Oleh Budi Setiawan

Kita menyadari banyak kegiatan pelestarian yang sudah dilakukan oleh pemerintah, swasta, maupun masyarakat baik lokal maupun masyarakat international.

Salah satu upaya penyelamatan terumbu karang dilakukan dengan cara mengawasi aktivitas masyarakat nelayan. Sementara areal yang diawasi adalah lokasi berkumpulnya gerombolan ikan dengan nilai jual tinggi seperti terumbu karang sekaligus sumber matapencaharian masyarakat. Karena dorongan ekonomi maka aspek kelestarian seringkali diabaikan. United Nations Environment Program (UNEP) meluncurkan program penyelamatan terumbu karang melalui program COBSEA. Program ini dijalankan selama 1-2 tahun. COBSEA menekankan 6 aspek penyelamatan antara lain penggalian nilai kearifan masyarakat lokal, menciptakan alternatif usaha masyarakat (alternative livelihood), penyadaran (awardness) dan pengawasan (reef watcher) .

Namun dilapangan upaya tersebut seringkali bermasalah. Upaya pengawasan yang dilakukan dengan pendekatan hukum misalnya berpotensi menimbulkan konflik antara warga. Terutama antara pengawas terumbu karang dan nelayan, padahal keduanya merupakan bagian dari masyarakat pesisir. Belum lagi jika ditinjau aspek ekonomi karena semakin tinggi resiko akan semakin tinggi keuntungan yang didapat. Nilai jual ikan karang yang tinggi mengakibatkan perburuan ikan karang semakin tinggi. Kerusakan terumbu karang bukan hanya akibat dari tindakan yang disengaja tetapi sebagai dampak dari aktivitas nelayan yang secara tidak langsung merusak seperti penggunaan pukat dan bubu dan alat tangkap ikan lainnya.

Upaya menciptakan usaha alternatif dengan teknologi tepat guna yang ditujukan untuk mengurangi bahkan menghindari interaksi masyarakat terhadap terumbu karang tidak akan optimal meskipun diiikuti dengan strategi penyadaran, pengawasan dan pendekatan hukum lainnya. Apalagi upaya tersebut dilakukan dalam rentang pendek 1 hingga 2 saja, bukankah hidup hari ini juga susah apalagi memikirkan kelangsungan hidup masa datang.

Artinya program penyelamatan lingkungan tidak saja mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat semata tetapi harus terintegrasi dengan kepentingan ekonomi. Lantas bagaimana terumbu dan ikan karang dapat dimanfaatkan tetapi aspek kelestariannya tetap diperhatikan?

Selain COBSEA, UNEP juga mengimplementasi program Global Environmental Facilities (GEF). Jika COBSEA memandang terumbu karang sebagai objek yang harus dilindungi seperti yang diterapkan di Selat Nasik, sebaliknya Program GEF melihat terumbu karang adalah sesuatu yang harus dimanfaatkan. GEF memilih perairan Tanjung Binga, Kecamatan Sijuk sebagai pilot project. Alasannya karena kondisi terumbu karang di perairan Tanjung Binga lebih banyak diakibatkan oleh aktivitas nelayan yang secara tidak langsung merusak terumbu karang sementara untuk membiarkan terumbu karang tumbuh alami tidak memungkinkan karena potensi kerusahakan dari aktivitas melaut sangat tinggi dimana sebagian masyarakat berprofesi sebagai nelayan bagan. Untuk itu Wakil GEF di Indonesia Ferdinand Da Cruz dan pengamat independen program COBSEA Chou Loke Ming dari Singapore University melakukan peninjauan di wilayah perairan Tanjung Binga dan perairan Pulau Lengkuas. Terumbu karang di kawasan ini yang juga merupakan kawasan wisata bahari rentan terhadap kerusakan karena perairan ini menjadi lintasan perjalanan nelayan bagan apalagi kedalaman lautnya relatif dangkal yakni berkisar antara 3-4 meter.

Terumbu karang seperti juga sumberdaya alam yang lain sebetulnya bisa dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran masyarakat. Namun harus memperhatikan batas-batas pemanfaatanya. Secara alami perkembangan terumbu karang memerlukan waktu yang cukup lama, namun dengan sentuhan teknologi pertumbuhan terumbu karang bisa dipercepat.

Dengan teknik transplantasi, terumbu karang dapat dibudidayakan sehingga dalam 1 (satu) tahun bisa dipanen. Berdasarkan hasil penelitian, tingkat penurunan populasi terumbu karang setiap tahunnya menurun hingga 3.04 %. Keuntungan terumbu karang buatan selain mempercepat pertumbuhan juga mudah dikontrol. Pembudidaya dapat mengidentifikasi jenis ikan berdasarkan bentuk terumbu karang yang dibuat. Sehingga komoditas ikan karang dapat ditentukan. Tentu saja selain industri ikan hias berkembang, terumbu karang buatan akan menjadi daya tarik wisata penelitian. Hingga saat ini terdapat banyak LSM yang melibatkan diri dalam upaya pelestarian terumbu karang antara Yayasan Telapak yang berpusat di Bogor dan Yayasan Terangi di Tanjung Priok.

Dalam beberapa tahun ini, Kelompok Peduli Lingkungan Belitung (KPLB) telah menjalin kemitraan dengan UNEP untuk mengimplementasikan program GEF.

Transplantasi

Istilah terumbu karang buatan yang sekarang ini berkembang di Indonesia , adalah murni “Fish Aggregation Device” (FAD), yaitu suatu cara yang digunakan untuk merubah suatu perairan yang sepi ikan menjadi perairan yang banyak ikan. Disini tidak dipersoalkan apakah konstruksi yang dibuat itu dapat ditumbuhi karang atau tidak. Yang penting dengan konstruksi yang diletakkan di dasar laut dapat menyebabkan berkumpulnya ikan di sekitar konstruksi tersebut. Terumbu karang buatan untuk meningkatkan produksi perikanan, banyak terbuat dari ban mobil bekas yang disusun demikian rupa sehingga dapat menjadi pelindung ikan-ikan yang biasa berlalu lalang di perairan tersebut.

Transplantasi atau penanaman terumbu karang dapat dilakukan untuk berbagai tujuan yaitu : (1). Untuk pemulihan kembali terumbu karang yang telah rusak; (2).Untuk pemanfaatan terumbu karang secara lestari (perdagangan karang hias); (3).Untuk perluasan terumbu karang, (4). Untuk tujuan pariwisata (5). Untuk meningkatkan kepedulian masyarakat akan status terumbu karang; (6). Untuk tujuan perikanan; (7). Terumbu karang buatan; (8.) Untuk tujuan penelitian.

Selama ini upaya transplantasi belum pernah dilakukan, selain keterbatasan sumberdaya sosialisasi terhadap upaya ini masih minim padahal transplantasi merupakan cara satu-satunya untuk mempercepat pertumbuhan terumbu karang. Pahadal selain sederhana dan biayanya pun relatif murah.

Transplantasi untuk tujuan perdagangan karang hias, dilakukan dengan memindahkan potongan jenis-jenis karang hias yang diperdagangkan ke substrat buatan yang diletakkan di sekitar habitat terumbu karang alami, yang nantinya akan menjadi induk karang hias yang akan diperdagangkan, dengan mengikuti prosedur sebagai berikut :

a. Transplantasi karang untuk tujuan perdagangan karang hias hanya boleh dilakukan oleh pengusaha karang hias yang sudah mempunyai izin sebagai eksportir karang hias.

b. Jenis-jenis karang hias yang dibiakkan adalah jenis-jenis karang hias yang diperdagangkan untuk pembuatan aquarium, dan tidak diperdagangkan sebagai karang mati.

c. Jumlah bibit karang hias yang akan ditanam sebagai induk karang hias merupakan bagian dari kuota karang hias yang telah memperoleh persetujuan

d. Sebelum pembiakan dilakukan, pengusaha harus melaporkan kepada lembaga yang ditunjuk untuk menginformasikan kapan penanaman bibit karang hias itu dimulai, lokasi pembiakan, jumlah dan jenis karang hias yang akan ditanam.

Beberapa daerah yang telah berhasil mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan transplantasi ini dilakukan di perairan Kabupaten Belitung. Desa Medana, Tanjung, Lombok Barat misalnya kelompok nelayannya dalam enam bulan telah berhasil melakukan transplantasi melalui stek. Pertumbuhan terumbu karang cukup pesat dari sepanjang 10 cm menjadi 20 hingga 25 cm dan di dalam laut nampak indah dihiasi karang warna-warni, antara lain gold, pink dan putih. Setidaknya untuk melakukan transplantasi, pembudidaya harus mengetahui penyebaran dan faktpr pembatas baik linkungan fisik maupun kimia. Kedua mengetahui bagaimana biologi terumbu karang dan ketiga mengetahui klasifikasi dan karakteristik spesies terumbu karang yang akan ditransplantasikan. Begitu juga masyarakat di Desa Bondalem, Bali. Sejak tahun 2002 telah melakukan upaya pelestarian Terumbu Karang di sejumlah perairan Desa setempat dan terbukti kondisi terumbu karang saat ini (2008) sudah mengalami perbaikan mencapai 40 persen. Keberhasilan transplantasi ini tentunya harus didukung dengan upaya pendukung misalnya dengan menjaga kebersihan pantai dari sampah-sampah rumah tangga yang dibuang kelaut.
(Penulis adalah Aktivis LSM Kelompok Peduli Lingkungan Belitung)