Selain dalam pentas seni budaya tradisional seperti Maras taun, Lagu Belitong disajikan dalam instrumen modern seperti Orkes Melayu. Pengertian orkes melayu sering dihubung-hubungkan dengan Semenanjung Malaka atau Malaya (kini Malaysia). Bentuk sajian musik ini diterima sebagai suatu perkawinan yang memadukan antara alat-alat baku musik barat, seperti biola, akordeon, harmonium, gitar, banjo dan lut ; dengan gendang, rebana atau terbangan, Alat-alat ini digunakan untuk iringan nyanyian berciri laras pentatonik 1-2-3-4-7 (Sidik Jatmika : 2002). Menurut Ensklopedi Musik, Penerbit Cipta Adi Pustaka ,1992. Di kalangan orang Betawi (Melayu Jakarta) juga ada istilah Melayu Joged, yang dipakai dalam kesenian tradisional Betawi, yaitu berupa lagu pengiring tari dan samrah yang ditandai dengan gerak yang disebut ”jurus”. Ada pula istilah Melayu Lenggo, yaitu bagian dalam permainan musik tradisional Betawi, samrah yang ditandai dengan gerak yang disebut ”saliwe”.

Pendidikan kesenian sering dihadapkan pada persoalan tidak jelasnya batasan antara mata pelajaran kesenian dan budaya (bahasa ) sehingga terjebak dengan persepsi seni adalah seni, budaya adalah budaya. Keaslian sebuah karya ini yang mendasari sebutan Pencipta meskipun terkesan terlalu berlebihan karena Pencipta yang sesungguhnya adalah Tuhan, apalagi sebuah karya rawan ditiru. Kemiripan lagu Kembang Melati dengan lirik lagu Bumi Musi Rawas, menimbulkan pertanyaan seberapa jauh seniman memadukan dan berkreasi dengan nilai-nilai sendiri.

Bumi silampari Bumi silampari
Bumi yang cindo
Tanah Musi Rawas tanah Musi Rawas
Nan aku cinte…………………

Potongan liriklagu Bumi Musi Rawas ini memiliki kemiripan dengan irik lagu Bunga Melati

Bunga Melati, bunga melati
Dari Belitong……..

Untuk mengenal lagu-lagu Belitong, Warta Praja mengupas sosok Abdul Hadi budayawan sekaligus pencipta lagu-lagu Belitong yang berupa untuk memperkuat karakter Budaya Belitong .
Abdul Hadi, anak SD mana yang tidak mengenal namanya, Ketenarannya menunjukkan keberhasilan pendidikan dalam mengangkat nilai lokal dalam. Abdul hadi dilahirkan di Tanjungpandan, 1 Januari 1935. Selain sebagai pencipta lagu, Abdul Hadi adalah guru sekolah dasar perusahaan tambang timah. Jabatan terakhir beliau, Kepala Sekolah SD,beliau telah memberikan ketajaman melihat kearifan tradisi dan pengetahuan lokal. Pemahaman itu didapatkan melalui hubungan kemasyarakatan yang dialaminya secara langsung.

Pak Hadi, sapaan murid SD UPT Bel III Air Ketekok, Tanjungpandan waktu itu adalah sosok yang mencintai budaya kampung halaman. Tak jarang keluar ungkapan istilah Belitong ketika beliau mengajar, “ Keremut “ komentar melihat muridnya menulis terlalu kecil. Bagi murid yang memiliki kepandaian menyanyi tak segan beliau jadikan mitra untuk menguji coba lagu ciptaannya. Alasan ini pula yang membuat lagu-lagu beliau mudah dicerna anak-anak usia sekolah dasar namun tidak terkesan menggurui.

Kawan-kawan banyak ragam bua bang utan
Bua kayu, bua akar, bua la utan
Sepat kelat masam manis kuang demakan
Cube dedengar benar-benar kan kusebutkan
Rukam, kiras, jemang, rangkas, keremuntingan
Landi’ melak, tungking kijang, bua sisilan
Kelinsutan, kelincakan, kelebantuian
Usa ragu usa takut silekan makan

Lirik “Bua Utan” diatas menyiratkan keinginan kuat memperkenalkan sumberdaya (tanaman) Belitong. Seorang peneliti dari IPB bahkan menjadikan lagu Abdul Hadi sebagai rujukan dalam menyusun laporan ilmiah Doktoralnya . Lagu, juga sangat potensial sebagai media sosialisasi dan edukasi. Lagu Kayu Kayan memberikan pemahaman generasi sekarang mengenai tanaman khas Belitung berikut fungsi dan kegunaan, begitu juga dengan Bua Utan memberikan penekanan pentingnya identifikasi terhadap keanekaragaman hayati yang masih ada di Pulau Belitung

Dimasa itu pengetahuan masyarakat terhadap keberagaman hayati belitong memang tidak selangka masa kini. Bisa jadi masih banyak orang yang memahami kegunaan untuk obat misalnya tetapi pendokumentasian sumberdaya hayati lewat lagu menjadikan etnobiologi tanaman Belitong dikenal luas hingga kini. Lagu Kayu Kayan memperkenalkan jenis tanaman hutan Belitong yang sekarang semakin sulit ditemukan. Seandainya Almarhum Abdul Hadi bisa hidup hingga kini bukan mustahil lagu-lagu beliau akan berbicara akan menyentuh aspek fisiologi tumbuhan, fitopatologi (penyakit tumbuhan) dan manfaat bagi kesehatan.
Kebanyakan dari kita yang hidup di era beton bertumbuh, besi penyebar sinyal HP sekarang ini menyepelekan alam.

Jemang samak pelawan kayu marak de tunu
Mendiraman mensirak kayu urang beramu
Nyato seruk pelempang idang urang mengikat
Medang lubang bedare kayu ubat besedu
Bakau nyire teruntum, kayu tumbo de sungai
Renggadaian berumbun kayu tumbo de amau
Akar ijau berebat, idang urang mengikat
Semuenye kusebut agar muda de ingat

Lirik lagu terkadang berbentuk alur cerita dan hanya sedikit karyanya yang menggunakan bahasa Indonesia. Lagu berbahasa Indonesia umumnya bersifat promosi atau untuk memperkenalkan keindahan alam Belitong ke dunia luar seperti yang termuat dalam lirik lagu Gunung Tajam dan Tanjung Kelayang . Kata-kata Belitong biasanya beliau catat dalam buku kecil, setiap kata tertulis tanggal penulisannya . Ada keinginan kuat mengemas kata-kata Belitong itu menjadi Kamus Bahasa Belitong, sayangnya beberapa hari setelah itu Abdul Hadi guru sekaligus Budayawan Belitong menghembuskan nafas terakhir.
Tentu masih banyak perjuangan Sang pendidik yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Satria Tumbang Ganti ini yang belum selesai, karena itu jangan berhenti ” Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina, dan jadikan ilmu yang kita miliki berguna bagi orang sekitar kita”. Jangan sampai, kisituk endak kisinek endak buang tangga berayun kaki, sebagaimana nasehat Abdul Hadi dalam lagu Mira-Mira Pinang.(Fithrorozi)