Badau merupakan pusat pemerintahan tertua dan merupakan salah satu dari enam Ngabehi (semacam kecamatan) di Pulau Belitung namun dalam perkembangan wilayahnya, proses menjadi kecamatan definitif Badau justru lebih lambat dibandingkan Ngabehi Tanjungpandan

Pada tahun 1850, Dr. J.H.Crookewit didampingi 2 (dua) orang Tionghoa dari Bangka melakukan  perjalanan untuk menyelidiki (eksplorasi) bahan galian timah atas kehendak Pemerintah Hindia Belanda. Dengan berjalan kaki, Ia mengunjungi ke enam distrik dalam Pulau Belitung, yakni  Distrik Tanjungpandan, Distrik Lenggang (masih dalam satu pengawasan dengan distrik Tanjungpandan), Distrik Badau,  Distrik Sijuk,  Distrik Buding dan   Distrik Dendang. Ini menunjukkan Badau sudah menjalani lintasan perjalanan bangsa asing.

Sebelumnya orang di luar Belitung telah lebih dulu bermukim di Badau. Pada akhir abad 15 atau sekitar tahun 1500 seorang bangsawan Jawa datang di Pulau Belitung dengan menyelusuri sungai Buding Dialah Ronggo alias Kiai Ronggo Udo yang dikenal sebagai Datuk Mayang Geresik. Bisa jadi beliau pulalah yang membawa pengetahuan pengolahan besi hingga saat ini parang badau dikenal luas oleh masyarakat Beltung. Badau kemudian berkembang menjadi sebuah kerajaan dengan wilayah kekuasaannya meliputi Badau, Ibul, Bangek, Bentaian, Simpang Tiga bahkan jauh sampai ke daerah Buding, Manggar dan Gantung. Pusat pemerintahannya disekitar Pelulusan sekarang ini. Bisa dikatakan Badau sebagai Pusat Pemerintahan pertama di Pulau Belitung.

Perkawinan Kiai Ronggo Udo dengan anak Raja Palembang, hanya memiliki seorang anak puteri yang bernama Nyi Ayu Siti Kusumo. Pada masa pemerintahannya Ngabehi dibagi dua yaitu Ngabehi Badau bergelar Istana Yudo dan Ngabehi Sijuk bergelar Wongso Yudo.

Selain nilai sejarah, Badau memiliki sumberdaya hayati yang berada di Hutan lindung  Gunung Tajam. puncak tertinggi (500 mdpl) di Pulau Belitung. Terdapat sekitar 26 jenis pohon dari 17 suku yang didominasi oleh pohon pelepak (Hopea billitonensis) serta berbagai jenis kupu-kupu dan flora endemic seperti Tarsius Soltator atau Pelile’an. Dari puncak gunung mengalir air membentuk air terjun “Gurok Beraye”.

Pada tahun 2005 dari 11.014 jiwa penduduk atau 2.988 rumah tangga terdapat 600 Rumah Tangga Miskin di kecamatan Badau atau terbesar kedua setelah Selat Nasik. Kini (2008.) Kecamatan Badau berpenduduk 11780 jiwa yang mendiami 4 desa meliputi Desa Badau, Desa Air Batu, Desa Kacang Butor, Desa Cerucuk dan 2 (dua) desa  pantai yakni Desa Pegantungan dan Desa Sungai Samak.

Seperti kejahatan, kemiskinan sangat sulit punah dari muka bumi. Sanggupkah badau menurunkan angka kemiskinan dengan potensi alam dan jumlah penduduknya ?. Benarkah symbol dari B-Bersih, A-Aman, D-Damai, A-Agamis, U-Ulet seperti yang Anuar Isnen harapkan ketika berkampanye dalam Pemilihan Kepala Desa Badau beberapa waktu yang lalu. Jalan masih panjang dibawah kepemimpin Camat Badau M.Aidin Dahri S.Ip Badau terus bergeliat  (fithrorozi)