27 tahun dalam penjara di pulau pengasingan merubah perilaku emosional, keras kepala dan mudah tersinggung. Penjara telah membuat pria kulit hitam ini bijaksana” Saya keluar sebagai orang dewasa “ kata Nelson Mandela. Meski berpuluh tahun berjuang melawan kebijakan anti kulit hitam (apartheid) Mandela hanya menjabat satu periode presiden. Mandela bertekad membuat contoh yang kana diiukti pemimpina lain di dunia. Tugasnya adalah menetapkan arah” kata Rampasa,” buka mengemudin kapalnya “ seperti yang diceritakan Diah Marsidi dalam Sosok Mandela, Berjuang Hingga Usia 90 tahun (Kompas,18/7). Mandela dikenal sebagai pemimpin yang tidak larut dalam dendam “penjara” Afrika Selatan, dia justru dikenal sebagai pembahwa masyarakat multirasial, demokrasi yang menciptakan kedamaian.

Pada suatu siang yang terik, seorang pria dengan sorot mata tajam namun teduh nampak tengah bertransaksi di keramaian pasar. Sesat kemudian ia beranjak keluar dengan membawa potongan daging dalam sebuah bungkusan. Tanpa kecanggungan sedikutpun pria kharismatik itu melangkah dengan pasti sambil menjinjing bungkusan daging yang baru dibelinya.

Belum begitu jauh ia keluar dari toko penjual daging, seorang paruh baya bergegas menghampiri seraya memberi salam “ Bolehkan saya membawakan barang belanjaan Amirul Mukminim?”. Pria kharismatik itupun menjawab “ Seorang kepala rumah tangga lebih berhak membawa”. Dialah Amirul Mukminim, Ali Bin Abi Thalib . Luar biasa, aneh jika ini terjadi di zaman yang dianggap modern seperti sekarang ini. Seorang Kepala Negara belanja ke pasar sendiri tanpa pengawal dan ajudan. Bahkan ketika seorang rakyatnya menawarkan diri untuk membantu, masih dijuga ditolak. Pemimpin seperti itu mungkinkah bisa kita temukan lagi pada saat ini ?

Sepenggal kisah diatas memotret sikap tawadhu seorang pemimpin lewat sikap tawadhu. Sebuah sikap yang saat ini seperti hilang ditelan bumi , di tengah kehidupan para pemimpin kita. Memunculkan kembali sikap tawadhu sebagai salah satu sikap kepemimpinan yang telah hilang dari memori bangsa dan kepemimipinan dunia pada , nampaknya menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak,

Paling tidak ada dua hal penting yang bisa kita jadikan pelajaran dari penggalan cerita diatas. Pertama, mengandung pelajaran tentang perlunya sikap tawadhu bagi seorang pemimpin. Tawadhu secara sederahana dapat diartikan sebagai sikap rendah hari,. lawan dari sikap takabur atau sombong. Hilangnya sikap tawadhu dan munculnya sikap arogan pada diri pemimpin menyebabkan berbagai persoalan dan krisis sosial semakin mewabah di kehidupan masyarakat.
Hilangnya kedekatan pemimpin dengan rakyat yang dipimpin, akan mendatangkan murka Allah yang sangat besar, kepekaan sosial pemimpin akan semakin tumpul karena sikap empati dan simpati yang turut hilang. Ketimpangan sosial pun akhirnya menimbulkan kecemburuan sosial dan yang lebih celakanya lagi timbul arogansi kekuasaan. Kedua, seorang pemimpin harus mampu secara proposial menempatkan diri, kapan saatnya berperilaku sebagai pejabat, dan kapan bersikap sebagai kepala keluarga biasa.

Seorang pemimpin tidak harus membawa jabatan, dimanapun, kemanapun dan kapanpun berada. Apalagi merasa berhak atas segala fasilitas, meski sama sekali tidak terkait dengan jabatan yang disandangnya. Seluruh keluarga bahkan dipercik air kekuasaan.

Kegagalan dalam menempatkan diri secara proporsional terkait dengan jabatan yang disandang, mengakibatkan para pemimpin kita seringkali terjebak dalam perilaku yang tidak sehat dan bermoral. Merajalelanya korupsi daya gaya baru yang lebih licin merupakan dampak langsung kekerasan hati pemimpin. Kondisi ini harus dirubah, sayangnya reformasi sebagai momentum penting untuk melakukan evaluasi sekaligus merubah segala kebobrokan, ternyata belum memberikan perubahan yang pasti terkecuali janji. Kenapa momentum penting ini gagal dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia untuk membangun tatanan masyarakat dan negara yang lebih arif dan berkeadilan?.

Jawabannya karena reformasi hanya sebatas pergantian orang, belum menyentuh reformasi moral dan karakter dari pimpinan. Reformasi belum mampu merubah kultur dan mentalitas para pemimpin, sehingga yang terjadi seperti memutar kaset lama yang terus diulang tetapi dengan kemasan atau orang yang berbeda.

Yang pasti reformasi juga tidak pernah menuntut ketawadhuan, justru sebaliknya terjadi arogansi disegala tingkatan struktur.Seharusnya ketawadhuan menjadi aspek fundamental yang harus tercermin dan menjadi pakaian keseharian para pemimpin,namun kenyataannya masih selalu gagal diwujudkan oleh para pemimpin kita, Kenapa bersikap tawadhu sebagai salah satu dimensi dasar kepemimpinan. kerapkali dirasakan berat oleh para pemimpin kita.

Hal ini terkait dengan beberapa hal. Pertama, niat dan motivasi menjadi pemimpin. Apa yang menjadi latar belakang atau faktor pendorong sehingga seseorang rela bahkan sangat bernafsu untuk menjadi pemimpin. Kedua ideologi dan pandangan hidup para pemimpin, termasuk disini adalah persoalan budaya memegang jabatan.

Sejalan dengan momentum 100 tahun Kebangkitan Nasonal, kita berharap akan muncul figur pemimpin bangsa maupun pimpinan daerah yang bisa bersikap tawadhu seperti yang disuritauladani oleh Amirul Mukminan Ali Bin Abi Thalib dalam sepenggal kisah diawal. Meski bukan satu-satunya sarana yang akan mensukseskan kepemimpinan sekarang, sikap tawadhul merupakan kebutuhan kita saat ini. Apa artinya profesional dalam manajemen, cerdas, menguasai teknologi dan kemampuan intelektual lainnya, jika tidak didasar sikap tawadhu. Marilah kita berdoa, semoga masih ada ruang yang lapang untuk berpikir dan bertindak agar bisa menghindari kehancuran (Farid Wajdi,S.Ag)

Penulis adalah Ketua DPD BKPMRI Kabupaten Belitung dan Staf Pengajar pada Akademi Manajemen Belitung