Paryanta

 

 

Saat ini profesionalisme guru merupakan sebuah kebutuhan yang tidak dapat ditunda-tunda lagi, seiring dengan semakin meningkatnya persaingan yang semakin ketat dalam era globalisasi yang tidak mungkin dapat dibendung. Dan itu berarti diperlukan orang-orang yang memang benar-benar ahli di bidangnya, sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya agar setiap orang dapat berperan secara maksimal, termasuk guru sebagai sebuah profesi yang menuntut kecakapan dan keahlian tersendiri. Profesionalisme tidak hanya karena tuntutan perkembangan jaman, tetapi merupakan keharusan bagi setiap individu untuk memperbaiki kualitas hidup. Profesionalisme menuntut keseriusan dan kompetensi yang memadai, sehingga seseorang dianggap layak untuk melaksanakan sebuah tugas. Ada beberapa langkah strategis yang harus dilakukan dalam upaya meningkatkan profesionalisme guru, yaitu :

 

1. Sertifikasi Guru sebagai langkah awal

 

Salah satu upaya untuk meningkatkan profesionalisme guru adalah melalui sertifikasi sebagai sebuah proses ilmiah yang memerlukan pertanggung jawaban moral dan akademis. Dalam issu sertifikasi tercermin adanya suatu uji kelayakan dan kepatutan yang harus dijalani seseorang, terhadap kriteria-kriteria yang secara ideal telah ditetapkan.

Sertifikasi bagi para Guru merupakan amanah dari Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (pasal 42) yang mewajibkan setiap tenaga pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar yang dimilikinya. Atau dalam kata lain, sertifikasi dibutuhkan untuk mempertegas standar kompetensi yang harus dimiliki para guru sesuai dengan bidang ke ilmuannya masing-masing. Meskipun demikian model penilaian portofolio untuk sertifikasi yang sampai saat ini dilakukan nampaknya masih perlu dikaji ulang, karena dianggap kurang mengena (masih bias).

 

2. Perlunya perubahan paradigma

 

Faktor lain yang harus dilakukan dalam mencapai profesionalisme guru adalah, perlunya perubahan paradigma dalam proses belajar mengajar. Anak didik tidak lagi ditempatkan sekedar sebagai obyek pembelajaran tetapi harus berperan dan diperankan sebagai subyek. Sang guru tidak lagi sebagai instruktur yang harus memposisikan dirinya lebih tinggi dari anak didik, tetapi lebih berperan sebagai fasilitator atau konsultator yang bersifat saling melengkapi. Dalam konteks ini, guru di tuntut untuk mampu melaksanakan proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM) secara dinamis dalam suasana yang demokratis. Dengan demikian proses belajar mengajar akan dilihat sebagai proses pembebasan dan pemberdayaan, sehingga tidak terpaku pada aspek-aspek yang bersifat formal, ideal maupun verbal. Penyelesaian masalah yang aktual berdasarkan prinsip-prinsip ilmiah harus menjadi orientasi dalam proses belajar mengajar. Oleh sebab itu, out put dari pendidikan tidak hanya sekedar mencapai IQ (intelegensia Quotes), tetapi mencakup pula EQ (Emotional Quotes) dan SQ (Spiritual Quotes).

 

3. Perlunya Perlindungan (pengayoman)

Saat ini hal yang paling diharapkan oleh para guru adalah perlindungan/pengayoman ”hukum” ketika guru menjalankan tugas. Banyak kasus yang terjadi di sekolah dalam bentuk pembinaan/ tindakan tegas (keras) kepada siswa, sering ditafsirkan sebagai bentuk kekerasan bahkan dikatagorikan sebagai tindak kriminal. Dengan dalih hak asazi perlindungan anak seorang guru langsung diadukan ke pihak yang berwajib (kepolisian) tanpa mempertimbangkan latar belakang edukasi. Untuk itu perlu ada komitmen antara organisasi guru (misalnya PGRI) dengan pihak yang berwajib (Kepolisian) dengan difasilitasi oleh pemerintah, persoalan seperti apa dikatakan tindak ”kekerasan murni” dan persoalan seperti apa dikatakan sebagai tindakan ”mendidik tegas”. Dengan adanya komitmen seperti itu diharapkan agar guru benar-benar merasa meperoleh pelindungan (pengayoman), sehingga para guru akan lebih tenang dalam menjalankan tugasnya.

  

4. Jenjang karir yang jelas

 

Salah satu faktor yang dapat merangsang profesionalisme guru adalah, jenjang karir yang jelas. Dengan adanya jenjang karir yang jelas akan melahirkan kompetisi yang sehat, terukur dan terbuka, sehingga memacu setiap individu untuk berkarya dan berbuat lebih baik. Untuk itu perlu difikirkan bagi guru yang berprestasi tentunya pemerintah dapat memberikan reward (penghargaan), bukan hanya sekedar hadiah materi tetapi diberikan promosi jenjang karir yang lebih jelas (meningkat).

 

5. Peningkatan kesejahteraan yang nyata

 

Kesejahteraan merupakan issu yang utama dalam konteks peran dan fungsi guru sebagai tenaga pendidik dan pengajar. Paradigma professional tidak akan tercapai apabila individu yang bersangkutan, tidak pernah dapat memfokuskan diri pada satu hal yang menjadi tanggungjawab dan tugas pokok dari yang bersangkutan. Oleh sebab itu, untuk mencapai profesionalisme, jaminan kesejahteraan bagi para guru merupakan suatu hal yang tidak dapat diabaikan dan dipisahkan.

 

 

Dari uraian singkat di atas dapat ditarik kesimpulan sederhana, bahwa profesionalisme adalah sebuah kata yang tidak dapat dihindari dalam era globalisasi yang semakin menguat dewasa ini, dimana persaingan yang semakin kuat dan proses transparansi disegala bidang merupakan salah satu ciri utamanya. Guru sebagai sebuah profesi yang sangat strategis dalam pembentukan dan pemberdayaan anak-anak penerus bangsa, memliki peran dan fungsi yang akan semakin signifikan dimasa yang akan datang. Oleh sebab itu pemberdayaan dan peningkatan kualitas guru sebagai tenaga pendidik, merupakan sebuah keharusan yang memerlukan penanganan lebih serius. Profesinalisme guru adalah sebuah paradigma yang tidak dapat di tawar-tawar lagi.

 

Dalam  konteks pemberdayaan guru menuju sebuah profesi yang berkualitas dimana secara empiris dapat dipertanggung jawabkan, memerlukan keterlibatan banyak pihak termasuk pemangku kepentingan (stakeholders) atau pemerintah sebagai penyelenggara begara. Diperlukan sebuah kondisi yang dapat memicu dan memacu para guru agar dapat bersikap, berbuat serta memiliki kapasitas dan kapabilitas yang sensual dengan bidang keilmuannya masing-masing. Atau dalam kata lain pencapaian peningkatan profesionalisme guru tidak terlepas dari dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

 

Faktor internal lebih mengarah pada guru itu sendiri, baik secara individual maupun secara institusi  sebagai sebuah tuntutan profesi yang menuntut adanya kesadaran, dan tanggung jawab yang lebih kuat dalam menjalankan peran dan fungsinya sebagai tenaga pendidik.  Diperlukan sebuah komitmen yang dapat dipertanggung jawabkan, baik secara ilmiah maupun moral, agar guru dapat  benar-benar berpikir dan bertindak secara professional sebagaimana profesi-profesi lain yang menuntut adanya suatu keahlian yang lebih spesifik.

 

Faktor ekternal dalam konteks ini, lebih terkait pada bagaimana kebijakan pemerintah dalam mendorong dan menciptakan kebijakan maupun situasi kondusif yang dapat merangsang dan melahirkan guru-guru yang profesional. Hal yang paling mendasar berkaitan dengan masalah ini adalah issu perlindungan dan kesejahteraan bagi para guru, agar mereka dapat benar-benar fokus pada peran dan fungsinya sebagai tenaga pendidik.

 

Penulis Bekerja di Dinas Pendidikan Kabupaten Belitung