Oleh Sadeli Ilyas

Dewasa ini banyak negera memiliki keanekargaman budaya. Diantara 175 negara anggota PBB, hanya 12 negara yang penduduknya kurang lebih bersifat homogen. Keanekaragaman budaya tersebut diistilahkan dengan multikultural.

 

Dalam masyarakat multikultural, kekuatan sosial politik dari keanekaragaman tersebut berlandaskan pada kekuatan primordial kesukubangsaan yang lokal, sehingga masyarakat multikultural lebih menekankan pada keanekaragaman etnis, bukan pada keanekaragaman kebudayaan (multikulturalisme). Sebaliknya, ideologi masyarakat kultural yang menekankan pada paham primordialisme bergeser pada ideologi multikulturalisme yang menekankan pada keanekaragaman kebudayaan dengan kesetaraan derajat antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lainnya.

 

Cliffod Gertz berpendapat bahwa masyarakat multikultral merupakan masyarakat yang terbagi kedalam sub-sub sistem yang kurang lebih berdiri sendiri dan masing-masing subsistem terkait oleh ikatan-ikatan primodIal. Istilah multikultural menuNjuk pada keadaan sebuah masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok  atau suku-suku bangsa yang berbeda kebudayaan, tetapi terikat oleh suatu kepentingan bersama yang bersifat formal dalam bentuk sebuah negara.

 

Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat multikultural. Wajah asli kemajemukan masyarakat Indonesia adalah keanekaragaman kelompok-kelompok sosial atau suku-suku bangsa beserta kebudayaannya. Keadaan yang sifatnya alamiah itu kemudian berlanjut ke sifat multikultural lainnya, seperti diferensiasi, stratifikasi , kelas sosial, struktur sosial, sistem mempertahankan hidup dan kehidupan, orientasi nilai budaya, cara penegakan hukum, dan kecenderungan partisipasi di bidang politik. Keadaan masyarakat yang multikulral ini tentu memiliki latar belakang tersendiri, seperti kondisi geografis, pengaruh kebudayaan asing, kondisi iklim yang berbeda, atau integrasi nasional yang berasal dari kelompok suku bangsa yang beranekaragam.

 

 

Pendidikan Multikultural

Pendidikan Multikultural merupakan sebuah istilah yang sudah lama muncul di dunia pendidikan. Masyarakat yang harus mengapresiasi pendidikan multikultural adalah masyarakat yang secara objektif memiliki anggota yang heterogen dan plural, yaitu paling tidak heterogenitas dan pluralitas anggota masyarakat tersebut. Hal ini  bisa dilihat pada eksistensi keragaman suku (etnis), ras, aliran (agama) dan budaya (kultur). Istilah multikultural itu sendiri berakar dari kata kultur yang berarti budaya atau peradaban. Dalam pendidikan multkultral selalu muncul dua kata kunci yaitu pluralitas dan kultus. Sebab pemahaman terhadap pluralitas mencakup segala perbedaan dan keragaman. Sedangkan kultur itu sendiri tidak bisa terlepas dari empat tema penting yaitu aliran (agama), ras, suku dan budaya.

 

Secara sederhana pendidikan multikultural diartikan sebagai pendidikan tentang keragaman kebudayaan dalam merespon perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu. Menurut Tilaar, pendidikan multikultural muncul seusai Perang Dunia II. Saat itu muncul gagasan tentang ”inter-kulturalisme” dan menyangkut perkembangan politik internasional seperti HAM, kemerdakaan dan penjajahan, dan diskriminasi rasional. Pendidikan inter-kultural merupakan pendidikan lintas budaya. Pada tahap pertama, pendidikan ini ditujukan untuk mengubah tingkah laku individu yang meremehkan budaya kelompok/orang lain terutama kalangan minoritas. Selain itu juga untuk menumbuhkembangkan toleransi dalam diri individu terhadap perbedaan ras, etnis dan agama. Pada kenyatannya pendidikan ini hanya ditujukan pada individu saja, sementara konflik yang terjadi dalam skala luas bukan hanya pada tingkat individu, akan tetapi pada skala masyarakat luas. Oleh karena itu, pendidikan inter kultural dipandang kurang berhasil dalam mengatasi konflik antar golongan dalam masyarakat, sehingga mendorong lahirnya pendidikan multikultural.

 

Wacana pendidikan yang digagas ini, tidak terlepas dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal merupakan pengalaman setiap pribadi selama yang tidak pernah diajarkan dan diperkenalkan secara intens tentang penghormatan terhadap heterogenitas dan pluralitas masyarakat Indonesia dalam menjalani pendidikan. Faktor eksternal adalah realitas bahwa Indonesia adalah negara yang dihuni oleh berbagai suku, berbagai bangsa dan etnis dengan bahasa yang beragam dan membawa budaya yang heterogen serta tradisi dan peradaban yang beranekaragam. Oleh karena itu pendidikan yang untuk membangun bangsa ini adalah pendidikan multikultural yang didasarkan pada beberapa pertimbangan.

 

Pertama, pendidikan multikultural secara inheren sudah ada sejak bangsa Indonesia ada. Buktinya, falsafah bangsa Indonesia adalah suka begotong–royong, saling membantu, dan menghargai antara satu dengan yang lainnya. Kedua,pendidikan multikultural memberikan secercah harapan dalam mengatasi berbagai gejolak masyarakat yang terjadi akhir-akhir ini. Ketiga,pendidikan multikultural menentang pendidikan yang berorientasi bisnis.

Pada saat ini,lembaga pendidikan baik sekolah maupun perguruan tinggi berlomba-lomba menjadikan lembaga pendidikannya sebagai sebuah institusi yang mampu menghasilkan income yang besar dengan alasan untuk meningkatkan kualitas.Keempat,pendidikan multikultural sebagai resistensi fanatisme yang mengarah pada berbagai jenis kekerasan dan konflik horizontal antar etnis.

 

Pertimbangan – pertimbangan di atas, barangkali perlu dikaji ulang bagi subjek pendidikan di negeri kita. Pendidikan di negeri tercinta ini, sepertinya lahir untuk dijadikan alat oleh oknum.Pendidikan dijadikan sebagai instrumen, alat,dan sarana untuk hegemonisasi dan dominasi serta marginalisasi kelompok masyarakat tertentu merupakan realitas yang harus diupayakan pencegahannya. Salah satunya dengan mengembangkan model pendidikan multikulturalisme,yaitu pendidikan yang mampu mengakomodasi sekian ribu perbedaan dalam sebuah wadah yang harmonis, toleran, dan saling menghargai. Inilah yang diharapkan menjadi salah satu pilar kedamaian, kesejahteraan,  kebahagiaan,dan keharmonisan masyarakat.

 

Pendidikan multikultural merupakan sebuah proses pengembangan untuk meningkatkan sesuatu yang sejak awal atau sebelumnya sudah ada. Di samping itu, pendidikan multikultural juga untuk mengembangkan seluruh potensi manusia yang telah ada sebelumnya, seperti potensi intelektual, potensi sosial, potensi moral, potensi religius, potensi ekonomi, potensi teknis, potensi kesopanan, dan tentunya potensi budaya. Karena itu pendidikan multikultural menghargai pluralitas dan heterogenitas serta menjunjung tinggi keragaman budaya, etnis, suku dan agama. Realitas dunia pendidikan kita saat ini, agaknya kurang bersahabat dengan nilai – nilai kemanusiaan, sebagaimana pernah diingatkan oleh Ivan Illich yang menggugat eksistensi lembaga pendidikan  tentang perlunya “re – sekolah – isasi” masyarakat.  

Sadeli Ilyas, Guru SMAN 1 Tanjungpandan (Bidang Studi Sosiologi)