Motor kuning Pak Pos maju mundur, kesana kemari bertanya tapi tidak ada yang mengenal nama Sulaiman, yang dicari pun “cuek bebek”, maklum saja dikampung dia biasa dipanggil Tulek. Menggunakan nama panggilan bagi warga Gang Perai justru lebih akrab seperti menyendir banyak nama kampong yang di-Indonesia-kan, Aik Seruk menjadi Air Seru, Kampong Parit jadi Kampung Parit. Mungkin karena pembangunan, nama jalan pun dirubah, “jalan ini dulunya dikenal dengan Gang Perai sebelum berubah menjadi Jalan Ali Uyup”.

Jalan Ali Uyup dikenal warga kampung lain bahkan pendatang dari luar Belitung karena dokter-dokter tradisionalnya, mulai dari Afuk-tukang urut dengan pasien bermobilnya, Tupon-peracik cacing untuk obat Typus, Pak Abu-suntik, pensiunan mantri kesehatan yang melayani pengobatan panggilan, Nek Nereme-tukang pijat kura untuk bayi, dan tidak ketinggalan dengan Mak Bos, tukang cabut gigi. Dulu waktu masih menjadi Desa Air Saga, di Tanjungpendam juga dikenal tiga serangkai Dr.Oce-Kik Enjit- Kik Sagap. “Kalo mau medis silahkan berobat ke Dr.Oce yang tak lain anak perintis pertimahan di Indonesia, MEA.Apitule, kalo mau ramuan akar kayu ke Kik Enjit, kalo mau menghalau gangguan mahkluk halus (pedara’an : bahasa Belitong) minta jampi saja ke Kik Sagap “ kata warga menerangkan alternatif pelayanan kesehatan di kampungnya dengan bangga.

Siapa sangka warga desa Tanjungpendam dikenal luas orang banyak mengalahkan dokter-dokter Puskesmas Air Saga. Dari cerita kebingungan pak pos tadi, Warta Praja mengamati sosok tambun perempuan yang dipanggil Mak Bos yang sedang mengemasi ambong pempang dibantu suaminya, Tulek. Perempuan multidimensi ini tidak hanya berprofesi sebagai tukang cabut gigi, tapi juga dikenal sebagai tukang memandikan jenazah, tukang tindik dan tak jarang dipercaya melakukan sunatan bagi anak perempuan.

Karena kesibukan berdagang itu, kelakar Mak Bos dan Pak Tulek dua tahun terakhir masyarakat pun jadi tahu diri meminta pertolongan. Kesibukan sehari-hari wanita yang bernama asli Junainah adalah sebagai perae (penjualan kebutuhan dapur keliling). Sebutan Mak Bos, jangan dikonotasikan dengan kekayaan materi, pasangan Tulek-Mak bos dengan satu anak menempati rumah ukuran tidak lebih dari 4×4. Rumah yang diklafisikasikan Badan Pusat Statisik masuk dalam golongan rumah tangga miskin. Tetapi karena kekayaan ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat sebutan Mak Bos justru semakin mempertegas pelayanan optimal kepada masyarakat. Ilmu jangan terlalu tinggi nanti tidak membumi bukankah agama kita menginginkan ilmu yang bermanfaat kata warga lain menimpali pembicaraan. Yang lain malah mengeluh banyak dokter berilmu tinggi tetapi ongkosnya juga melangit. Tapi kalo dibutuhkan, Mak Bos rela tidak meraup untung sehari berjualan.

Pelayanan optimal

Di KTP tertulis Junainah. Anak ketiga dari tiga belas bersaudara ini memiliki kepandaian mencabut gigi, menyunat anak perempuan dan memandikan jenazah diturunkan dari orang tuanya. Umak (Belitong: Ibu) pada awalnya mempraktekkan cara memandikan jenazah dengan media perantara, baru kemudian didampingi sebelum akhirnya dilepas. Wanita pemandi jenazah perempuan merupakan profesi yang langka, Mak Bos justru menjalani di umur yang relatif muda, 35 tahun. Awalnya Junainah, nama asli Mak Bos tidak pernah berpikir menjadi pelayan masyarakat seperti sekarang ini. Kepandaiannya berawal dari harapan orang tua, agar kelak anak-anaknya bisa merawat dan mengurusi jenazah jika meninggal. Segala urusan rahasia tubuh semestinya hanya keluarga yang tahu. Untuk anak laki-laki ditambah dengan menjadi imam sholat (jenazah). Profesi pemandi jenazah di dusun Perai, Desa Tanjungpendam awalnya dilakukan oleh Cik Jakdiah. Karena alasan umur, profesi pemandi jenazah dilimpahkan ke yang lebih muda sebelum Cik Jadiah meninggal dunia. Pelimpahan jabatan ini di lakukan di Mesjid Jamiek Fathul Qorib.

Seperti memandikan jenazah, kepandaian mencabut gigi juga diturunkan dari orangtua. Awalnya ayah Mak Bos menurunkan kepandaian mencabut gigi ke kakaknya. “tapi ndak tahu ngape, kakak menyerahkan ke aku agik”. ungkap Junainah. Menurut Junainah modalnya hanya memasrahkan diri kepada Tuhan, tanpa melakukan amnestesi (pembiusan), Mak Bos membutuhkan waktu 5 hingga 10 menit sebelum gigi dicabut. Mak Bos tidak hirau dengan berbagai istilah Maal Praktek, amnestesia dan istilah medis lain. Niat membantu menjadi dasar menolong dan Mak Bos selalu berdoa kepada Allah SWT dalam setiap kali melayani warga. Hingga saat ini memang tidak ada yang menuntut karena indikasi kelalaian karena memang Mak Bos sekedar membantu meski dia sendiri kehilangan kesempatan membantu suaminya mencari nafkah.


Berae Lintas Kabupaten

Setengah empat subuh mak bos mulai bangun, dengan modal 1,5 juta perharinya. Selesai sholat subuh perempuan gemuk namun cekatan pergi ke pasar belanja barang-barang dagangan seperti tomat, ikan, kunyit, sayuran dan apa saja yang bisa dijual. Dengan modal sebesar itu, tak pelak ambong pempang pun penuh muatan.

Jam delapan pagi motor cina pun dipanaskan, menjalani lawatan perdagangan. Bangek adalah nama kampong tujuan “ Urang kampong Bangek sampai Aik Ruwak la kenal dengan klakson aku”, ujar Mak Bos mendeskripsikan areal pemasarannya dan kesetiaan pelanggannya. Karena kenyakinan dan untuk menjaga perputaran modal, Mak bos mentargetkan barang-barang dagangan harus terjual. Kalo tidak habis Mak Bss memperpanjang jalur pemasarannya hingga ke kampong Liring, Desa Renggiang. Itu berarti lintas kabupaten, Mak Bos, yang dikomentari hanya tersenyum, tidak hirau dengan istilah-istilah ekonomi kerakyatan yang sering didengung-dengungkan di televisi.

Penjual kebutuhan rumah tangga sehari-hari yang menekuni profesi sejak dua tahun yang lalu, memang tidak banyak menikmati acara hiburan televisi. Biasanya jam sembilan malam baru tiba dirumah, karena esok harus keliling lagi, Mak Bos harus istirahat. Toponim Perai, nama dusun tempat Mak Bos tinggal ini tidak sesuai dengan kehidupan sehari-harinya. Perai (libur) berdagang kalo tidak karena hari libur, pasti karena panggilan memandikan jenazah dari warga atau ada kepentingan mendesak warga yang harus dilayani. Karena kebutuhan warga, Mak Bos menunda rezeki, jika keuntungan per hari 10% dari modal 1,5 juta berarti jumlah keuntungan tertunda sebesar Rp.150.000. Itu hanya dugaan, yang pasti Mak Bos harus membayar arisan Rp.100.000 dan mengangsur motor cina sebesar Rp.400.000 sebulan yang sudah dia kredit dua tahun yang lalu atau seumur dengan pengalamnnya berae keliling kampong.

Istilah berae (mobile traditional trading) dulunya dilakukan dengan sepeda kumbang, seiring perkembangan jaman pedagang keliling sekarang banyak yang menggunakan motor bahkan mobil dengan telepon gengam dalam menjajakan dagangannya. Infrastruktur jalan yang dibangun pemerintah hingga ke kampung-kampung ini membuat peluang usaha disektor informal ini meningkat. Pendatang dari luar Belitung pun bahkan menjual bakso dengan motor begitu pula pengumpul besi bekas. Mak Bos tidak takut bersaing, menurutnya setiap orang sudah diatur rezeki oleh yang diatas. Karena wilayah pasarnya berada di Kabupaten Belitung Timur, kerapkali dia bertemu dengan rekan seprofesinya dari Manggar membawa hail tangkapan ikan yang masih segar tentunya. Mungkin karena banyak warga yang bekerja di TI (tambang inkonvensional Red) dan PT (perkebunan sawit Red), peluang usaha seperti kami selalu terbuka, ungkap Mak Bos berargumen. Bahkan sayuran seperti mentimun, kacang panjang, cabe yang dulunya dihasilkan warga kampung kini dibeli urang darat (sebutan masyarakat yang identik dengan petani). Tak jarang saya menggunakan lampu motor untuk memperjelas timbangan saya. Mak Bos mengunakan klakson sebagai kode promosi dagangannya.

Diakhir kelakar, Mak Bos berharap ada bantuan permodalan dari pemerintah untuk usaha kecil seperti dirinya.Biar Kepak di Tulang Tapi Nyaman di Dulang (Fithrorozi).