Ceritakanlah kepada mereka kisah dua putra Adam (Habil dan Qabil), menurut yang sebenarnya,maka keduanya mempersembahkan korban, maka diterima salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari Qabil.Qabil berkata , Aku pasti membunuhmu ! .Habil berucap, Sesungguhnya Allah hanya menerima korban orang-orang yang bertaqwa. (Al-Maidah : 27)

Pengorbanan dua anak Adam tidak akan sia-sia jika cucu anak seperti kita ini bisa memaknai peristiwa kehidupan manusia dan kejadian awal dari berbagai peristiwa rumit yang berkembang di dunia terutam cinta, kebencian, pembunuhan dan kekuasaan. Pembunuhan antar sesama manusia ketika dua saudara Habil dan Qobil memperebut cinta yang tak lain saudaanya juga yang dilahirkan dari Adam dan Siti Hawa yang memperebutkan Iklima. Siti Hawa setiap mengandung selalu melahirkan dua orang anak,satu laki-laki dan satu perempuan. Kala itu jumlah manusia baru enam orang, Allah SWT kemudian memerintahkan Nabi Adam agar memberlakukan terjadinya perkawinan secara silang,yaitu anak laki-laki dari kelahiran pertama dinikahkan dengan anak perempuan dari kelahiran kedua. Demikian pula sebaliknya,anak laki-laki kelahiran kedua dinikahkan dengan anak perempuan dari kelahiran pertama.

Surat Al-Maidah diatas menceritakan pertikaian dua bersaudara yang berakhir dengan pertumpahan darah,yang terjadi pada kedua putra Nabi Adam Alaihisalam dan Siti Hawa,yakni Qabil dan Habil. Cerita ini juga menjadi pertanda awal pertentangan dan sekaligus embrio tragedi kemanusiaan.Sebab terjadinya pembunuhan antara Qabil dan Habil,seperti banyak tersebut dalam kitab tafsir yang merujuk pada rentetan kalimat di atas.

Iklima sesungguhnya adalah saudara perempuan Qabil yang merupakan kelahiran pertama Siti Hawa. Sedangkan kelahiran kedua Siti Hawa melahirkan Habil dan saudara perempuannya,Labuda. Bila mengacu pada aturan yang telah ditetapkan Allah,maka Qabil harus menikah dengan Labuda dan Habil menikah dengan Iklima. Tuhan selalu punya rahasia yang tidak diketahui manusia ciptaanNya. Karena ketidaktahuan manusia menuruti kehendak hatinya yang dibiarkan lepas hingga menuju lautan kekuasaan diri yang berlebihan. Egoisme Qabil berkehendak menolak ketentuan Sang Pencipta yang melarang menikahi saudara perempuannya. Namun Tuhan menggantikan dengan ciptaan-Nya yang lain. Qabil diperkenankan menikah tetapi dengan Labuda yang kurang beruntung karena seperti yang dirasakan Qabil, Labuda buruk rupa dibandingkan Iklima, saudara perempuannya. Qabil bersikeras untuk mengawini Iklima,saudara perempuan yang lahir bersamanya.Terang saja Habil melayangkan protes.

Nabi Adam mencoba menengahi masalah pelik ini.Karena Qabil tetap ngotot pada pendiriannya,Nabi Adam pun menyuruh Qabil dan Habil untuk melakukan pengorbanan dari hasil usaha keduanya.Usulan Nabi Adam diterima mereka. Qabil mengorbankan hasil tanamannya yang paling buruk,sedangkan Habil yang berprofesi sebagai peternak kambing mengorbankan kambing terbaik dari hasil ternaknya. Allah menurunkan api kepadanya dan membakar kambingnya. Beginilah Tuhan menerima korban yang dipersembahkan Habil dengan cara Allah.

Isyarat tersebut menunjukkan,Qabil harus menikahi Labuda.Sayangnya Qabil tak mau menerima keputusan Allah SWT.Qabil justru naik pitam dan berniat menghilangkan nyawa Habil.Tak ayal,beberapa saat setelah peristiwa itu,Habil pun tewas akibat ulah Qabil yang jiwanya sudah terselimut emosi.Akibatnya,Qabil termasuk orang yang celaka ,dan Habil tergolong orang yang selamat.Setelah sadar barulah kemudian Qabil menyesali tindakan yang telah diperbuatnya salah.

Seperti dinukilkan dalam Al Quran surat Al-Maidah ayat 27-30,Allah SWT berfirman yang artinya. “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku,aku tidak akan sekali-kali menggerakkan tanganku untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah,Tuhan seru sekalian alam “( Al-Maidah :28)

“Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri,maka kamu akan menjadi penghuni neraka,dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim. ” ( Al-Maidah : 29).

Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya,sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang yang merugi.(Al-Maidah :30). Dari rangkaian cerita di atas,pelajaran penting yang kita petik bahwa munculnya konflik yang berujung lenyapnya nyawa seseorang satu dari sekian faktornya disebabkan sikap membangkang atas ketentuan yang sudah digariskan Allah.Brmula dari sikap tidak ridha inilah,lantas berbagai rentetan penyakit lain bermunculan,seperti hasut,dengki,iri hati,dan lahirnya aneka perilaku buruk yang dapat mencelakakan pihak lain.

Kiranya realitas tersebut dapat pula menimpa siapa pun,tak terkecuali dalam kehidupan masyarakat kita saat ini.Dalam konteks pemilihan kepala daerah misalnya,seseorang beserta kubunya yang tidak siap menerima kekalahannya akan menghalalkan cara untuk merongrong pihak yang menang, mengerahkan massa, menghancurkan kantor-kantor pemerintahan, atau membuat kerusuhan yang berakibat orang lain terluka. Andai kata pihak yang tersingkir menyadari dan menerima lapang dada bahwa ini memang sudah menjadi kehendak Allah, niscaya sikap permusuhan bisa dihindari. Toh,pihak yang kalah belum tentu dianggap kelompok yang hina.

Sisi lain kisah Qabil dan Habil, sesungguhnya Allah SWT ingin menggambarkan sekaligus mengingatkan jati diri manusia yang kadang sok jagoan, merasa jumawa, dan lebih senang mengikuti hasrat hawa nafsunya yang dikendalikan setan. Bila kita mau jujur, jangankan ketokan palu yang dihasilkan oleh sekumpulan manusia, sesuatu yang mutlak datangnya dari Allah saja masih sering dibantah manusia. Manusia memang senang berkelit dan beralibi supaya dapat membenarkan tindakan dirinya, seakan-akan mereka tidak melakukan kekhilafan.Bukankah Allah lebih tahu mengenai skenario perjalanan jagat raya ini, dibanding manusia yang memiliki ragam keterbatasan?

Orang yang menyambut baik apapun keputusan Allah,lantas berprasangka baik kepada-Nya,hakikatnya menjadi orang yang beruntung.Ibnu Masud berkata,Rasulullah SAW bersabda : Laksanakan apa yang diwajibkan Allah,maka engkau akan menjadi orang yang paling taat.Jauhi olehmu apa yang diharamkan Allah,maka engkau akan menjadi orang yang paling berhati-hati.Ridhalah kalian pada ketentuan Allah,maka engkau akan menjadi orang yang paling kaya. (HR.Ibnu : Addi)

Histori Qabil dan Habil setidaknya menjadi pelajaran bagi manusia untuk mengendalikan hawa nafsu dalam setiap kesempatan.Selain itu,lazimnya manusia menyesali kekeliruan langkahnya setelah perbuatan negatif usai, hal ini bisa terjadi karena ketidaktahuan dan kebodohan manusia.Akhir kalam, mudah-mudahan kita menjadi hamba Allah yang senantiasa ikhlas atas kemauan-Nya, berupa menjalankan perintah dan menjauhi segala larangan-Nya (*).

*Penulis adalah Guru Sosiologi SMAN 1 Tanjungpandan