Kata “etos” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengandung arti, sifat, nilai dan adat istiadat atau pandangan hidup yang khas suatu golongan sosial di masyarakat. Etos kerja adalah sifat, nilai, adat atau pandangan hidup yang khas yang memberi watak kepada pekerja.

Kita sebagai manusia terkadang mementingkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup, karena kita tidak dapat berpangku tangan menerima keadaan dengan belas kasihan orang lain. Sebagian masyarakat sekarang ini berpandangan bahwa untuk apa bekerja, yang penting adalah banyak ibadah kepada Allah SWT. Pendapat dan pandangan itu bila dikaji sekilas memang tidak salah, akan tetapi bila kita kaji lebih dalam lagi, hal tersebut kurang beralasan. Sebab Nabi Muhammad SAW bersabda “ Wahai umatku bekerjalah sesuai dengan kesanggupan kalian masing-masing, Akupun juga bekerja”. Dan inilah gambaran yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Jika kita memperhatikan riwayat hidup Rasulullah SAW,maka kita dapat melihat bahwa beliau adalah seorang pekerja yang tidak kenal lelah. Beliau pernah menggembala ternak, bertani, berdagang, menjadi pemimpin sekaligus penguasa. Riwayat ini menjadi suri tauladan bagi kita di segala aspek kehidupan termasuk aspek kerja. Bukan hanya dilihat dari aspek ibadahnya saja . Kerja yang diniatkan sebagai ibadah, Insya Allah mendapat pahala dari Allah SWT. Seandainya umat Islam memiliki pekerjaan yang layak, minimal tidak akan menjadi beban bagi orang lain. Bukanlah Rasul berpesan “ Tangan diatas lebih mulia daripada tangan dibawah”. Ini menunjukkan bahwa orang yang memberi lebih baik daripada orang yang menerima apalagi meminta. Bagaimana kita dapat menjadi orang mulia sementara kita tidak pernah bermanfaat bagi orang lain

Lantas mereka berpendapat lagi, bukankah semakin tekun beribadah, Allah SWT akan menolong kita. “ Pandailah Allah ngatur” begitulah alasannya. Jadi kita tak perlu bekerja katanya. Pendapat ini menurut hemat penulis kurang benar. Sebab apa?, di dunia ini berlaku hukum syari’at dan hakikat. Hakikat bisa timbul setelah ada syari’at. Di dunia ini tidak berlaku ilmu Sim Salabim, seperti di dunia dongeng. Orang dapat uang atau gaji syari’atnya dia bekerja di perusahaan maupun di pemerintahan. Syari’atnya dia bekerja dengan kemampuan. Setelah kita bekerja yang merupakan usaha dan ikhtiar, maka timbulah hakekat, bahwa uang atau gaji tersebut hakekatnya adalah pemberian Allah. Allah tidak semena-mena memberikan rezeki. Dengan adanya syari’at dan hakikat maka kehidupan ini masuk akal dan sesuai dengan logika. Siapa yang bersungguh-sungguh maka dialah yang berhasil. Kita wajib berikhtiar, setelah itu kita berdo’a dan bertawakal. Karena hakikatnya penentu akhir adalah Sang Maha Pemberi.

Allah SWT berfirman dalam surat Al Jumu’ah ayat 10, “ Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatkah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung”. Sebenarnya yang menjadi permasalahan bukan pada pekerjaannya, akan tetapi pada proses kerja. Oleh karenanya , dalam bekerja hendaknya disesuaikan dengan tuntutan. Tidak bekerja berlebih-lebihan tanpa memperhatikan untuk kehidupan akherat.

Namun seringkali kita temui, pegawai-pegawai yang masih bekerja lembur padahal waktu shalat sudah tiba. Orang sudah tidak dapat membagi waktu lagi karena sibuk bekerja. Begitupun ketika mendapat rezeki, kita tidak peduli dengan kewajiban berzakat untuk kehidupan sosial ekonomi umat. Ini menjadi permasalahan.

Nabi Muhammad SAW bersabda ” Beramallah kamu seolah-olah akan hidup selamanya, dana beramalah untuk akheratmu, seolah-olah kamu akan mati esok pagi” Ini tuntunan Nabi.

Oleh karena itu, maka kita tingkatkan etos kerja dalam kehidupan ini, agar pekerja kita berhasil dengan baik, Siapa lagi yang dapat merubah kehidupan ini menjadi lebih baik kalau bukan kita sendiri. “ Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadan yang ada pada diri mereka “ ( Ar Ra’ad ayat 11).

Untuk itu marilah kita sama-sama giat bekerja dalam rangka beribadah, dan berupaya agar tidak menjadi beban sosial (Yasa,S.P)