“ Assholatuhairum Minannaum…..Sholat lebih baik daripada tidur”. Adzan subuh dari Mesjid Jamiek Fathul Qorib terdengar jelas, membangunkan dan mengajak warga kampung yang lelap tidur untuk sholat. Dikejauhan tampak temaram sinar lampu. Aktivitas dirumah ini sudah dimulai sebelum adzan subuh memanggil,  mengumandangkan firman Allah SWT. Begitulah cara penghuni rumah menghiasi suasana seisi rumah.

 

Baru ketika bunyi adzan terdengar, suara lantunan Kalimatullah penghuni rumah pun berhenti. Menjelang tanah benderang, Yusri menghidupkan motor tahun produksi lama, tetapi karena perawatan tak kalah “klimis” dengan motor keluaran terbaru.

Rumah yang menghadap jalan hotmix mulus ini tampak Asri, meski tidak bercat mentereng tetapi kesan bersih terlihat jelas bagi siapapun yang lewat. Boungenvile, bunga yang selalu semarak dimusim kering menjadi ciri khas yang selalu dipelihara penghuninya. Seolah memberi makna bahwa hidup adalah pengabdian. Penghuninya terkesan mengerti teknik membuat rumah dan memiliki daya seni yang tidak biasa dimiliki orang kebanyaan.

 

Ada ungkapan pesimis “ tukang rumah tidak memiliki rumah seperti tukang jam yang tidak punya jam” ternyata tidak terbukti. Seperti mendidik anak kami pun harus memahami kelebihan dan kekurangan.

Tekun mencicil menampikkan kenyataan bahwa membangun rumah harus memegang duit banyak. Ikhlas menerima keadaan tapi percaya bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum kalau kaum itu sendiri tidak merubahnya.

 

Dia menyadari betul merawat itu mendidik diri menjadi disiplin. Hari itu Yusri bersama anak buahnya akan menyelesaikan pekerjaan akhir sebuah rumah.

Ditengah-tengah kondisi sulit mencari pekerjaan dan persaingan lapangan kerja dengan para buruh bangunan dari luar Belitung. Bapak tiga anak ini justru tidak pernah berpaling dari pekerjaan awalnya. Keahliannya membangun rumah adalah warisan dari orang tuanya sementara sang ibu  dikenal ramah dan terbuka. Sosok perempuan yang ulet dan pekerja keras.

 

Kini, Yusri  anak semata wayang pasangan Pak Yus’adu dan Mak Yok, disegani di banyak podium kompetisi Musabaqoh Tillawatil Quran mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten hingga kecamatan. Dirumahnya berjejer trophy –trophy kejuaraan berbagai tempat yang sudah terkumpul sejak remaja. Tapi jangan ditanya, berapa jumlah piagam dan  trophy yang dikumpulkan. Yusri tidak dingat seluruhnya apa dan dimana prestasi pernah ia diraih, yang diingatnya hanyalah bagaimana ilmu itu bisa diamalkan dan diwariskan kepada anaknya nanti.

Semasa hidup, kedua orang tua Yusri  sudah terbiasa memandang simbol-simbol prestasi anaknya. Tapi soal Yusri kini bergelar haji, kedua orang  tuanya hanya tersenyum bangga di alam kubur. Di usia yang relatif muda Yusti melengkapkan Rukun Islam dengan menunaikan ibadah haji. Begitulah hidup, Tuhan akan memberikan sesuatu dari sudut yang tidak pernah kita ketahui.

 

Perkawinan Yusri dengan Hamsiani dikarunia tiga orang anak. Nurbaiti lahir pada tanggal 29 Juni 1997, disusul adiknya  Miftahur Rizki yang lahir pada tanggal 3 Mei 2003 dan yang terakhir Ikhwanul Hafidz yang lahir pada tanggal 30 April 2007. Di antara waktu Magrib dan Isya, Yusri bersama Istri, mengajarkan anaknya membaca Al-quran. Tubuh mungil Nurbaiti tidak semungil suaranya. Orang tuanya membimbing Nurbaiti belajar membaca Al-Quran dengan disiplin hingga berhasil menjuarai kompetisi di ajang MTQ kecamatan dan kabupaten.

Pada tahun 2008, keduanya berhasil meraih predikat pertama di MTQ Tingkat Kabupaten. Bagi Yusri Yus’adu predikat juara tingkat anak-anak selalu diraihnya sejak tahun 1983 hingga 1987.  Namun Yusri tidak ingat lagi secara persis kapan dan dimana saja perlombaan pernah diikutinya. Pada tahun 1990 menoreh prestasi di tingkat Remaja atau kelompok umur 15-20 tahun. Dan sejak  tahun 1994 mulai mengikuti dan menjuarai lomba tingkat Dewasa .

Tapi bagi Nurbaiti kiprah dalam MTQ Tingkat Kabupaten Tahun 2008 ini di Mesjid Al-Ihram Tanjungpandan merupakan kompetisi yang pertama. Bimbingan dan disiplin yang diterapkan orangnya akhirnya membuahkan hasil.  Si Cilik ini pun mulai diperbincangkan orang banyak karena prestasinya menjuarai Lomba Menghafal Al-quran  1 (satu) juz.  Meski baru pertama kali berkompetisi, Nurbaiti berhasil meraih predikat pertama pada MTQ tingkat Kabupaten Belitung. Prestasi yang diraihnya mengantarkan Nurbaiti ke jenjang lomba yang lebih tinggi. Karena prestasinya  Nurbaiti kecil bersama 30-an anggota kafillah Musabaqah Tillawatil Qur’an (MTQ) Kabupaten Belitung  mengikuti MTQ Tingkat Provinsi yang diselenggarakan di Toboali termasuk bapaknya. Jarang….jarang sekali, begitu tanggapan seorang warga yang bangga kepada pasangan bapak-anak ini. Biasanya orang tua hanya menjadi pendamping anaknya berkompetisi, bahkan sering berpindah-pindah sekolah karena mengikuti orang tua berkarir. Tapi anak beranak ini lain dari keluarga kebanyakan, justru karena kompetisi mereka bisa bersama.

 

Bagi kafilah yang berhasil mendapatkan predikat pertama pada MTQ Tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, akan diikutsertakan pada MTQ Nasional yang akan diselenggarakan dari tanggal  14 hingga 24 Juni  di Banten dan Titik bersama sang bapak terpilih. Secara intensif Titik panggilan Nurbaiti, mengikuti bimbingan dari senior. Tetapi namanya anak-anak, Titik lebih nyaman dibimbing orang tua sendiri sekaligus guru pribadi dibandingkan di bimbing oleh kakak-kakak seniornya. Pasangan juara bapak-anak  mungkin yang tidak dimiliki peserta dari kafilah–kafilah lain di ajang MTQ tingkat Provinsi maupun Nasional.

 

Yusri sudah mengikuti MTQ tingkat  Nasional sejak tahun 2002, tetapi bagi Nurbaiti yang pertama kali dan  pertama pula menginjakkan kakinya ke tanah Jawa untuk mengikuti  MTQ Nasional kateori 1 (satu) juz putri. MTQ Nasional ke-22 yang berlokasi di Kantor Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) Kecamatan Curug, Kota Serang direncanakan akan diselenggarakan pada mulai 17 Juni hingga 24 Juni dan Nurbaiti berharap pergi bersama ayah dalam balutan prestasi. Yusri berkisah Selama mengikuti MTQ Tingkat Nasional, baik qori maupun qoriah kafilah Babel belum pernah masuk sepuluh besar

Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), yang kali pertama terselenggara secara Nasional di kota Makassar pada 1968, telah menyuguhkan nuansa kehangatan spiritualitas dan pesona budaya keagamaan khas Indonesia. Bagi umat Islam Indonesia, MTQ tidak hanya menjadi cermin kesalihan spiritual, namun lebih dari itu amat kental dengan gambaran aktivisme sosial keagamaan.  Di sisi lain, penyelenggaraan MTQ, terutama pada level regional telah membangkitkan gairah dan motivasi yang kuat bagi generasi muda untuk senantiasa memelihara kesucian dan meningkatkan kecintaan terhadap kitab suci al-Qur’an lewat budaya membaca, menghafal, memahami, serta berupaya mengamalkan isi dan kandungannya dalam kehidupan yang sesungguhnya, baik sebagai individu maupun sebagai warga negara.

Orang tua merupakan faktor utama mendidik anak karena orang tua punya peran untuk merubah anak, pada saat dilahirkan anak itu putih tinggal orang tuanya yang mau menjadikannya Nasrani, Majusi atau Yahudhi seperti Hadist Rasulullah. Antara waktu magrib dan isya, keluarga ini berkumpul sembari mendidik anak membaca Al-quran. Rumah awal segala aktivitas, yang dia percayai sebagai tempat yang ideal mendidik anak, mewarisi ilmu dan amal. “Sudah kewajiban kepala keluarga untuk mendidik anak dan menjaga keharmonisan rumah tangga” kata Yusri polos.

 

Yusri memahami sifat anak yang selalu meninginkan pembuktian. “Jangan berjanji kepada anak, karena anak hidup dalam dunia nyata, semua yang diberikan menuntut bukti. Jadi jangan mengiming-imingkan anak yang masih kecil dengan  dosa atau pahala untuk memotivasinya  beribadah” jelas Yusri. Sebenarnya Yusri bukanlah guru ngaji, kalau bisa menghantarkan anaknya meraih gelar prestasi semata-mata karena tugas sebagai pemimpin keluarga yang bertanggungjawab terhadap pendidikan anaknya.

“Pendidikan dasar itu penting, seperti halnya teknik dasar membaca qur’an mestinya dilakukan sejak usia dini, seperti cara penyebutan huruf dan irama.   Kalau salah ucap harus langsung diperbaiki. Jangan membiarkan kesalahan berlanjut meski terkesan kecil, tidak monoton memberikan pendidikan kepada anak” ujar Yusri. Orangtua harus mengerti kelebihan dan kekurangan anak, tidak terlalu memaksa dan harus benar seperti kemauan Sang Guru. Ketika menghadiri acara Perkawinan ataupun “Betamat Qu’ran” Yusri sering mendengar pengucapan dan irama yang kurang pas didengar

 

Senada dengan Sang Bapak, Nurbaiti mengakui selama ini dia lebih banyak belajar dirumah dibimbing Bapak. Titik, panggilan Nurbaiti belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an  sejak umur 6 tahun atau SD kelas 1. “ Ndak ade se nok susah kalo kite nak belajar ” kata Titik. Namun Yusri menyadari anak harus mengenal dunia lain agar wawasannya berkembang dan wadah untuk  mengukur kemampuan diri sendiri. Karena itulah sesekali Yusri menyuruh anaknya mengikuti pengajian di Pondok Pesantren Faturrahman yang dipimpin Haji Jamil Zainal. Pondok pesantren ini pun telah banyak menghasilkan qori-qoriah berprestasi.  Maksud Yusri tak lain untuk memacu anaknya bersaing sekaligus meningkatkan  disipilin. “ Maklumlah masa anak-anak adalah masa untuk bermanja apalagi dengan orang tua.” Kata Yusri, Kekhawatiran anak tidak disiplin selalu saja ada.  

 

Menunaikan Kewajiban Haji

Ilmu yang dititipkan orang tuanya terbukti bermanfaat dalam menyiasati kekurangan  “Seingat aku lum isak (pernah) megang duit sampai lima juta”, kata Yusri.  Istrinya memahami kondisi suami, karena pengertian dan saling mendukung akhirnya rumah tempat mendidik tiga anak akhirnya terbangun.

“Kamek ini hanye pekerja harian, ndak dapat berbuat ape-ape”. Merubah keadaan berarti merubah usaha, semakin sulit keadaan semakin giat kita berusaha. Tidak ada yang dipersalahkan, menyalahkan keadaan menunjukan kita baru saja mengawali kesalahan kita sendiri.

 

Di masyarakat Yusri dikenal sebagai petugas penyelenggara perkawinan.  Yusri mengakui   beratnya tanggung jawab menjadi saksi pernikahan yang menyaksikan manusia merubah sesuatu yang haram menjadi halal.. Selain di lihat manusia kesaksian ini diketahui oleh Allah SWT. 

 

Pada tahun 2008 ini Yusri  mendapatkan berkah dari perjalanan hidup, prestasi dan pengabdiannya di masyarakat.  Bagi Yusri yang kini bergelar Haji menganggap Haji itu bukan sekedar gelar  tapi bukti kekuasaan Tuhan terhadap sebuah keikhlasan, bersyukur menjalani hidup. Yusri Yus’adu tidak menyangka impiannya pergi ke Haji bisa terwujud bahkan dirinya dipercaya memimpin rombongan Kloter XIII yang diberangkatkan dari Embarkasi Palembang. Yusri mengenang pengalaman di tanah Suci. Panjangnya antrian untuk mendapatkan  makanan menguji kesabaran. Alhamdullilah tidak ada kendala. Haji Yusri memimpin 46 jemaah lain yang berasal dari Kabupaten Belitung, Bangka Tengah dan Bangka Selatan (fithrorozi)