Sepintas lalu judul ketuk hati kali ini membuat kita mengerutkan dahi, tidak percaya  atau ada apa gerangan dengan yang namanya bersedekah. Kami yakin para pembaca sudah banyak dalil dan hadist dibaca yang berhubungan dengan sedekah. Namun mari kita bertanya pada diri kita masing-masing sudah sejauh manakah kita menerapkannya.

 

Firman Allah SWT. dalam Surat Al Baqarah ayat 261 yang artinya  ”Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji, Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui ”. 

 

Melalui ayat ini Allah SWT menjamin bagi siapa hambaNya yang ingin mengeluarkan sebagian saja rezeki yang dilimpahkan kepadanya, Allah SWT. akan membalasnya cepat atau pun lambat dengan berlipat ganda. Tadinya penulis merasa khawatir apa ya demikian, namun setelah mencoba terus menerus tidak terhitung jumlah kalinya dan tidak pernah menghitung berapa besar yang sudah disedekahkan. Seingat penulis sudah banyak terjadi keajaiban seputar peristiwa sedekah, yang terakhir saat berkunjung ke sebuah SMP Swasta di Tanjungpandan, secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya, penulis memberikan uang sebesar Rp. 50.000,- untuk kepentingan sekolah tersebut, besoknya teman akrab memberikan Rp. 350.000, untuk tiket pesawat katanya. kalu dihitung berkah sedekah  berarti menjadi 7 (tujuh) kali lipat

 

Pada tanggal 16 Juni 2007 memberikan uang sebesar Rp. 100.000,- kepada satu kelompok orang, satu jam kemudian diberi seseorang amplop begitu dibuka, berupa uang jumlahnya Rp. 100.000,-. Penulis ceritakan kepada sahabat yang lain tentang kejadian tersebut. ”Oh, itu kebetulan saja, mungkin sebelumnya saudara telah menaruh jasa kepada orang tersebut” kata sahabat.

 

Sebetulnya tidaklah demikian karena sedekah yang diberikan kepada orang lain disertai niat ikhlas semata-mata mengharapkan ridho dari Allah SWT yakinlah Allah SWT akan membalasnya. Oleh karena itu kiranya kita tidak perlu merasa takut dengan bersedekah, takut harta kita berkurang, atau bangkrut jatuh miskin. Rasanya belum terdengar orang yang dermawan jatuh bangkrut karena sering mengeluarkan Zakat, Infaq ataupun Shodaqah.

 

Setiap perbuatan seringkali melekat kepada orang tersebut dengan gelar dari masyarakat. Sepulang dari tanah suci nama pun diembeli gelar haji. Lalu kenapa zakat, sholat  yang juga rukun Islam tidak diberi gelaran seperti  Pak Zakat, Pak Infaq, Pak Shodaqah, seperti orang pergi haji dipanggil Pak Haji.

Berkenaan adab berzakat ada hadist yang mengatakan ” tangan kanan memberi tangan kiri tidak perlu tahu:. Jika tangan kiri saja tidak boleh apa jadinya kalau setiap yang memberi itu diberikan gelar Pak Zakat. Bahkan orang yang memberikan kontribusi dana  hanya mau menuliskan  identitasnya dengan sebutan ”Hamba Allah”, sikap kerendahan hati dan ada rasa ketakutan mendapat gelar Riya’.  Begitulah keistimewaan sedekah tidak perlu disebutkan pemberiannya,

 

Sayyidina  Ali bin Abu Thalib pernah mengatakan bahwa sedekah itu adalah pemancing rejeki. Orang yang bersedekah sebungkus nasi kepada fakir miskin, misalnya, maka balasan dari Allah jelas berlipat-lipat. Allah senantiasa akan mem-back-up orang yang tak pernah surut semangatnya untuk bersedekah. Walau sekecil apapun barang yang ia sedekahkan.

 

Dalam Al-Qur’an Surat As-Saba” : 39 , Allah Swt berfirman

” Katakanlah : Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rejeki dan membatasinya bagi siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya.”.Dan apa saja yang kamu dermakan, maka Allah akan menggantikannya, dan Dialah sebaik-baiknya pemberi rejeki ”.

 

Kiranya sudah cukup banyak sebagai bahan refleksi kita tentang kisah-kisah yang menjelaskan ihwal dilipatgandakannya rejeki bagi orang-orang yang derma, baik yang terjadi pada zaman Rasulullah maupun yang terjadi saat ini.

 

Imam as Suyuthi mengklasifikasikan lima macam pelipatgandaan pahala:

Pertama, satu digantikan sepuluh, yakni sedekah pada orang yang sehat jasmani. Kedua, satu digantikan sembilan puluh, yakni sedekah kepada orang yang buta (cacat). Ketiga, satu digantikan sembilan ratus, yakni sedekah kepada kerabat yang membutuhkan. Keempat, satu digantikan seratus ribu, yakni sedekah kepada orang tua. Kelima, satu diganti sembilan ratus ribu, yakni kepada seorang ulama yang sangat mumpuni pemahaman keagamaannya.

 

Lantas tunggu apa lagi, sendainya kita ada kelebihan harta segeralah bersedekah, jangan ditunda-tunda, sebab menunda-nunda sedekahnya sama halnya   membuang peluang (rejeki) yang sudah ada di depan mata, apalagi takut harta berkurang atau tidak kembali. Yakinkanlah diri dengan penuh keikhlasan dan . marilah kita  merasakan nikmatnya bersedekah. Wallahu a’lam bishowab.(Hamrin, Ketua Majelis Pembina BKPMRI Kabupaten Belitung)