“… Anugerah dan bencana adalah kehendak-Nya. Kita mesti tabah menjalani. Hanya cambuk kecil agar kita sadar.adalah Dia diatas segalanya… Anak menjerit-jerit, asap panas membakar, lahar dan badai menyapu bersih. Ini bukan satu hukuman hanya satu isyarat. Bahwa kita mesti banyak berbenah. Memang bila kita kaji lebih jauh. Dalam kekalutan. Masih banyak tangan yang tega berbuat nista…….”.

Cuplikan lagu tersebut sudah tidak asing lagi. Lagu yang diciptakan dan dilantunkan oleh Ebiet G.Ade. Penulis merasa tergugah dengan syair-syairnya.Kenapa?. Karena pada kurun waktu akhir-akhir negeri  ini tidak henti-hentinya dilanda bencana. Kita dapat melihat berita di televisi bencana alam dari longsor, gempa bumi, tsunami, banjir hingga topan badai. Pohon dan rumah rusak, sawah yang siap panen porak poranda oleh banjir, dan masih banyak lagi bencana-bencana alam yang terjadi dan tidak sedikit memakan korban manusia.

Gejala apa yang sebenarnya terjadi?. Bila mengutip lagu Ebiet G.Ade tadi, maka bencana alam ini menjadi cambuk bagi kita, agar kita sadar. Sebab segala bencana alam yang timbul adalah akibat tangan manusia yang berbuat nista.Allah SWT berfirman dalam Surat Asy-Syuura ayat 30-31:

Yang artinya :”Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan –kesalahanmu). Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan tidak seorang penolong selain Allah.”

Tidakkah kita pahami, kekeringan dan banjir yang menimpa kita akibat dari pembalakan dan penebangan hutan secara liar (illegal logging), tsunami dan abrasi daerah pantai adalah akibat banyak daerah pantai yang hutan bakaunya habis. Di lautan terjadi kerusakan yang tidak kalah dahsyatnya. Terumbu – terumbu karang banyak dirusak oleh segelintir orang yang mencari keuntungan sesaat. Pinggir pantai abrasi dengan penambangan dan penggalian pasir laut secara besar-besaran tanpa memperhatikan lagi kelestarian lingkungan. Dan masih banyak lagi bencana alam lain akibat ulah tangan kita.

Hasil konferensi di Bali tahun 2007 yang lalu juga membahas tentang adanya isu pemanasan global (Global warning). Global warning ini adalah akibat dari penggundulan dan pembabatan hutan secara besar-besaran, sehingga banyak kawasan yang kering dan tandus. Padahal hutan ini merupakan penyerap sinar matahari. Bila keadaan bumi sudah kering dan tandus,maka tidak ada lagi yang menyerap sinar matahari ini, akibatnya iklim dan suhu bumi menjadi panas. Adanya eksploitasi alam secara besar-besaran demi meraih keuntungan (baca: keuntungan segelintir orang) yang sebanyak-banyaknya tanpa memperdulikan kelestarian lingkungan. Hal ini akan menyebabkan kerusakan yang semakin parah.

”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka  agar mereka kembali (ke jalan benar) (Ar-Ruum ayat 41)

Sangat jelaslah bencana alam yang menimpa kita dan akhir-akhir ini yang  akrab dengan kita adalah diakibatkan oleh perbuatan tangan kita sendiri. Oleh karena itu, marilah kita sama-sama kelola alam sekitar sehingga akan terjalin keselarasan antara manusia dan alam. Boleh-boleh saja alam diambil keuntunganya, akan tetapi kelola-lah dengan baik. Kita harus sadar bahwa mengelola alam lingkungan hidup kita harus diiringi dengan membina kelestariannya. Kita juga harus sadar bahwa pada hakekatnya alam lingkungan hidup adalah anugerah dari Allah SWT yang wajib dilestarikan sebagai sarana kemakmuran manusia. Semoga.(Yasa SP)