Cinta, satu kata yang begitu dahsyat. Setiap orang pernah mengalaminya, mungkin barang kali tidak ada seorangapun yang luput dari kata cinta. Entah cinta kepala lawan jenis, cinta harta, cinta keadilan, cinta kebahagiaan dan lain-lain. Tidak heran kalau mendengar sebuah kisah “cinta”, kita merasakan keasikan, kesetiaan, kemesraan dan rasa kasih sayang. Rasa ingin bersama dalam suka dan duka, siap membela cintannya dengan taruhan jiwa dan harta, merupakan satu fenomena yang bisa kita saksikan dalam “cinta sejati” Ada ungkapan bagi orang yang sudah mabuk kepayang dengan cinta, yaitu : “ kalau cinta sudah melekat (ma’af) tai ayam rasa coklat. Kalau sudah kerasukan cinta nimuman dan makanan tak nyaman, tidurpun tak nyenyak. Kalau cinta sudah membara, dunia seolah milik berdua (yang lain ngontrak). Akan tetapi bila ikatan cinta mulai memudar, suasana pun berubah. Rasa setia menjadi ingkar dan penuh rasa curiga. Asik dan mesra menjadi bosan dan memuakan, kasih sayang menjadi hilang. Rasa ingin bersua pun menjadi ingin berpisah dan berjauhan, Tidak tegus sapa dan putus hubungan. Dunia ini menjadi berantakan, Tak ada kata yang indah semuanya serba salah.

 

Pada kesempatan ini, mungkin penulis tidak akan menerangan ‘cinta” untuk hal-hal yang lebih mendetail lagi, karena penulis bukanlah ahli dalam mengarang sebuah kata “cinta” dan bukanlah “pujangka cinta”. Yang ingin penulis sampaikan adalah kata cinta secara umum Yaitu cinta Hamba-Nya kepada Kholiq-nya. Cintah manusia kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.

Seorang hamba yang dilanda cinta, selalu ingat akan cintanya. Setiap kesempatan akan digunakan untuk memenuhi hasrat cintanya. Maka seorang hamba yang tulus cintanya kepada sang pencipta ia selalu ingat kepada-Nya. Semua daya upayanya adalah untuk mentaati syai’at yang telah diperintahkan –Nya. Ia yakin, bahwa kebahagiaan hidupnya adalah adalah manakala ia mempunyai mempertahankan cintanya, meskipun harus ditembus dengan harta, kedudukan, jabatan, kekuasaan, perniagaan, anak, istri, dan keluarganya. Bahkan hidupnyapun siap ia korbankan.

Dia tidak akan cinta kepada sesuatu melainkan hanya sebagai sarana (wasila) untuk mencapai cintanya kepada Allah atau hanya karena Allah SWT. Kalau kita sebagai seorang muslim, telah dituntutkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis “Barang siapa cinta kepada Allah, memberi karena Allah dan tidak mau memberi kecuali karena Allah, maka Dia sudah menyempurnakan imannya”, (H.R. Abu Daud).

Manusia yang cinta selain Allah, cintanya palsu, tidak murni, semu, karena mereka memberikan cinta selain Allah. Maka mereka termasuk golongan orang-orang yang beriman secara tidak ikhlas, Lain halnya dengan orang yang beriman secara ikhlas mereka amat sangat cintanya kepada Allah, cintanya murni, tidak dicampur dengan yang lain.

Orang yang cintah kepada Allah dengan tulus, berarti telah menemukan kunci kebahagiaan hidupnya. Ia akan menemui cintanya dalam kemesraan yang abadi. Tetapi orang yang cinta selain Allah, ia hanyalah mengikuti hawa nafsunya, yang selalu menjerumuskan ke dalam jurang kesengsaraan, kesesatan dan kealpaan . Allah SWT berfirman, dalam Surat Al-Jaatsiyah ayat 23, yang artinya : Maka pernakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya (yang ditaati) dan Alah nenjadikan dia sesat atas ilmunya dan mengunci mati pendengaran dan hatinya dan menjadi tutup rapat di atas penglihatannya ?. Maka mengapa kami tidak mengambil pelajaran ? “.

Barang kali kalau kita belum bisa menyadarkan cintah sepenuhnya kepada Allah SWT, mari kita sama-sama untuk memulai perasaan cinta itu kepada hal yang positif terlebih dahulu, terutama terkait dengan pekerjaan kita. Penulis memaparkan satu rangkaian kata dalam menemukan cinta dari tokoh-tokoh yang terkenal : “Bila kita tak mencintai pekerjaan kita, maka cintailah suasana gedung atau tempat kerja kita. Ini mendorong kita untuk bergairah berangkat kerja dan melakukan tugas-tugas dengan lebih baik lagi. Bila toh kita juga tidak bisa melakukannya, cintai setiap pengalaman pulang pergi dari dan ke tempat kerja kita. Pekerjaan yang menyenangkan menjadikan tampak menyenangkan juga. Namun. Bila kita tak menemukan kesenangan di sana, maka cintai apapun yang bisa kita cintaidari pekerjaan kita : tanaman hias meja, tanaman bunga yang sedang mekar, cicak yang sedang bermain di dinding, atau gumpalan awan dari balik jendela yang terbuka. Apa saja. Terserah kita.

Bila kita tak menemukan yang bisa yang bisa kita cintai dari pekerjaan kita, maka mengapa kita ada di situ ?, Tak ada alasan bagi kita untuk tetap bertahan. Cepat pergi dan carilah apa yang kita cintai, lalu bekerjalah di sana. Hidup hanya sekali. Tak ada yang lebih indah selain melakukan dengan rasa cinta yang tulus”.(Yasa)