, tercatat 12.045 rumah tangga menjadi petani lada. Tanaman lada (Piper nigrum) merupakan tanaman primadona yang dikerjakan turun-menurun sehingga menjadi budaya masyarakat Belitung. Pola pertanian masyarakat kemudian berubah terutama sejak kedatangan transmigrasi di Desa Prepat tahun 80-an. Pertanian padi dikembangkan dengan membangun irigasi di kaki Gunung Kubing untuk mengaliri sawah. Selama ini masyarakat lokal mengusahakan tanaman pangan ini dengan sistem ladang. Kehadiran transmigran ini pun membuat masyarakat bergairah menanam tanaman holtikultura dan menjadi pemasok sayuran di pasar Tanjungpandan.

 

Dengan ditetapkannya Membalong sebagai kawasan agroprolitan dan ketersediaan sumberdaya manusia di bidang pertanian, Desa Prepat ini dikembangkan pula sebagai kawasan peternakan terpadu. Di Indonesia sendiri Kawasan terpadu peternakan lebih banyak dikelola oleh peternak rakyat yang kemudian diperkuat dengan membentuk asosiasi peternak seperti HPDKI (Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia).

Dibandingkan Kawasan Agropolitan, nama kampong ternak memang belum dikenal luas dikalangan masyarakat. Di beberapa daerah seperti di Kabupaten Belitung Timur, kawasan Agropolitan dikenal dengan istilah Kawasan Terpadu Mandiri. Bupati Belitung Ir.Darmansyah Husein  berharap dengan adanya kawasan dapat memicu produktivitas petani.  Delapan kandang yang ada diharapkan menjadi sentra pemasok daging utam di Kabupaten Belitung. Setiap kandang rata-rata  dikelola oleh 3-4 peternak. Sebelum dikirim ke Prepat, sapi-sapi yang didatangkan dari Australia ini diinseminasi dan dikembangkan di Peternakan Lembang, Jawa Barat sebelum dikirim ke kampong ternak Prepat.

Jika diasumsikan kotoran yang dihasilkan 10 kg per sapi per hari maka dengan 570 ekor sapi bisa menghasilkan 5.700 kg kotoran sapi. Ini peluang besar untuk pengembangan biogass dan produksi kompos. Artinya masalah kenaikan harga dan gangguan distribusi BBM ke Kabupaten Belitung, sedikit banyak dapat terselesaikan melalui penciptaan energi alternatif dan peningkatan nilai tambah dan pendapatan peternak. Harus disadari, tidak semua lahan di Pulau  Belitung mampu mendukung produksi pertanian. Dengan kualitas lahan yang terbatas perlu memerlukan seperti yang dilakukan oleh binaan Prima Tani.

 

Menurut Ir.Rinaldi,Msi,Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Babel, kompos-kompos ini dihasilkan atas swadaya masyarakat Kampong Prepat. Tugas Pokok BPTP adalah melaksanakan pengkajian dan perakitan teknologi pertanian tepat guna dan spesifik lokasi. Kompos yang dipamerkan dalam peresmian kampong ternak prepat 18 mei yang lalu,  beratnya bervariasi antara 3 kg hingga 7 kg. Kemasan 3 kg dijual dengan harga Rp.10.00 sedangkan kemasan 7 kg dijual di lokasi seharga Rp. 20.000. Dengan kebutuhan pupuk kandang yang cukup tinggi saat ini, para petani tak jarang mendatangkan kompos dari luar Belitung. Hal ini diungkapkan Bupati Belitung ketika bersama Wakil Gubernur Syamsudin Basar meresmikan Kampong Ternak Prepat.

 

Untuk membantu petani dalam menerapkan teknologi pertanian dan meningkatkan pendatan, BPTP menempatkan beberapa staffnya dan mendirikan di Posko Agribisnis Membalong. Teknologi yang tepat guna dibutuhkan petani seperti dalam memproduksi kompos. Dengan pengolahan biasa, kompos dihasilkan dalam waktu 3 hingga 4 bulan tetapi dengan teknologi menggunakan campuran EM4, waktu pembuatan jauh lebih singkat menjadi 3 hingga 4 minggu. Dalam jangka panjang seiring dengan meningkatnya investasi dari masyarakat yang ingin  menanamkan modal pengembangan sapi, bukan mustahil  Kampong Ternak dapat menghasilkan energi listrik skala rumah tangga melalui teknologi biogass dan menjadi rujukan daerah lain dalam mengembangkan sebuah kawasan pertanian yang produktif . “Untuk menjadikan kawasan rujuan  perlu didukung dengan SDM yang memadai, infrastruktur dan jaringan  pemasaran, kata  Rinaldi optimis (fithrorozi)